Regret (2)

537673_544362105575135_902115729_n

 

 

tumblr_m2yxq06rzq1rn86lwo1_500

 

 

 

Part 2

“Ibu ayo ceritakan lagi tentang ayah,” ujar Songhyun dengan semangat, Eunji yang saat itu sedang menyiapkan makan malam, hanya terdiam ditempat. Sesak dadanya kembali menguar, ini bukan pertama kalinya ia harus menceritakan kebohongan tentang siapa ayah Songhyun. Eunji menaruh sayuran terakhir diatas meja makan. Pak Lee manatap putri angkatnya dengan lembut, lalu mencoba mengalihkan perhatian cucu kecilnya dari pembicaraan ini.

“Hyun… Kau masih ingin bermain di Lotte World?” tawarnya dengan senyum mengembang. Songhyun lalu mengangguk dengan semangat. Kemudian menatap ibunya dengan mata berbinar

“Tentu, aku masih ingin bermain di Lotte World. Apakah kakek akan mengajakku kesana?” Eunji menatik napasnya gusar. Sejujurnya ia belum siap untuk kembali menapakkan kakinya di Seoul. Ia masih ragu untuk kembali menginjakkan kakinya disana. Kenangan kelam itu terus menguar dan terbayang di kepalanya. Dan sungguh ia masih belum bisa untuk menerima resiko seburuk apapun jika ia kembali menginjakkan kakinya disana

“Ibu ? Ayolah, aku sudah mendapatkan juara pertama tadi siang, dan kemarin kemarin aku juga sudah menjadi juara pertama di kelas, Bu aku mohon.”

Eunji menghela napasnya. Melihat rengekan putranya, membuat hatinya luluh juga.

“Baiklah, akhir pekan ini kita akan ke Seoul. Kau puas sayang?” ujar Eunji lembut, sembari mengusap kepala anak itu. Songhyun mengangguk dengan senyuman lebarnya.

 

***

“Kau terlihat kusut akhir-akhir ini. Ada apa?” suara lembut itu membuatnya kembali pada saat ini. Saat dimana ia telah berubah walaupun belum sepenuhnya. Ia ingin merubah dirinya menjadi seseorang yang benar-benar berguna. Walaupun pada kenyataannya itu sulit.

“Hanya masalah pekerjaan. Kapan tugasmu selesai?” Tanya lelaki itu lembut. Wanita didepannya tersenyum lembut, kemudian merangkul lengan lelaki disampingnya.

“Lusa. Tapi sebelum itu aku mau menemui beberapa orang. Kau tak masalah dengan itu kan?” ujarnya manja. Seunghyun tersenyum menggeleng

“Tidak. Apapun untukmu.” ujarnya dengan tenang. Sandara mengangguk.

 

***

“Ibu ayo ke wahana itu” teriak Songhyun dengan lantang. Eunji mengangguk, dan mengikuti langkah kaki anaknya. Mereka mencoba beberapa wahana yang membuat Songhyun terus tersenyum. Beberapa kali, Eunji terlihat tak sanggup menemani putranya. Karena ia terlalu takut pada ketinggian. Dan Songhyun terpaksa mengganti wahana permainan.

Dua jam kemudian, Songhyun dan Eunji memilih untuk duduk disalah satu kursi yang tersedia dibeberapa tempat. Songhyun tersenyum senang, tak henti-hentinya ia mengoceh tentang beberapa wahana yang ada disana. Membuat Eunji merasa lega, beberapa hari lalu ia tak pernah melihat senyum anak lelakinya. Dan sekarang ia melihatnya.

“Ibu kapan kita bertemu dengan Bibi Minjung ?”

Eunji terdiam sejenak. Kemudian melengos sebentar untuk menetralkan perasannya. Jangan sampai Minjung tahu mereka di Seoul. Bisa-bisa Minjung akan mengajaknya untuk menginap, ia harus menghindari itu.

“Bibi Minjung sedang bekerja sayang. Jadi dia tidak bisa menemani kita disini” ujar Eunji merayu putranya. Songhyun menggembungkan pipinya kesal.

“Yah… ibu ayo kita ke jalan-jalan lagi. Hyun ingin melihat lebih banyak lagi. Lalu kita membeli oleh-oleh untuk Jong-in dan In-jo”

Eunji mengangguk, kemudian bangkit dari duduknya dan membimbing Songhyun untuk keluar dari lotte world. Mereka berbelanja dibeberapa tempat yang biasanya Eunji kunjungi. Mereka membeli beberapa peralatan sekolah dan berbelanja beberapa pakaian untuk Kakek Lee.

“Ibu, kemarin Dokter Sandara kembali ke Seoul. Ayo kita mampir kerumah  Dokter Sandara” ajak Songhyun dengan semangat. Eunji tampak sangat ingin menolak permintaan putranya. Namun melihat binar bahagia diwajahnya. Akhirnya ia mengangguk.

“Apa Hyun punya alamat Dokter Sandara ?” Tanya Eunji yang mensejajarkan dirinya dengan sang putra. Hyun mengangguk semangat

“Tentu, sebentar ibu” Hyun tampak mencari secarik kertas yang terselip didalam tasnya. Kemudian mengeluarkannya lalu diberikannya pada sang ibu. Eunji mengejanya. Kemudian, senyum Eunji menghilang seketika, saat melihat alamat Dokter Sandara. Dokter yang selama ini menjadi panutan bagi Putranya. Hyun sangat ingin menjadi seorang dokter yang bisa menyembuhkan semua orang.

“Ibu kenapa diam saja ? Ibu tidak tahu alamat Dokter Sandara ya ?” Tanya Hyun dengan kecewa

Eunji menggeleng lemah, mencoba tersenyum “ibu tahu, kita kesana sekarang ya sayang”Hyun mengangguk. Kemudian mengamit tangan ibunya. Dan berjalan menuju salah satu taxi yang berhenti didepan mereka.

Eunji kembali menatap alamat yang ada ditangannya. Kemudian menghela napasnya. Haruskah ia kembali menginjakkan kakinya di daerah itu? Ia tak mau, jika nanti ia bertemu dengan keluarganya. Semuanya pasti akan berantakan.

Eunji yakin semua orang pasti sudah tenang tanpa kehadirannya. Ia hanya seorang pengganggu diantara mereka. “ibu, kenapa kita tidak tinggal di Seoul saja ?” Tanya Hyun dengan semangat, mata indahnya terlihat sangat menikmati keindahaan gedung-gedung tinggi yang berjejer dipinggiran jalan.

“Ibu, nanti jika ayah pulang, kita pindah ke Seoul ya ? Kakek juga. Jika kakek tinggal bersama dengan kita di Seoul. Pasti kakek akan cepat sembuh” cengiran itu menutup pembicaraan diantara mereka. Eunji memilih diam, dan mengelus rambut putranya.

***

 

“Maaf,” ujar wanita itu lemah. Ia tertunduk bersalah, tak berani menatap lelaki yang ada didepannya. Sandara tahu, semua ini memang salahnya. Memberikan lelaki itu harapan, dan kemudian menghempaskannya kedalam jurang yang paling besar.Seunghyun menahan napasnya sebentar sebelum benar-benar mengeluarkannya dengan gusar. Lelaki itu memandang Sandara yang kini masih tengungu didepannya.

“Sandara, jika kau memang tak mencintaiku, kenapa kau mau menerima lamaran bodoh itu, huh?” suara Seunghyun terdengar frustasi dari pada mengintimdasi. Sandara masih berdiri ditempatnya, dengan lemah, ia mengangkat kepalanya. Menatap Seunghyun yang terlihat marah.

“Aku—“

“Aku tahu apa jawabanmu. Kau masih mencintai Andrew kan? benar dugaanku kan?” cebik Seunghyun dengan nada ketus.

“Aku tak tahu, apa yang kau lihat dari lelaki macam dia. Dia meninggalkanmu dengan putramu sendirian di Seoul. Dia meninggalkanmu saat dia tahu kau sudah memiliki Gerry, dia meninggalkanmu dan memakimu seakan kau itu adalah wanita murahan. kau masih mengharapkannya? dan sekarang kau mau kembali padanya?” teriak Seunghyun lebih garang. Sandara tertunduk kembali, air matanya meleleh. Ia tahu ini tindakan gila yang dilakukannya. Membatalkan pernikahannya dengan Seunghyun tepat seminggu sebelum mereka menuju altar pernikahan.

“Seunghyun-ah” ujar Sandara lirih. ia mendongak menatap Seunghyun. Seunghyun membuang wajahnya kesal. Ia enggan menjawab panggilan Sandara.

“Aku benar-benar minta maaf atas semua ini. Aku juga ingin berterima kasih padamu, karena kau sudah mau menjadi sandaran bagiku dan Gerry.”

Seunghyun masih terdiam, Sandara lalu meneruskan ucapannya. “aku  yakin, kau akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Yang bisa memberikanmu kebahagiaan yang lebih,” Sandara menghapus air matanya. Seunghyun mendecih kesal.

“Jangan pernah katakan hal itu, semua wanita selalu berkata seperti itu jika ingin meninggalkan lelaki. Apa kau tidak punya kata-kata yang lain, huh?” gerutunya sebal.

“Katakan pada lelaki sialan itu. Jika dia memang berniat untuk mengambilmu dariku, suruh dia datang kemari!” Seunghyun lalu meninggalkan Sandara yang terpaku ditempatnya.

 

***

 

“Ibu ayo ketuk pintunya,” ujar Songhyun tak sabaran. Eunji merasa tak enak. Ia mendengar teriakan keras yang berasal dari dalam. Membuatnya berpikir dua kali. Harus kah ?

“Ayo ibu…” Eunji akhirnya mengalah, dan menyiapkan mentalnya untuk mengetuk pintu berwarna coklat itu.

“Siapa?” teriak lelaki itu dari dalam. Membuat jantung Eunji berdetak lebih kencang. Dadanya bergemuruh, teringat akan sosok  yang selama ini sudah dilupakannya. Suara yang sama, dingin dan menakutkan. Eunji masih mengingat bagaimana suara itu. Masih. Dan tak akan dilupakannya.

Klek

“Siapa?” Tanya lelaki itu tenang. Matanya menatap tajam wanita didepannya. Ia meneliti sosok yang ada didepannya. Penglihatannya tidak salah kan? wajahnya masih sama, tak ada perubahan yang mencolok. Dia masih seperti dulu. Masih sama, hanya terlihat jauh lebih matang.

“Hey paman, jangan memandang ibuku seperti itu!” tatapan Seunghyun teralih pada sosok lelaki kecil disamping Eunji. Kemudian ia berdehem pelan. Anak ini. dengus Seunghyun kesal. Tunggu sebentar, Ibu? benar kah wanita ini ibu dari bocah kecil yang tak sopan  seperti dia?

“Songhyun, minta maaf pada Paman. Kau ini. Maafkan Songhyun, kami kemari ingin bertemu dengan Dokter Sandara. Apakah dia ada dirumah?” Tanya Eunji setenang mungkin. Seunghyun berhedem, kemudian mengangguk. Membuka pintu rumahnya lebih lebar.

“Masuklah, dia ada didalam,”

Ujar Seunghyun kembali dingin.

 

***

Eunji merasa tak nyaman dengan tatapan lelaki itu. Tatapannya seakan mengawasi dan  mengintimidasi. Songhyun sendiri sudah mencibir-cibir paman sok baik yang ada dibar ruang tengah.

“Bibi Dokter kenapa harus pindah?” Tanya Songhyun ingin tahu. Tangannya terus mengamit bola coklat yang ada didalam toples.

“Bibi harus menemani anak Bibi selain itu masa tugas Bibi juga sudah selesai. Kau tahu Gerry kan ? yang selalu Bibi ceritakan” ujar Sandara lembut.

“Oh ya aku tahu Bibi” cengirnya dengan hangat. Eunji sendiri tak banyak berkomentar, ia hanya banyak mendengarkan pembicaraan putranya dan Sandara.

“Bibi, apakah Paman itu suami Bibi ?” tunjuk Songhyun pada Seunghyun yang duduk disana. Ia meneguk minumannya dengan pelan dan tenang. Sangat menikmati apa yang ada didepannya. Dan menikmati apa yang ada dikepalanya saat ini. meneliti dan memikirkan rencana apa yang selanjutnya akan dilakukannya pada Han Eunji. Senyum miring khas nya menyeruak.

Sandara menggeleng “Bukan sayang. Dia adalah pamannya Gerry” ujar Sandara lembut. Songhyun mengangguk. Kemudian mengangguk semangat

“Syukurlah. Menurutku Gerry sangat tidak mirip dengan Paman itu. Paman itu menjengkelkan.” Ujar Songhyun seenaknya. Eunji yang mendengarnya hanya menggeleng lemah.

“Songhyun-ya. Jangan bersikap seperti itu” ujar Eunji dengan lembut.

Songhyun hanya tersenyum lebar, membalas teguran ibunya. Sandara  sendiri hanya tertawa pelan. Songhyun memang sangat jujur, entah kenapa, saat melihat Songhyun pertama kalinya, ia merasa Songhyun adalah duplikat dari Seunghyun.

 

***

 

“Lama sekali kau tidak  kemari.” Seunghyun tersenyum kecil, kemudian meneguk vodka miliknya. Ia memperhatikan beberapa orang yang terlihat berlalu-lalang didepannya.

“Katakan padaku, apa yang kau inginkan dariku,” Dragon selalu saja tahu apa yang diinginkannya. Karena itu, ia tak akan pernah berpikir dua kali untuk meminta bantuan dari lelaki bertubuh kecil disampingnya.

“Masalah kecil, hanya mencari indenditas seseorang saja.” Ujar Seunghyun tenang, Dragon terdiam ditempatnya.

“Kau mencari seseorang?” tanya Dragon heran, “apa yang kau rencanakan didalam otakmu, Direktur  Choi? Entah kenapa, perasaanku tak enak,” ujar Dragon pelan. Seunghyun terkekeh pelan

“Sst… tenanglah kawan. Kau hanya perlu mencari siapa yang ingin aku cari. Temukan alamatnya sampai dapat,” ujar Seunghyun pelan. “Well… aku sudah menemukan lokasi kotanya, kau hanya perlu mencari tahu dimana rumahnya. Tidak terlalu berat, ‘kan?”

Dragon menghela napasnya pelan “baiklah, aku akan mencoba mencarinya. Setelah kau menyelesaikan masalahmu dengan orang yang kau cari, kau harus menceritakan semuanya padaku.”

“Baiklah.”

 

***

 

Malam harinya, Eunji terpksa menginap di apartemen kecil milik Minjung, karena Songhyun merengek ingin bertemu dengan Bibinya. Minjung sendiri tak pernah keberatan dengan keadaan mereka, hanya saja Eunji tak enak. Dari dulu ia selalu menyusahkan Minjung.

“Maaf, aku merepotkanmu lagi,” Minjung tersenyum, ia kembali menyedu susu hangat untuk keponakan kecilnya.

“Aku tak masalah dengan adanya kalian. Aku justru sangat senang, karena kalian mau menginap disini. kau tahu kan disini sepi. Aku membutuhkan Songhyun, membutuhkanmu dan Kakek. Tapi kalian tak mau pindah kemari,” ujarnya pelan. Minjung kemudian memberikan susu itu pada Songhyun yang terlihat sangat antusias dengan games baru yang ada di notebook milik Bibinya. Eunji mengikuti Minjung dari belakang, dan duduk disalah satu sofa yang ada diruang tengah.

“Jika kami menurutimu, sama saja kami menyusahkanmu. Aku tahu, kau sudah terlalu sibuk. Jadi kami tak ingin menambah bebanmu lagi. Well bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Eunji mengalihkan pembicaraan.

“Kalian tak pernah menyusahkanku. Pekerjaanku berjalan lancar, Eunji-ya. Kau benar-benar tak ingin bekerja di Seoul? Gajinya lumayan besar, itu cukup untuk pendidikan Songhyun,”

Eunji Nampak berpikir sejenak, kemudian menggeleng. Ia masih belum siap bertemu dengan orang-orang di masalalunya.

“Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi bila kau berubah pikiran, aku akan siap membantumu.”

Eunji tersenyum,”terima kasih”

“Tak perlu sungkan. Kita keluarga Eunji.”

Minjung mengalihkan pandangannya pada keponakan laki-lakinya, meskipun Songhyun terlahir tanpa tahu siapa ayahnya, Minjung selalu menyanginya. Ia sudah seperti anaknya sendiri.

“Dia masih menanyakan dimana ayahnya?” tanya Minjung berbisik. Eunji terdiam, entah kenapa ingatannya  kembali menyeruakkan wajah lelaki yang ada dirumah Dokter Sandara. Hatinya kembali berdegup. Seperti lima tahun yang lalu, saat mendengar suara dingin tanpa perasaan lelaki itu.

“Selalu,dan kali ini semakin gencar. Aku juga tak tahu harus bersikap bagaimana.” Keluh Eunji dengan lemah. Minjung sangat mengetahui bagaimana sulitnya memberikan pengertian pada Songhyun. Anak itu pintar, dan sangat lihai membaca gelagat seseorang. Sangat sulit untuk membohongi Songhyun.

“Saranku, seharunya kau menikah saja,” Eunji terdiam. Kemudian menatap Minjung dengan tatapan terkejut.

“Siapa yang mau menikah denganku? Lagi pula, aku tak bisa menerima pria lagi, kau tahu kan?”tanya Eunji frustasi.

“Benar juga, apa selama ini kau tak punya sosok lelaki yang kau idam kan?” tanya Minjung berbisik. Ia melirik kearah Songhyun yang mulai tergolek diruang tengah. Anak itu sepertinya kelelahan. Karena itu ia memilih untuk tertidur disana.

“Belum, pikiranku masih terfokus pada lelaki itu. Entah kenapa, saat beberapa pria mendekatiku, hatiku memberontak. Dan suara lelaki itu kembali terngiang dikepalaku. Seakan pertanda untuk menolak lelaki-lelaki yang mencoba mendekatiku,”keluh Eunji dengan lemah. Membuat Minjung terheran. Kejadian itu sudah lama sekali, Eunji sendiri baru mau membuka kisahnya saat Minjung memergokinya menangis di halaman belakang. Disana Minjung mengetahui bahwa, Songhyun bukanlah anak yang diinginkan. Tetapi Eunji dengan lapang dada menerima anak itu.

“Aku mengerti,” ujar Minjung pelan, kemudian memeluk Eunji sayang.

 

***

 

Eunji mengeluarkan kalung itu dari dalam tasnya. Haruskah ia melakukan ini? haruskan ia mengatakan bahwa kalung ini adalah pemberian ayahnya? Agar Songhyun mengetahui jika ayahnya masih menyanginya. Walau pada kenyataannya, ayahnya sama sekali tak tahu bahwa ia ada.

Eunji bimbang. Ia meremas kalung itu dengan kuat, dan menarik napasnya dengan tenang. Kemudian berbalik dan menemui Songhyun yang sarapan bersama Minjung.

“Songhyun-ya. Ibu punya sesuatu untukmu,” ujar Eunji dengan senyum di buat-buat. Songhyun meletakkan sendok makannya, dan memandang Ibunya dengan tatapan penasaran

“Kemarin ayah mengirimkanmu ini, coba kau tebak apa yang ayah kirimkan untukmu,”

Minjung terdiam sejenak ditempatnya. Ini gila, Eunji semakin membuat anak itu berpikir yang tidak-tidak.

“Apakah ayah mengirimkan, mainan bu?” tanya Songhyun semangat. Eunji menggeleng

“Tidak, ayah memberikanmu ini,” kalung itu mengalun indah dari tangan Eunji. Berbandul marga CHOI yang terpahat indah dengan bahan perak. Minjung menyipitkan matanya. Ia pernah melihat kalung itu dengan bandul ber marga CHOI. Persis sekali dengan kalung yang ada ditangan Eunji. Tapi dimana? Minjung mengingat-ingat.

“Wah keren sekali Ibu. Ayah memang TOP!”

Minjung terdiam. Benar, itu sama persis seperti kalung milik Bos Besarnya. Kalung kebesaran milik keluarga Choi. Kalung yang hanya boleh dipakai oleh penerus keluarga Choi. Minjung pernah membaca artikel itu disalah satu majalah. Dimana Eunji mendapatkannya? Minjung yakin, jika kalung itu bukan hanya kalung buatan.

“Hmm… ayo pakai” Songhyun mengangguk, dan berlari kearah ibunya. Kemudian, Eunji memakaikan kalung itu pada putranya.

Minjung mengerjap kan matanya dengan cepat, lalu meminum air putih yang ada didepannya. Huh…

“Bibi aku dapat hadiah dari Ayah!” Minjung mencoba tersenyum, dan kemudian melirik Eunji yang terlihat tak enak.

“Hn… kalungmu indah sayang,” ujar Minjung tulus.

 

***

“Jadi?” tanya Minjung saat ia mengantarkan Eunji dan Songhyun keterminal.

Eunji mendesah pelan, sebelum mulai bercerita pada Minjung, “setelah aku sadarkan diri. Aku menemukan kalung itu disana. Hatiku sangat yakin, jika pemilik kalung itu adalah ayahnya Songhyun. Walaupun mataku tertutup tapi hatiku tidak. Jadi aku memilih untuk mengambilnya dan memberikan marga Choi pada Songhyun,”

Minjung mengerti, ia kemudian memeluk Eunji “aku berjanji padamu, aku akan membantumu untuk mencari tahu siapa ayah anak itu,”

“Terima kasih Minjung-ah” Minjung mengangguk.

***

“Bisakah, aku membuat janji temu dengan Direktur Choi?” Minjung bertanya pada salah satu sekertaris Direktur Choi. Wanita itu mengangguk lembut, kemudian mencoba mencocokkan jadwal temu untuk mereka.

“Baiklah, kau bisa menemuinya besok pukul Sembilan. Bagaimana?”

“Baiklah,” ujar Minjung akhirnya.

Ia sengaja mengambil inisiatif ini, karena ia terlalu penasaran siapa ayah Songhyun. Ingatannya kembali pada hari itu, dimana Eunji mengatakan bahwa lelaki itu tak sengaja menjatuhkan kalung dengan bandul bermarga CHOI. Dari bandul itulah Eunji memberikan marga Choi pada putranya.

 

***

 

“Direktur, ada yang ingin bertemu dengan anda,” ujar Miya, saat membacakan jadwal hari ini. Seunghyun tampak mengernyit, kemudian menatap Miya yang sedang menatapnya. Miya berdehem sedikit, tak pernah ada yang menyukai tatapan sang Direktur, karena mata tajamnya itu seolah mengintimidasi.

“Siapa?” tanya Seunghyun lugas. Miya mentapnya ragu

“Lee Minjung, dia assisten pribadi Kepala Cabang di Seoul, ia mengatakan bahwa ada beberapa hal yang harus disampaikannya pada anda,Direktur,” Seunghyun tampak berpikir sejenak. Ada masalah apa di Busan? Sampai seorang assisten pribadi mendatanginya.

“Baiklah, kau katakana pukul berapa aku kosong?”

“Pukul Sembilan ini Direktur,”

“Hmmm…..” ujarnya lalu bangkit dari duduknya “kau boleh pergi. Jika dia sudah datang, langsung masuk saja, aku menunggunya.”

“Baik Direktur, saya permisi.”

 

***

 

“Permisi, saya ingin bertemu dengan Direktur Choi.” Wanita itu tersenyum dan mengangguk

“Mari ikut saya,” ujarnya pada Minjung, Minjung melangkah melewati beberapa ruangan, dan berakhir disalah satu ruangan yang ada disudut. Ruangan yang cukup besar untuk seorang Direktur seperti Choi Seunghyun.

“Silahkan, Nona. Anda sudah ditunggu,” ujarnya ramah.

“Baik, terima kasih.” Minjung mengetuk pintu sopan, kemudian masuk kedalam ruangan, setelah suara itu mengijinkannya.

Minjung memberi hormat, dan kemudian menghampiri Seunghyun yang tengah duduk di kursi kebesarannya. “apa yang ingin kau bicarakan, padaku?” tanya Seunghyun datar tanpa ekspresi. Jika bukan demi mencari tahu siapa ayah keponakannya, Minjung tak akan senekat ini. tak akan pernah.

Mendengar nama Choi Seunghyun saja sudah membuat bulu romanya merinding, dan sekarang ia harus berhadapan dengan lelaki itu. “Eum… saya tahu, saya tak pantas untuk mengungkit semua ini pada anda. Tapi sepertinya saya harus mengatakan, bahwa anda memiliki putra dari seorang wanita muda yang bernama Han Eunji. Maaf jika saya lancang, sebelum saya mengatakan hal ini saya sudah melakukan penyelidikan. Kalung perak dengan marga Choi adalah salah satu buktinya.” Minjung berdehem kembali. Tatapan Seunghyun tak berubah, walau pada kenyataannya lelaki itu masih berpikir keras. Kalung? Benar setelah kejadian itu ia tak bisa mendapatkan kalungnya, sehingga ia harus menempahnya kembali. Tapi kenapa Eunji tak menemuinya? Kenapa baru sekarang?

“Saya tahu, hanya keluarga Choi yang memiliki kalung seperti itu, motif didalam kalung itu rumit. Dan disalah satu sisinya menuliskan nama anda, T.O.P. benar bukan?” senyum sinis Minjung mengakhiri penjelasannya. Seunghyun tak bisa berkelit, benar saat membuat kalung itu ia sengaja menuliskan nama T.O.P disana. Tapi tulisan itu diletakkan disisi yang tak terlihat dengan kasat mata. Hanya orang-orang jeli yang dapat melihatnya. Dan wanita didepannya berhasil menemukan sisi itu.

“Kau pikir aku percaya akan ucapanmu?” ujar Seunghyun bangkit. Ia hanya ingin menguji seberapa besar wanita ini mempertahan apa yang dipercayanya.

“Kau harus percaya, karena….” Minjung tak dapat menerukan kata-katanya lagi. Bayangan Songhyun yang terus menanyakan dimana ayahnya membuat hati Minjung pedih. Dia saja sebagai Bibinya sangat terpukul apalagi ibunya? Yang harus menanggung malu serta kepedihan didalam hatinya. Ia masih ingat bagaimana Eunji menahan tangisnya saat melihat Songhyun menangisi dimana ayahnya, kenapa ayahnya tidak pulang, kenapa ayahnya tak pernah sekalipun terlihat.

“Karena?” tanya Seunghyun dingin.

“Karena kau ayahnya. Hanya ada satu cara untuk membuatmu percaya Direktur Choi. Kau harus bertemu dengan Eunji dan Songhyun. Setelah kau bertemu dengan mereka, mungkin kau akan mengingat bagaimana buruknya dirimu dimasalalu. Saya permisi,”

Minjung bergegas bangkit dari duduknya, dan segera keluar dari ruangan itu. Sosok dua orang itu kembali menghantui ingatan Seunghyun.

“Kenapa bukan Eunji yang kemari?” suara itu menginstrupsi Minjung, Minjung tanpa berbalik menjawab.

“Karena Eunji sudah mengubur anda dengan masalalu kelamnya.”

“Ck” Seunghyun mencibir, “dengar, kau tahu apa tentangku? Jika ibunya saja tak mengharapkan ku kenapa aku harus bersusah payah menemui mereka?” cibirnya tajam. Minjung berbalik, menatap menantang pada Seunghyun.

“Kau tahu, kenapa aku senekat ini? ini semua demi Songhyun. Kau tega membiarkan anak sekecil itu berangan-angan tentang ayahnya? Kau tidak tahu bagaimana sakitnya kami saat melihat Songhyun menangisi ayah bejat sepertimu? Kau juga tak tahukan bagaimana, Eunji mencoba memberikan kesan baik pada Songhyun tentang ayahnya? Selama ini, kami diam. Kami diam, diam dan diam! Tapi Songhyun semakin besar, dia tak bisa dibohongi lagi,”

Napas Minjung tak teratur, karena emosinya yang memuncak. Sedangkan Seunghyun hanya terpekur ditempatnya. Matanya nyalang—tertunduk—menatap lantai. Hatinya mencelos. Bukan karena masalalunya, tapi lebih karena melihat sosok anak lelaki yang dilihatnya kuat, menangis.

Sejahat apapun dirinya, ia tak mungkin membiarkan darah dagingnya kesakitan.

“Apa kau yakin dia anakku? Bisa saja dia—“

“Kau mau mengatakan bahwa Eunji pelacur cilik, huh? Aku tak pernah bertemu dengan lelaki brengsek macam kau. Kau tahu, karena kau ia harus berpisah dengan keluarganya. Ia tak mau menginjakkan kakinya di Seoul. Ia tak mau mendengar apapun tentang Seoul. Dan itu terjadi selama lima tahun, ia seperti katak dalam tempurung. Dan itu semua karena kau, dan sekarang kau mengatakan bahwa Songhyun bukan putramu, dan lebih parahnya kau mengatakan gadis yang kau nodai sebagai pelacur?” teriak Minjung emosi

“Dimana otakmu, Tuan Direktur yang terhormat!”

Minjung keluar tanpa permisi, air matanya sudah tak terbentung. Sakit hatinya semakin parah, padahal ia sudah menyiapkan mental untuk hari ini. tapi mengapa sakit nya masih terasa? Untung saja, ia tak membawa Eunji kemari. Jika ia melakukan hal itu, sama saja menjatuhkan Eunji kedasar lubang yang paling dalam.

 

***

 

Seunghyun masih terdiam.

Sial

Sial

Sial.

Kenapa ia harus mengatakan hal yang diluar kendalinya. Harus nya ia senang, karena Songhyun adalah putranya. Tapi rasa takut itu menghantuinya. Bagaimana jika Eunji tak bisa memaafkannya? Bagaimana jika mereka tak bisa menerimanya sebagai anggota baru dikeluarga mereka?

Kau benar-benar bodoh Seunghyun!

Kau sudah menghancurkan masa depan orang lain demi napsu sesaatmu. Dan sekarang kau mau menebusnya? Memangnya apa yang kau punya? apa kau masih pantas menebusnya? Apa kau masih memiliki wajah untuk bertemu dengan mereka? dengan anakmu, dengan ibu dari anakmu?

Alam bawah sadarnya berteriak tak terima.

Seunghyun kesal, kemudian menghempaskan tangannya pada meja kaca yang ada disampingnya. Lumuran darah bercampur dengan serpihan kaca. Bukan sakit fisik yang ia rasakan, melainkan sakit hati yang menganga.

 

***

“Kau berkelahi lagi?” tanya Sandara dengan lembut, saat membalut luka ditangan Seunghyun. Lelaki itu menggeleng, ia enggan menjawab pertanyaan Sandara

“Lalu kenapa tanganmu terluka?” Sandara tak henti bertanya pada Seunghyun. Lelaki itupun enggan menjawab kembali.

“Apa alasanmu menerima Andrew?” Seunghyun bertanya dengan nada datar, dan tanpa ekspresi. Membuat Sandara terdiam, ia meletakkan kain kasa diatas meja. Kemudian menatap Seunghyun.

“Kata orang, pilihan hatimu adalah yang terbaik. Dan aku memilih itu, Gerry membutuhkan sosok ayah. Dan aku tak ingin kau terbebani dengan adanya Gerry. Aku tahu, walaupun Gerry dank au sangat dekat tapi perbedaan itu pasti ada,”

Sandara berdiri, ia memilih untuk meninggalkan Seunghyun.

“Sandara…” panggil Seunghyun, Sandara berbalik.

“Kenapa kau bisa memaafkan Andrew? Lelaki yang jelas-jelas menghancurkan hidupmu, yang jelas-jelas sudah mencampakkanmu?” Sandara terdiam. Kemudian tersenyum

“Kau pernah dengar ‘kan, seorang wanita selalu bertindak atas perasaan dan kadang tanpa logika. Dan seperti itulah aku,”

Seunghyun terdiam.

Mungkin ‘kah Eunji bisa memaafkannya?

Ia harus mencoba, sebelum terlambat. Seunghyun meraih ponselnya dan menghubnungi Dragon, mungkin lelaki itu sudah mengetahui dimana alamat rumah Eunji.

 

***

 

 

“Ibu lihat, bagus ‘kan? Aku menggambar ini untuk ayah. Ini ayah, ini ibu, dan ini aku. Ibu aku terlihat keren ‘kan?” Songhyun menunjukkan gambar coretannya pada Eunji. Wanita itu tersenyum, mengelus rambut Songhyun. Tak sengaja matanya menatap bandul perak dengan tulisan Choi. Apakah caranya ini berhasil?

Entahlah, Eunji yakin suatu saat anaknya akan bertemu dengan ayahnya. Walau pada akhirnya mereka tak bersama.

Ketukan pintu didepan membuat Eunji tersadar, dan menatap Songhyun. Anak itu lalu berlari kedepan. Membuka pintu rumah mereka.

“Paman?” ujarnya tak yakin.

Lelaki itu tersenyum, kemudian mensejajarkan dirinya dengan Songhyun, tanpa aba-aba ia memeluk Songhyun dengan erat.

“Paman aku sesak, Paman ini kenapa sih?” gerutu Songhyun tak terima. Seunghyun terkekeh, kemudian mengelus rambut anak itu.

“Siapa Hyun?” Eunji menampakkan dirinya dibalik pintu. Nafasnya tercekat, saat mengetahui yang ada didepannya adalah lelaki itu. Lelaki yang membukakan pintu untuk mereka saat dirumah Dokter Sandara. Untuk apa lelaki itu kemari?

Jantungnya mulai berdegup dengan kencang, entah kenapa rasanya ia tak asing dengan lelaki didepannya. Lelaki itu terdiam, ia menatap Songhyun—yang juga menatapnya dengan heran—kemudian menatap Eunji yang terlihat kaget. Seunghyun berdiri, bibirnya kelu untuk memulai pembicaraan.

“Ada yang bisa kami bantu?”Eunji memulai pembicaraan dengan tenang.

“Ya—“ ujar Seunghyun.

“Songhyun, ajak Paman masuk, ibu mau membuat air dulu,” Ujar Eunji cepat, Songhyun mengangguk. Saat Eunji ingin kembali kedalam, suara itu mengistrupsinya.

“Tunggu sebentar, ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Han Eunji,”

Apakah ini hanya perasaannya, suara lelaki itu mirip sekali dengan lelaki yang pernah menghancurkan hidupnya. “Songhyun, kau bisa panggilkan Kakek?” ujar Eunji pada anaknya. Bocah itu mengangguk, kemudian meninggalkan mereka dirumah Kakek Lee.

“Siapa kau? Apa aku mengenalmu?” tanya Eunji penuh selidik. Keberanian Seunghyun seketika menguap, ia ingin mengatakan kebenaran, namun hatinya terlalu takut, bibirnya kelu. Ia hanya dapat memandang Eunji—yang menatapnya tajam—dengan kaku.

“Kau… kau tidak mengenalku. Tapi, kita memiliki ikatan,” suara Seunghyun terdengar parau, ia menatap Eunji dengan lemah. Sial kenapa semua tidak sesuai dengan rencannya?

“Ikatan? Kita tak saling kenal, lalu kenapa kita memiliki ikatan?”

Seunghyun terdiam, ia mencoba untuk memilih kata yang tepat, agar nantinya wanita itu tak tersakiti lagi.

“Songhyun ikatan kita.”

Eunji mengatupkan bibirnya. Seunghyun terdiam ditempatnya. Beberapa detik mereka lalui untuk saling mencerna dan memahami situasi yang ada disini. Eunji masih tak bergeming dari tempatnya semula, matanya hanya menatap nanar Seunghyun.

“Untuk apa kau kemari?” suaranya nyaris tak terdengar, matanya mulai berkaca-kaca, namun ia tahan. Ia harus kuat, jika ingin Songhyun disisinya. Eunji yakin, jika kedatangan Seunghyun kemari adalah untuk mengambil Songhyun.

“Untuk menebus semua kesalahanku.” Seunghyun melangkah, Eunji berteriak

“Tak ada yang harus kau tebus, pergilah!” Usir Eunji dingin, Seunghyun terdiam ditempatnya. Ia menatap punggung Eunji yang perlahan meninggalkannya. Seunghyun terdiam ditempat, dia tak menginginkanku. Apa yang harus aku pertahankan lagi disini?

“Maaf anak muda, ada yang bisa saya bantu?” Seunghyun berbalik, Kakek Lee berdiri didepannya. Seunghyun memandang Songhyun yang menatapnya dengan tak suka. ‘benar-benar aku’ ujarnya dalam hati.

“Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan pada Paman. Hay Songhyun,” sapanya lembut, anak itu membuang muka dengan sebal. Kakek Lee menjadi tak enak, sedangkan Seunghyun hanya terkekeh kecil.

“Hyun, jangan seperti itu. Ayo minta maaf.” Ujar Kakek dengan lembut

“Tidak apa-apa Paman. Bagaimana Paman, apakah Paman punya waktu?”

“Baiklah, Hyun… masuk sana, buatkan kami air ya,” ujar Kakek Lee lembut. Melihat keceriaan yang terpancar dari dalam diri mereka Seunghyun makin berkecil hati. Apa yang harus dilakukannya? Menyerah atau tetap memeperjuangkan apa yang ia ingin ‘kan?

“Silahkan duduk, nak,” ujar Kakek Lee dengan penuh sopan santun, lelaki paruh baya itu tersenyum, walaupun ia sudah dimakan usia, Kakek Lee tetap terlihat kuat.

Seunghyun duduk disamping lelaki itu, “Paman, ada beberapa hal yang harus katakan,” ujar Seunghyun bersungguh-sungguh.

“Katakanlah,” Kakek Lee kembali tersenyum.

“Mungkin ini terlambat, tapi aku harus mengatakan ini. aku adalah ayah Songhyun. Dan aku kemari untuk mempertanggungjawabkan apa yang aku perbuat Paman,”

Kakek Lee tetap diam,mendengarkan cerita itu sampai tuntas.

“Aku tahu perbuatanku dimasalalu memang salah, dan sudah menghancurkan Eunji, tapi aku ingin menebus semuanya,”

Brak

Seunghyun dan Kakek Lee lalu memalingkan pandangan mereka pada Eunji yang sudah menggebrak pintu dengan kasar “aku sudah mengatakan padamu, pergilah. Tak ada yang harus kau tebus disini.” amarah Eunji sudah dipuncak.

\

***

Berani sekali lelaki itu kemari, dan dengan mudahnya Ia mengatakan untuk menebus semuanya. Dia berpikir aku adalah wanita murahan?

Eunji merutuk keras dalam harinya. Songhyun menghampirinya. “Ibu kenapa menangis? Ibu apakah yang Paman itu katakan benar? Apakah Paman adalah ayah Songhyun? Kenapa dia tidak memeluk Hyun ibu?” Songhyun berhambur dalam pelukannya, Eunji mengelus kepala anak itu. Apakah lelaki itu tidak tahu, akibat apa yang ditimbulkannya pada diri Eunji dan Seunghyun?

“Ibu, aku ingin bertemu ayah, ibu….” Isak Songhyun. Membuat hati Eunji terasa pilu.

“Hyun buatkan air dulu untuk Ayah dan Kakek ya,” pujuknya. Hyun mengangguk, dan kembali ke dapur. Terpaksa, ia terpaksa mengatakan kebenaran yang selama ini ditutupinya.

Eunji melangkah keruang depan, menuju ruang depan dengan tenang,.sedikit banyak ia menangkap kemana arah pembicaraan dua orang lelaki itu. Eunji semakin saat lelaki itu hanya ingin bertanggungjawab. Bukan itu yang ia inginkan, ia hanya ingin lelaki itu dengan tulus menerima Songhyun. Bukan karena tanggungjawab.

Brak

Seunghyun dan Kakek Lee lalu memalingkan pandangan mereka pada Eunji yang sudah menggebrak pintu dengan kasar “aku sudah mengatakan padamu, pergilah. Tak ada yang harus kau tebus disini.” amarah Eunji sudah dipuncak.

Seunghyun terdiam, begitupula dengan Kakek Lee. Beliau cukup kaget, melihat putri angkatnya besikap seperti itu. Kakek Lee bangkit dari duduk nya menghampiri Eunji yang sepertinya tidak terkontrol. Seunghyun juga ikut berdiri. Ia melihat bagaimana terlukanya wanita itu, Ia tak bermaksud untuk membuat Eunji seperti itu.

“Eunji-ya. Ingat Songhyun, kau tenangkan dirimu dulu. Kakek akan berbicara pada pemuda itu. Bagaimana? Ayolah, tenangkan pikiranmu, lalu kita akan bicarakan semua ini dengan baik-baik,”

Eunji mengatur napasnya dengan kesal. Kemudian mengangguk. Kakek Lee dan Seunghyun bernapas lega.

 

***

 

Mereka berjalan di tepian garis pantai, Seunghyun terlihat kusut. Baru kali ini ia menghadapi masalah yang pelik, yang tak bisa ia selesaikan hanya dengan kekuasaannya. Kakek Lee dengan setia memberikan beberapa petuah tentang bagaimana jalan hidup yang akan dilaluinya, serta memberikan beberapa saran agar ia tak terlalu memaksakan apa yang ia mau.

“Kakek paham apa yang kau rasakan. Tapi kau juga harus mengerti bagaimana sakitnya Eunji saat kau tak ada disampingnya. Saat itu kakek menemukan Eunji dipantai ini. dia sendirian, ia hanya bisa menangis. Kau bayangkan saja, gadis belasan tahun seperti dia, harus menanggung semuanya. Kau bisa bayangkan itu ‘kan?” tanya kakek dengan lembut. Seunghyun menatap lelaki tua itu dengan lemah. Ia paham, dan kenapa hal itu baru terpikir olehnya pada saat ini. penyesalan memang selalu datang terlambat ‘kan?

“Besok kau temui dia, disaat semuanya sudah benar-benar membaik, kau katakan apa tujuanmu, Paman tahu, kau berniat baik anak muda. Tapi semua itu perlu waktu, kau paham?” Seunghyun mengangguk.

 

***

 

“Aku tahu, aku bersalah padamu. Aku hanya bajingan sampah yang membuat hidupmu kacau. Aku paham, bila kau tak bisa memaafkan ku, karena aku sendiri juga tak bisa memaafkan diriku. Maksud ku kemari untuk berdamai denganmu, demi Songhyun, Eunji-ssi,”

Seunghyun menyelesaikan kalimatnya dengan lugas. Keberaniannya sudah kembali. Dua hari ini, ia melihat keseharian mereka secara diam-diam, mengamati Songhyun dari jauh, dan mengawasi Eunji. Hatinya kecilnya memberontak, seharusnya ia tak menghancurkan kebahagian mereka, seharusnya ia enyah saja. Tapi, ia punya tanggungjawab atas kebahagiaan putranya.

Songhyun, sedari kecil anak itu tak mendapatakan kasih sayang seorang ayah, ia hanya bisa bernagan-angan. Ia hanya bisa menghayal. In-joo menangis saat menceritakan bagaimana, Songhyun yang di olok-olok oleh teman sekolahnya,hanya kerena mereka tak pernah melihat ayah Songhyun.

In-joo juga bercerita, bagaimana para anak tetanga selalu mengucilkannya. Tapi apa yang dilakukan anak itu, ia tetap bertahan. Seunghyun salut dengan keberanian putranya.

Eunji menyesap teh nya kemudian menatap Seunghyun dengan lebih tenang, “Kau mengatakan seolah kau tahu bagaimana rasa sakit yang kami hadapi Tuan. aku dan kau tak pernah mengenal, dan selamanya hanya seperti itu. Masalah Songhyun, aku bisa mengatasinya sendiri. Kau tak perlu ikut campur,” Eunji bangkit, dan hendak meningglkan Seunghyun di kedai kopi itu, namun lagi-lagi Seunghyun mencoba untuk menahannya.

“Aku belum pernah memohon seperti ini. tapi demi  Songhyun, aku berani berlutut padamu. Aku tahu, sikap ku ini tak mungkin bisa menyembuhkan luka hatimu. Tapi aku mohon, jangan pernah tempatkan Songhyun diantara kita tanpa status seperti ini. cepat atau lambat, anak itu pasti tertekan. Kau tahu, ia akan terlihat baik-baik saja saat bersamamu, tapi dibelakangmu… kau tak pernah tahu ‘kan bagaimana ia membela diri saat teman-temannya mengejek, saat teman-temannya memandang dirinya rendah?”

Eunji berusaha menahan air matanya. Ia tahu itu, namun selama ini ia hanya berusaha menutup mata dan telinganya. Ia tahu, bagaimana anak itu sesunggukan menangis, bagaimana anak itu bertahan diantara teman-temannya yang memiliki keluarga sempurna.

“Berikan aku kesempatan, untuk menebus semua rasa bersalahku. Untuk mengobati semua luka aku buat untukmu, untuk menghapus air mata Songhyun dan untuk mengembalikan kecerian putraku,” Seunghyun bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Eunji. Ia bersimpuh, untuk pertama kalinya demi putranya dan demi ibu dari anaknya

 

***

 Minjung tersenyum haru, melihat bagaimana mereka bertiga bisa bersama kembali. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk memulai semuanya dari awal. Eunji akhirnya mau menerima tawaran Seunghyun. Dengan beberapa syarat tentunya.

Pernikahan mereka digelar, sebulan setelahnya. Pernikahan yang sederhana yang tercatat di catatan sipil dan dinikahan di salah satu gereja yang ada di pulau itu. Eunji dan Seunghyun sepakat jika waktunya sudah tepat, mereka akan mengumumkan berita bahagia ini.

Pada awalnya semua berjalan kaku, perang dinginpun tak dapat dihindari, namun dengan inisiatif yang Seunghyun lakukan, mereka bisa menjadi keluarga yang hangat walau tak bisa dikatakan harmonis. Karena ia selau bersitegang dengan Songhyun jika menyangkut Eunji.

“Aku benci dengan ayah!” kesal Songhyun. Padahal niat awalnya  ingin mengajak Sujin kencan, tapi karena ayah nya yang sok tahu.semua gagal. Eunji hanya menggelengkan kepalanya, sudah ketiga kalinya, Seunghyun dan Songhyun bertengkar hari ini. kenapa mereka tak bisa akur?

“Kenapa lagi?” tanya Eunji lembut

“Ibu lihat saja ayah, dia itu sudah tua ibu, kenapa dia mengajak Sujin ke taman bermain?” sungutnya,”Ibu, kau tak ingin ‘kan suamimu yang keren itu menjadi seorang paman-paman genit?” kompornya. Eunji tertawa kecil.

“Kau ini, baiklah Ibu akan membantumu, tapi kau harus janji pada Ibu, berhenti mengatakan ayahmu Paman-paman genit, karena itu sama saja mengatakan jika kau anak kecil yang genit,” Eunji menyentil hidung anaknya, lalu menghampiri Seunghyun yang duduk dengan Sujin ditaman depan.

“Sujin-ya, Hyun oppa ingin mengajakmu bermain, kau mau’kan?” ujar Eunji membujuk. Anak kecil berumur empat tahun itu mengangguk, kemudian memandang Songhyun yang berada didepan mobil merah milik ayahnya.

“Paman genit, berhentilah menggoda calon menantumu. Kau tahu ‘kan Songhyun itu pecemburu akut,” ujarnya tajam. Seunghyun terkekeh geli. Ia hanya ingin menggoda putranya, Seunghyun sangat tahu, jika Songhyun itu adalah pecemburu akut.

“Aku tahu, well… kau masih tak ingin ikut aku ke Seoul?” tanya Seunghyun dengan serius. Eunji menoleh sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya pada Songhyun dan Sujin yang ada disana.

Seunghyun menyelipkan lengannya dipinggang sang istri, kemudian mengecup pipinya pelan. “aku mengerti, sepertinya aku harus mengalah lagi.” Desahnya lemah. Eunji terkekeh geli,

“Well kau tak mau memberiku bonus karena bertahan di Seoul selama seminggu tanpa kau?” ujarnya tepat ditelinga sang istri. Eunji hendak mengelak, namun dekapan Seunghyun lebih erat.

“Kau mau apa?” tanya Eunji pura-pura tak tahu, Seunghyun memutar matanya jengah

“Kau tahu dengan jelas apa yang aku mau, Nyonya. Jadi, kau mau didalam? Dihotel? Atau di— yak,” Seunghyun kesal, ia berbalik dan menemukan Minjung bersama suaminya disana.

“Ck… berhentilah melakukan skinship didepan umum. Memalukan,” ejeknya. Membuat Eunji tertawa pelan, dan Seunghyun hanya menekuk mukanya kesal.

“Jangan pedulikan penganggu, kau mau dimana?” ulang Seunghyun dengan santai, Eunji merona.

“Terserah padamu,”

Seunghyun memamerkan senyum khasnya. Ia menarik lengan Eunji untuk masuk kedalam mobil ferari merah miliknya. “Hyun-ah… ayah dan ibu pergi dulu ya. Kau baik-baik dengan kakek, oke. Nanti ayah belikan kau psp terbaru,” tanpa menunggu jawaban dari putranya, Seunghyun lalu meninggalkan kediaman Kakek Lee.

“Dasar laki-laki genit,” sungut Songhyun kesal. Sujin menoleh menatap oppa nya dengan seksama

“Genit itu apa, oppa?” ujarnya penuh tanya.

Songhyun menggaruk kepalanya yang tak gatal “Sujin-ya. Genit itu tidak baik oke. Ayo  kita main lagi, Sujin jadi ibunya ya, oppa jadi ayahnya,”

“Ne.” angguk anak itu semangat.

“Kau juga harus memanggilku, yeobo,”

Lagi-lagi Sujin hanya mengangguk mengerti. Anak kecil yang malang, “bagus, yeobo.” Ujar Songhyun dengan senyum lebar.

“Yak! Choi Songhyun, jangan ajarkan adikku yang tidak-tidak. Awas saja kau ya,” teriak seorang bocah lelaki dengan rambut berwarna cokelat muda. Gerry.

“Kau tenang saja,” balas Songhyun licik.

 

***

“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, benar ‘kan Minjung,” Minjung menoleh, kemudian mengangguk dengan senang

“Like Father like son,” ejek Minjung dengan geli

Sandara juga tersenyum geli, melihat Gerry yang sepertinya tak senang adiknya dimanfaat kan oleh Songhyun.

 

***

“Eunji-ya… aku belum pernah melakukan itu di alam terbuka, kau mau mencobanya?” iseng Seunghyun yang langsung di hadiahi oleh heels istrinya.

“Lakukan saja dengan beruang hutan sana!”

 

***

Anyway ini uda the end….

Hahaha… saya minta maaf apabila ada kesalah dan lain-lain… ini adalah fiksi murni dari kepala sya…

Dan masalah SIM, sorry,aku belum bsa ngerjain itu dalam wktu dekat… ahahahahaha…

See u again.. 🙂

Tiga Juli Dua Ribu Tiga Belas ^.^

 

Iklan

32 thoughts on “Regret (2)

  1. syari berkata:

    akhirnya selesai…q sebel nunggungya ampe sebulan lebih,SIM nya udah 2 bulan lebihh….haddechhhhh…

  2. anggrainimiranti berkata:

    ahahhahah lucuu vi, songhyun copycat bapaknya banget deh. aku juga gak nolak kalo dibikinin songhyun sama tabi. 😀
    eii, ini regret udah selesai, sim nya masih ditunggu ya, nanti imbalannya gosip panas yg kemaren..*kabuurr

    • Vii2junshu_kim berkata:

      ishhhh…berii dulu berita panasnyaa… huwaa….
      tetehh… aku gigit beneran ahh si teteh ni ya… xD

      ya yaya ya…
      ini saya bkin ditengah kegundahgulanaan saya,,,, 😦 hikss…
      i need papy soo much much muchh…
      \jiakakakakakaka xD

  3. Shin Min Mi berkata:

    suka banget ma endingnya.. ngena & romantisnya g ketinggalan he8
    btw yg Broken married kapan mau dilanjutin lagi…..? dah nunggu lama banget ni, yang SIM juga.. ditunggu lo.. kajja
    gomawo… 🙂

    • Vii2junshu_kim berkata:

      uughhhh,,,,
      gimna ya, sim belom ada saaya ketik satupun, jadi ya…
      huaakakakaka..
      masih gantung, :p
      tapi sya usahain bwat ngerjain oceee…
      sabaar ya, certanya uda gaje jrg bgt d publish xD

      • Shin Min Mi berkata:

        yang broken married juga dong… please please please…. aku suka bgt ma cerita dan cast utama prianya .. yayayay…?
        jebbal… he8

  4. An mimi berkata:

    Kyaaaaa end…..:( gak apa tapi keren.. Sujin kasian sekali dirimu nak…..:) geli sendiri bacanya bayangin top oppa bertengkar sama anaknya kekekekekeke ff keren saya suka makasi ya……;)

  5. LoveCoffee berkata:

    Huaaaaa vivvivikim’s
    ternyata happy ending u,u

    tapi syg momen canggung.a gak diceritain..

    Smga cpt kelar yh SIM.a 😀

  6. kyumikr berkata:

    wahh jadi keluarga akhirnya. nice bgt deh seunghyun :*
    SIM nya tetep aku tunggu deh sampe jamuran juga gak papah wkwk
    wait for another story..

  7. qoyah cassie berkata:

    kok lgsung end si eonn?????hhhohoooo pdhl kan lg seru sma kata ‘genit’ hhahahaaa..
    Bru aja ak mau ingetin SIM dikomen eh si eonnie mlah udh buat pengumuman duluan,,ydh dtunggu ya sim nya,,hhhoooohoo n thank you udh nulis ff so sweet ini,, wkwkkk

  8. purple281000 berkata:

    Endingnya poll banget dah
    Lucu+so sweet+twistnya mantep!
    SIM nya bakal kutunggu dengan sabar kok 😉

  9. Nur berkata:

    KEREEENNN!!! 😀 oenni…. Aku suka konflik.y & ending.y

    fanfic.y oenni smua.y bagus2, crita.y beda dr yg lain, nggak bikin ngantuk aku baca.y! 🙂

  10. Lia adelia berkata:

    Nde? , ini udh end
    eunji kan blom ketemua sama keluarganya, keluarga eunji juga blom tau tentang eunji yg udh nikah? trus pernikahannya juga blom di publish kan
    trus tentang satus ny seunghyun yg sebagai gangster gmn?

    Harus ada sequel ini

  11. Kim Hyewon berkata:

    dah lama ngak lihat updetan di sini….
    akhirnya ketinggalan deh 2shot nya -_-
    lansung tancap gas selesein hehehe….
    kaget loh…vii nulis yg senghyun hehehe..
    dan melupakan SIM yang udah q tunggu ampe jamuran gini
    yah asal ceritannya bgs no problemooo

    jgn lupa updetan SIM nya ditunggu yah…

  12. Yekyu berkata:

    uda end, aduh saya cuma bisa baca part 2.ya aja,
    hehehehe
    happy end
    .
    Ih seunghyun oppa genit, ckckck, songhyun nya juga ikut genit, maklum gen *lirik seunghyun

  13. g.elf@zOld berkata:

    😀

    tak adakahh sequelnya??

    ahhh knapa uda end?? q pengn ngrti rumah tangga T.O.P dan eunji, uhmmm dann anakknya yg err..
    dewasa sebelum waktunya

    kkkkkkk 😉

  14. lestrina berkata:

    Ceritanya bgs n happy ending. Part 1 di protect, lupa awal ceritanya krn dh pernah baca tp lom komen or dh komen juga atau blm pernah baca…lupa lupa. Dipart 2 ini, perjuangan seunghyun untuk bertanggung jawab… Dia emg gentle n keren dech. Bapak n anak sama aja, sama2 genit n jahil.. Keren dech cerita, eon suka. Hmm tp eon boleh minta pw part 1 ya, pengen baca. Eon dh mention di twitter saeng, dtunggu ya pw ya. Gumawo

Your Comment become spirit for me ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s