Always be Mine (Last Chapt)

Nggak Dilarang Ngamuk, asalkan memakai bahasa yang sopan.. Thankss… ^ ^

 

Tap tap tap

Bunyi derap langkah itu memenuhi lorong rumah sakit, beberapa perawat yang berjaga langsung bersiaga menyiapkan ruang gawat darurat untuk sang pasien yang baru dibawa kerumah sakit ini.

Beberapa perawat itu, langsung membawa sang pasien untuk segera ditangani tim dokter.

Lelaki paruh baya itu tampak pucat, wajahnya menyiratkan luka dan beban yang besar. Dengan harap-harap cemas ia menunggu didepan ruang gawat darurat, ia hanya bisa bedoa didalam hatinya, melantunkan lafas agar wanita  yang berada didalam, tidak mengalami luka yang sangat serius.

“Ayah ?” lelaki itu mendongak, melihat anak lelaki bungsunya dengan tatapan nanar. Ia hanya bisa merekam kejadian yang terasa begitu cepat. Ia tidak bisa membantu menantunya, ia hanya melihat. Entahlah, kejadian ini mengingatkannya lagi pada kejadian masalalu itu. kejadian kelam dalam keluarganya, akankah masa kelam itu kembali lagi sekarang ? pikirnya bekecamuk. Ia hanya bisa memeras rambutnya dengan gusar, dan kasar. Wajahnya tampak kusut dan stres.

Akhirnya dengan rasa iba, sang putera enggan bertanya lebih lanjut. Ia memilih untuk menelpon polisi yang mengurus kasus ini, dan sungguh. Ia harus merahasiakan kejadian tak mengenakan ini pada sang kakak yang sangat sensitif. Apalagi mengenai sang isteri.

Park Yoohwan—lelaki itu berdiri. Membelaki ayahnya yang terlihat sangat tak layak. Ia akhirnya memutuskan untuk membawa sang ayah bertenang diri. Dari pada ayahnya nanti akan jatuh sakit, dan membuat fokus mereka menjadi dua.

“Ayah, sebaiknya, ayah dirawat juga, lihatlah lengan dan dahi ayah” tawar Yoohwan dengan nada pelan. Sang ayah hanya menggumam mengiyakan. Pikiran lelaki yang bisa disapa Tuan Park hanya melanglang pada sang menantu yang meregang nyawa disana.

Dengan kesepakatan pihak rumah sakit, Yoohwan segera menidurkan ayahnya yang terlihat pucat pasi.

Yoohwan menghela napasnya berat. Ini sungguh bukan persoalan yang biasa. Ia mengambil alat komunikasi dari dalam saku jasnya,. Dan menghubungi pihak kepolisian untuk meminta keterangan lebih lanjut.

***

Yoochun menekan pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Ia kembali memfokuskan pikirannya pada tumpukan kertas yang terjejer rapi diatas mejanya. Ia ingin segera menunaikan niat awalnya. Segera pulang ke tanah kelahirannya, dan membangun sebuah istana nan megah bersama sang isteri.

Tapi sepertinya niat itu hanya akan menjadi niat. Karena baru ia mendapat kabar, ada beberapa kejanggalan dalam perusahaan yang mengharuskan ia untuk menetap lebih lama di kota ini.

Yoochun kembali meletakkan kertas putih itu, lalu menyesuaikannya dengan copian data keuangan yang ia pegang. Terjadi perbedaan antara neraca tahun lalu dan neraca tahun ini, jika perbedaan jumlah dana itu sedikit, mungkin ia bisa mentolerir, tapi ini. hampir 35% anjlok.

Padahal menurut data penjualan, tahun ini adalah tahun dimana omzet penjualan mereka naik pesat. Oke akankah ada tindakan korupsi di perusahaan ini ? pikir Yoochun. Pelan ia meraih ganggang telpon dan menghubungi staff accounting, untuk menjelaskan aliran dana yang ada diperusahaan.

“Huh… kenapa hari ini ia tak memberikan kabar, ya ?” tanya Yoochun dalam bingungnya. Yoochun menarik napasnya pelan.

Lalu mengambil ponsel smartphones nya, dan mulai memencet nomor yan sudah dihapalnya di luar kepala. Beberapa saat menunggu yang menjawab hanya bagian operator selular.

“Mungkin sedang sibuk” pikir Yoochun.

***

Kwon Hyera ah tidak Park Hyera, wanita itu tampak anggun dengan memakai dress panjang hadiah dari mertuanya. Dress berwarna merah marun itu, tampak indah membalut dirinya. Hyera tak berhenti tersenyum melihat pantulan dirinya yang ada didepan kaca datar milik toko busana itu.

“Hmm… abonim rasa ini saja. bagaimana ?” negonya pada sang menantu. Hyera tampak menimang sebentar—tertanda dengan dahinya yang bekerut dan matanya yang tampak memandang intens pantulan dicermin.

“Baiklah” putus Hyera seraya tersenyum.

Tuan Park mengangguk.

“Saya pesan gaun itu dan dua gaun yang tadi dicobanya” pelan, ia mengatakan itu pada sang pelayang yang sedari tadi menunggui dan melayani mereka. pelayan itu mengangguk, dan mulai menyiapkan apa yang dimaskud pelanggan mereka.

Hyera sudah selesai mengangganti pakaiannya dengan baju formal untuk keperluan magangnya. Selesai menemani ayah mertua, ia berencana langsung ketempat magangnya. Karena jam makan siangnya telah usai.

Mereka berdiri didepan kasir, memberikan sejumlah uang untuk membayar baju yang mereka beli. Harga baju itu cukup membuat sang menantu menatap kaget,. Mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk membeli sehelai kain ? pikir Hyera tak paham.

Ingin sekali ia menyerukan maksud nya yang terkumkum dalam hati. Namun sebelum sempat kata-kata itu terucap dari bibirnya. Tuan Park sudah menjelaskannya.

“Tak apa. sekali-sekali, ayah membelikan anaknya pakaian. Bolehkan ?” tawar Tuan Park seakan menyadri tatapan menantunya.

Hyera tersenyum kikuk “Kalau harganya semahal ini, aku tak jadi meminta” ucapnya pelan. Tuan Park tersenyum, lalu menepuk kepala Hyera sayang.

“Membeli sehelai baju, tak akan membuatku bangkrut” kekehnya.

Mereka berdua kini keluar dari toko busana itu. dan memilih berjalan kaki menuju ke halte bus terdekat. Hari ini Tuan Park ingin sekali menaiki kendaraan umum, dan kebetulan Hyera juga ingin menemani mertuanya. Mereka duduk menunggu bus selanjutnya sembari berbicara tentang beberapa hal.

“Ah, itu sudah datang bus nya” tunjuk Hyera

Tuan Park mengarahkan pandangannya, dan melihat bus berbaner TVXQ berhenti didepan mereka. Hyera tersenyum manis, lalu bergandengan tangan dengan Tuan Park untuk masuk kedalam bus.

Perkiraan cuaca saat ini, sangat memungkinkan untuk berpergian. Tak ada yang memperdiksi akan ada hujan badai yang memenuhi setiap penjuru Seoul. sampai akhirnya, pihak BMKG Seoul, memberikan peringatan kepada seluruh warganya untuk tetap berada dirumah hingga malam hari. Karena badai ini belum bisa diprediksi secara cepat.

Tuan Park dan Hyera mendengar berita itu. mereka hanya bisa berdoa agar tak terjadi hal buruk.

“Awasss” Pekik salah satu penumpang, saat melihat salah satu truk keluar batas jalan. Supir bus panik, dan menginjak pedal gas.

Braaaaaaaaaaaaaakkk…

 

***

Yoohwan hanya bisa menatap wajah ayahnya yang terbaring lemah. Bibirnya pucat, dan dahinya berkerut. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang. Pikir Yoohwan. “Ibu…” gumam Yoohwan pelan.

“Maaf, apakah anda keluarga korban ?” tanya perawat yang baru saja menacapkan jarum infus ke pergelengan tangan kanan Tuan Park. Yoohwan mengangguk lemas.

“Silahkan ikuti saya, ada beberapa prosedur yang harus dilakukan, untuk kemudian, akan dikirim kepihak kepolisian”

Yoohwan mengangguk saja. ia mengikuti setiap prosedur yang diajukan pihak rumah sakit. Walaupun agak berbelit, Yoohwan tetap berusaha agar tak terlihat kacau.

Yoohwan melewati lorong rumah sakit yang terdengar sangat gaduh. Bagaimana tidak kecelakaan itu telah merenggut delapan korban jiwa. Itu bukan hanya kecelakaan tunggal, melainkan kecelakaan beruntun yang disebabkan kelalaian seorang manusia.

Pelan, Yoohwan menarik napasnya. Lalu berhenti didepan pintu ruang gawat darurat, melihat kakak iparnya terbaring lemah diatas sana. Beberapa alat bantu masih terpasang untuk membatu mempompa jantung wanita yang sangat disayangi kakaknya.

Yoohwan tak pernah berani membayangkan, apa yang terjadi pada hyeong nya. Jika Tuhan benar-benar memanggil orang terkasihnya. Sampai saat ini pun, Yoohwan masih tak berani memberi kabar pada Yoochun.

Ia tak ingin memberikan beban bagi hyeong nya. Jika nanti keadaan Hyera membaik, ia akan segera mengambari  Yoochun.

“Apa kau kehilangan keluargamu, nak ?”

Yoohwan menoleh, mendapati wanita paruh baya tengah menatap dalam pada sesosok wanita yang ada disamping Hyera. “Aku berharap tidak ajjuma” ucap Yoohwan tenang. Walaupun dalam hatinya  sangat bimbang.

“Hmm… mereka juga tengah berjuang disana” wanita itu berbisik parau. Yoohwan mengangguk.

“Apakah, dia puteri ajjuma ?” tanya Yoohwan

“Ia. dia puteriku” wanita itu berujar mantap. Yoohwan mengangguk. Lalu merogoh ponselnya untuk mengabari keluarga Hyera. karena kalut, ia hampir saja melupakan keluarga kakak iparnya. Yoohwan menarik napasnya dalam, lalu beranjak dari tempatnya berdiri. Dan melangkahkan kakinya keluar rumah sakit, untuk menghubungi keluarga kakak iparnya.

***

Brak…

Yoochun melempar berkas ditangannya. Dia bukan kesal. Dia hanya merutuki ketidak enakan hatinya, karena alasan yang tidak jelas, mood nya berubah dengan cepat. Ia merasakan sesuatu yang tak mengenakkan sejak tadi.

Beberapa karyawan yang sempat masuk kedalam ruangan Yoochun hanya bisa menelan ludah. Melihat pandangan tajam dari atasannya.

Yoochun menghela napasnya panjang, kalau begini terus bagaimana bisa aku menyelesaikan pekerjaanku.

kalau begini terus bagaimana bisa aku menyelesaikan pekerjaanku.

Tangannya mengambil ganggang telpon dan menghubungi office boy untuk membuatkannya secangkir kopi.

 

***

 

Dikediaman keluarga Kwon.

Mereka membatu saat mendengar Yoohwan menghubungi mereka karena Hyera dan Tuan Park masuk dalam list korban kecelakaan mau yang memakan korban lebih dari lima orang itu. Jiyoung dan Jeong duduk menyendiri dikamarnya masing-masing. Mereka menitikan air matanya dalam diam.

Begitu pula dengan pasangan suami isteri dirumah itu. pelan dalam hati mereka, mereka melantunkan doa untuk sang puteri tercinta yang tengah meregang nyawa dirumah sakit.

“Sebaiknya kita kesana” ayah Hyera , menyentuh bahu isterinya dengan pelan. Ibu Hyera mengangguk, lalu menyeka air matanya yang memang sudah deras keluar. sedangkan kedua putera memilih untuk tetap dirumah. mereka tak tega melihat kakak tercintanya terbaring lemah dirumah sakit.

 

Tuan Kwon melihat Yoohwan keluar dari ruangan admistrasi. Ia lalu mengamhampiri adik ipar puterinya.

“Bagaimana keadaan Hyera ?” tanya ibu Hyera sembari menggucang bahu Yoohwan. Yoohwan menghela napasnya pelan. Lalu menyentuh bahu wanita itu.

“Dia dalam masa kritis, pihak rumah sakit mengupayakan yang terbaik untuk kakak ipar” ucap Yoohwan pelan. Isakan ibu Hyera makin membuat rumah sakit itu terlihat seperti tempat pemakamanm umum.

Sedangkan Tuan Kwon hanya bisa terdiam ditempatnya. “Bagaimana keadaaan ayahmu ?” tanya Tuan Kwon

“Ayah mengalami, pergeseran lengan kiri. Sedangkan kakak ipar, dia.. sebagian wajahnya terkena serpihan kaca, dan perkiraan dokter serpihan kaca itu mengenai matanya” Yoohwan memejamkan matanya, saat mengatakan semua itu.

Tak lama setelah terisak, ibu Hyera langsung tak sadarkan diri. Membuat mereka berdua semakin panik. Apalagi Yoohwan.

“Apakah, kau sudah menghubungi Yoochun ?” tanya Tuan Kwon saat mereka duduk diruang tunggu—didepan ruang gawat darurat.

Yoohwan menggeleng. “Aku takut, hyeong tak bisa mengendalikan dirinya” Yoohwan mendesah panjang.

“Hubungi dia. aku yakin dia mampu menghadapi semua ini”

“Baiklah, setelah keadaan ayah dan bibi Kwon membaik” ucap Yoohwan pelan. Tuan Kwon mengangguk.

“Aku pulang sebentar ya Paman, ada yang ingin aku urus. Paman disini tidak apa-apa kan ?” tanya Yoohwan pelan.

Ayah Hyera mengangguk pelan.

***

Lelaki itu tiba digerbang kedatangan internasional, segera ia mengedarkan pandang melihat kebeberapa penjuru. Mencari taxi untuk segera membawanya pulang kerumah. Entah kenapa hari ini, hatinya mendesak untuk segera pulang kerumah.

Yoochun memasuki rumahnya dengan tergesa, ia meletakkan kopernya diruang tengah, dan menghampiri Lee Ajjuma yang sibuk dibelakang.

“Ajjuma, apa kabar ?” Lee ajjuma yang tadinya sedang menyiapkan makan siang untuk Tuan Muda Yoohwan dan Tuan Park tersentak kaget. Kedatangan Yoochun yang tiba-tiba membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya,

Yoochun menangkap ekspresi aneh yang diberikan Lee Ajjuma. Alisnya mengekerut, ia merasa ada sesuatu hal yang disembunyikan Lee Ajjuma dari tatapan dan sikapnya.

“Kabar saya baik.. Bagaimana dengan mu, nak ?” Lee Ajjuma bersikap seolah tak terjadi apapun. Ia memegang bahu Yoochun, lalu menyibukkan dirinya memotong sayuran.

“Baik Ajjuma., eng, yang lain mana ? apa Hyera sering pulang kalau jam makan siang ?” tanya Yoochun.

Lee Ajjuma terdiam sejenak. lalu menghentikan aktivitasnya. Ia menghadap Yoochun yang tampak gelisah, tapi berusaha ditutupinya. Yoochun menyambar apel yang ada dibagian rak, lalu memakannya.

“Ada.. ada kabar buruk..” gumam Lee Ajjuma pelan.

“Ajjumaa… Makan siangnya mana ? aku harus segera kerumah sakit lagi, Paman dan Bibi, Kw—“

Yoohwan terdiam. Tak meneruskan teriakannya yang sanggup membuat Yoochun diam ditempat.

Dipikiran Yoochun, adalah. Rumah Sakit ? ia tak salah dengarkan. Tidakkan ? telingannya masih normal, dan ia yakin akan itu. tapi.. siapa yang sakit ? Hyera kah ? atau Yoohwan ingin mengatarkan makan siang untuk isterinya.

Banyak spekulasi yang mengalir dikepalanya. Ia sedikit meringis. Jadi lebih baik bertanya pada Yoohwan yang terdiam diambang pintu.

Yoohwan menatap Lee Ajjuma. Lee Ajjuma memejamkan matanya lalu mengangguk, tangan Lee Ajjuma sudah terkepal erat. Yoohwan menarik napasnya pelan. Lalu bersikap santai, walaupun terlihat aneh didepan Yoochun.

“Hyeong, apa kabar ?” ucap Yoohwan sambil tersenyum, lalu mengancingkan lengan kemejanya.

Yoochun mengangguk kaku “ Baikk… Kau sendiri bagaimana ?” tanya Yoochun pelan.

“Sedikit lebih  baik” gumamnya. Lalu beranjak dari ambang pintu dan mengambil air minum dikulkas. Siapa tahu bisa meredakan kegugupannya

“Makan siang itu untuk Hyera ya ?”

Uhuk…

Lee Ajjuma meringis pelan. Yoohwan tersedak, dan menutup pintu kulkas. Yoochun seakan bingung dengan sikap mereka, hanya memadangi mereka dengan tatapan. Kalian-Kenapa ?

“Hyeong… sebenarnya…” Yoohwan menarik napasnya pelan. Lalu menggeleng.

“Hyeong.. ayo ikut aku, nanti kau akan tahu”

Yoochun mengikuti langkah adiknya, yang menyambar kotak bekal dan segera meninggalkan kediaman mereka.

Sesekali, Yoohwan memandangi kakaknya yang tampak sedikit lebih baik dari pada tadi. Kebimbangan kini merayapi hatinya. Apa ia yakin akan mengatakan hal ini pada Yoochun ? Ya Tuhan. Apa dia tega melihat kakaknya jatuh kejurang yang sama ?

Kenapa engkau memberikan cobaan bagi kakakku. Batin Yoohwan berkecamuk.

“Kita mau kerumah sakit, tempat Hyera magang ya ?”

“Eng.. i—a Hyeong” ringis Yoohwan. Ia tidak bohong, Seoul Hospital memang tempat magang Hyera, dan tempat dimana kakak iparnya di rawat.

 

Mereka melewati lorong-lorong rumah sakit yang terasa amat panjang, Yoochun sendiri hanya tersenyum kecil sembari bersiul ramah. Sungguh, Yoohwan sekarang dalam keadaan bimbang. Beberapa langkah lagi ia akan sampai diruangan, dimana sang kakak ipar dirawat.

“Hyeong, sebenar—nya.. adayanginginakusampaikan” ucapnya cepat tanpa jeda. Yoochun terkekeh.

“Bicara yang jelas” titah Yoochun pelan. Yoohwan mengangguk paham.

“Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan” ucapnya pelan. Tapi masih terdengar oleh Yoochun.,

“Apa yang ingin kau sampaikan ?”

“Se—be—narnya.. Ka—kak iparkecelakaanmobil” ucapnya dengan nada cepat.

Yoochun mecerna ucapan adiknya. Perlahan ia mulai menangkap apa yang disampaikan oleh Yoohwan. “jang bercanda” ejek Yoochun kecil. “Itu tidak LU—CU” tekannya

Yoohwan menggeleng polos. “Bukan.. ini sungguh bukan lelucon, kakak ipar, korban kecelakaan maut. Dan sekarang dia ada didalam” tangan Yoohwan perlahan menunjuk seseorang yang terbaring didalam sana.

Yoochun diam.

Langkah kakinya perlahan berjalan.. berjalan hingga ia dapat merasakan dentuman pintu yang menjadi penyekat diantara mereka. Yoochun memandang tubuh isterinya dengan tatapan nanar. Ternyata perasaannya selalu mengatakan kebenaran. Apa yang ia rasakan akhirnya terjadi juga.

Pikiran dan hatinya kosong saat ini, yang ia lakukan hanya memandang Hyera. Yoohwan memegang bahu kakaknya pelan.

“Hyeong.. kata dokter—“

“Jangan katakana apapun” Teriak Yoochun geram. Tatapan tajam yang nanar masih menghujam kearah sesosok tubuh yang masih tergeletak disana.

 

Hening..

Tak ada pembicaraan diantara Yoohwan dan Yoochun, yang ada hanyalah suara bising dari pengunjung lain yang membezuk kerabat mereka yang temasuk daftar kecelakaan.

Yoochun mengusap mukanya pelan. Lalu menatap dingin Yoohwan.

“Dia kemana ? kenapa dia bisa sampai kecelakaan ?” tanya nya cepat. Matanya menyiratkan kepedihan dan kesedihan serta kemarahan. Berjuta rasa yang ada dalam benak Yoochun. Rasa sakit, kecewa, marah, semua bertumpuk jadi satu. Semua beban didalam hatinya seolah meledak.

Yoohwan benar-benar takut melihat Yoochun yang memancarkan emosi berlebihan—tidak seperti yang ia kira—Yoohwan meringis pelan.

“Jelaskan padaku, kenapa dia bisa sampai menjadi korban kecelakaan itu—“ Tangan Yoochun menunjuk kesatu arah yang tak pasti. semua orang menatap mereka dengan tatapan kaget. Karena teriakan Yoochun benar-benar mengganggu.

“Hyeong—kita bisa bicarakan ini baik-baik” pujuk adiknya. Yoochun membuang mukanya kesal.

“Kau pikir aku bisa ???” teriaknya lagi. Ia meninggalkan Yoohwan yang terdiam karena takut. Yoochun berjalan keluar rumah sakit, menuju kesuatu tempat. Dia memilih untuk menyendiri dahulu. Menenangkan pikirannya.

 

***

Yoohwan meorogoh ponselnya. Sudah lima jam Yoochun tak juga kembali. Dia sudah menghubungi Lee AJjuma, dan beberapa staf kantor menanyakan keberadaan Yoochun. Namun hasilnya nihil. Yoochun tak ada disana. Yoohwan berpikir keras, kemana hyeong nya. Tidak biasa Yoochun kalap seperti ini. walaupun ia tak paham bagaimana hancurnya perasaan Yoochun, tapi paling tidak, hyeong nya mau berbagi.

Itulah yang ada dipikiran Yoohwan saat ini.

 

***

“Tuhan, hamba tahu semua ini hanyalah peringatan darimu untukku. Tuhan, aku tahu aku tak pantas memohon padamu, aku tahu. aku terlalu banyak membuat kesalahan di dunia ini. sehingga Engkau mengujiku seperti ini, Tuhan. Berilah hamba mu ini ketenangan dan kesabaran dalam menjalani semua rintangan yang Engkau berikan, berilah aku kekuatan agar aku mampu menghadapinya dengan kekuatan yang Engkau berikan.

Tuhan, terima kasih Engkau masih menyangiku, karena itu Engkau berikan aku cerita kehidupan yang seperti ini” Yoochun memejamkan matanya. Pelan air matanya merembes melewati celah kelopakmatanya yang terpejam.

Dalam kegelapan ia bisa merasakan semua kehangatan yang diberikan isterinya, bisa merasakan semua kasih sayang yang pernah ia rasakan.

Semua bayangan masalalu menghiasi gelap matanya. Lalu pelan, bayangan itu memudar, ia tertarik pada masalalunya. Bayangan ibunya yang cantik dengan aura wajah yang terlihat sangat mengkilau.

Perlahan dalam tangisnya, ia menarik senyum. Pedih yang ia rasakan sangat menguras seluruh isi otaknya. Ia tahu, ia sudah terlalu dari Tuhan nya. Maka dari itu, Tuhan memberinya cobaan ini, karena dengan begini. Ia akan kembali mengingat Tuhannya, mengadu pada-Nya.

Setelah tenang, Yoochun membuka matanya. Mengusap air matanya yang menggenang di pelupuk mata. setelah puas dan merasa nyaman. Yoochun meninggalkan gereja.

 

Siapa yang akan aku salahkan. Geram Yoochun dalam hatinya. Ia ingin marah, marah pada siapapun, asalkan semua beban didadanya menghilang. Kenapa saat ia bahagia, semua harus seperti ini.

Yoochun melewati taman, disana ada beberapa anak-anak yang bermain. Membawa balon atau membeli jajanan yang ada disana. Yoochun mengamati seorang anak laki-laki yang menangis, ia keluar dari gejera kecil yang terletak tak jauh dari taman.

Yoochun berniat menghampiri anak itu. namun ia urungkan. Ia takut, nantinya anak itu yang akan menjadi imbas kekesalannya. Lebih baik ia menghindar.

Yoochun duduk termenung dibawah pohon, matanya memandang beberapa orang dihadapannya. Tapi pikirannya melayang entah kemana.

“Ajjushi~~” Yoochun menoleh. Ia mendapati anak lelaki yang tadi keluar dari gereja sambil menangis. Tapi kali ini, anak itu tersenyum tiga jari, sambil mengemut ek krimnya. Yoochun terdiam hanya menatap anak itu.

“Ajjushii~~~ kau tidak tuli kan ?” ejek anak itu lalu duduk disamping Yoochun. Yoochun mendecih, lalu menggeleng. Menatap anak itu yang terlihat lebih baik.

“Kau aneh” kata Yoochun langsung. Anak itu memandang Yoochun polos.

“Aneh kenapa Ajjushi ?” ia bertanya dengan lugu, lalu menggigit es krim colkat nya.

“Tadi aku melihatmu menangis, sekarang kau malah tersenyum” komentar Yoochun.

“Oh~~ tadi aku kesal, karena es krimku jatuh. Lalu,aku aku melakukan apa yang ibu lakukan. Jika ibu mendapati kesialan, pasti ia selalu berteriak di depan gejera. Hmm… jadi aku mengikutinya. Tapi tadi aku di ceramahi oleh pastur Choi. Katanya, aku tidak boleh seperti itu. aku harus bisa bersabar, kata pastur Choi. Sekarang aku memang kehilangan es krimku, tapi nanti akan ada gantinya, yang jauuuuuh lebih enak” anak itu bercoleteh sambil memperagakan ucapan Pastur Choi. Lalu menggigiti es krimnya. Sampai pada potongan terakhir baru ia memandangi Yoochun yang masih diam, dan terselimuti oleh kegelisahaan.

“Dan kau tahu ajjushi, tadi pastur Choi membelikanku es kriimm yang jauuuuh lebih enak” gumamnya tersenyum

“Hmmm” Komentar Yoochun pelan. Lalu mengelus kepala anak itu. Yoochun merogoh saku celana bagian belakang, dan mengeluarakn beberapa lembar uang. Kemudian ia memberikan uang itu pada anak kecil dihadapannya.

“Belilah es krim yang paling kau sukai. Tapi jangan sampai gigimu sakit” peringat Yoochun sebelum anak itu mengambil uangnya. Anak itu mengangguk patuh, sambil menyengir lebar.

“Ajjushi baik sekali. semoga ajjushi selalu diberikan rahmat oleh Tuhan. Amin” ucapnya sambil tersenyum.

“Rahmat ?” tanya Yoochun tersenyum sinis. Anak itu mengangguk.

“Kata pastur Choi, kita harus mensyukuri apa yang ada. Selalu berdoa setiap kita diberikan rezeki, dan jangan suka mengeluh. Atau nanti semua kenikmatan yang diberikan Tuhan, akan diambilnya kembali” ucapnya  sambil mengingat-ingat kata pastur Choi.

Yoochun terdiam sejenak. Rahmat ? nikmat, karunia, mengeluh, dan akan kembali diambil.

Yoochun mengusap wajahnya dengan frustasi. Membuat anak itu terdiam dengan tingkah Yoochun. Kemudian menegurnya.

“Ajjushi kenapa ?” tanya nya mendekat.

“Ajjushi, tidak ada uang lagi ya ? ya sudah, aku tidak jadi membeli es krim,, uangnya untuk ajjushi saja”

Yoochun memandang anak itu dengan senyum. “Tidak. ajjushi punya banyak uang. Yang ini untuk mu saja. kalau terisisa jangan lupa ditabung ya” anak itu mengangguk dengan patuhnya.

“Baiklah, Ajjushi pergi dulu”

 

***

 

Yoohwan sedikit terkejut mendapi kakaknya yang tengah memandang Hyera dengan tatapan tenang. Padahal beberapa jam yang lalu, Yoochun terlihat kalap dan rapuh.

Yoochun memegang tangan isterinya yang terbaring tak berdaya. Wajah isterinya diperban, karena mengalami kerusakan yang cukup parah akibat terkena serpihan kaca. Dokter belum berani memeriksa lebih lanjut, mengingat kondisi Hyera yang belum benar-benar pulih.

 

“Ayah, jadi merasa bersalah” ucap Tuan Park sambil memegang bahu anak lelakinya. “Ayah.. tidak seharusnya ayah mengajak Hyera untuk pergi kebutik menggunakan bus” kenang nya dengan pahit.

Yoohwan memandang ayahnya. “Jangan dipikirkan ayah. Ayah lebih baik memikir kondisi ayah, ayah juga masih lemah. Aku yakin kakak ipar akan sadar, kakak ipar adalah orang yang kuat” ucapnya sambil tersenyum. Tuan Park mengangguk. Yoohwan lalu membimbing ayahnya untuk meninggalkan ruang gawat darurat.

“Apa disana terlalu nyaman, Hye-a ?” ucap Yoochun berbisik ditelinga isterinya. “sampai kau mengabaikan aku seperti ini” ucap nya muram.

“Aku tahu, aku terlalu bodoh. Aku menyia-nyiakan mu selama ini. aku tak pernah bisa membahagiakanmu. Aku tak pernah bisa membuatmu tertawa lepas. Aku hanya bisa membuatmu menangis, membuat mu kecewa, membuat mu marah padaku—“

“dan mungkin karena itu, Tuhan memberikan aku peringatan dan kesempatan. Jika nanti kau kembali, aku harus bisa memperlakukanmu lebih baik dari ini” Yoochun memandang wajah isterinya yang terbalut perban. Pelan, ia mengecup kening isterinya.

“Cepatlah, kembali. Aku sudah menyiapkan masa depan kita, bersama Yoochun dan Hyera Junior—“

“Aku Mencitaimu, selalu”

 

***

Hyera sudah melewati masa kritis, namun sepertinya ia belum bisa sadarkan diri. Seminggu ini, Yoochun terus memantau keadaan isterinya. Ia tak lagi mengungkit masalah ini didepan siapapun. Karena ia merasa semua ini adalah kesalahannya yang tak pernah bisa menjaga Hyera dengan layak.

Setiap pagi, ia selalu datang untuk berpamitan dengan isterinya. Lalu bergegas kekantor, siang hari hingga malam, ia menjaga Hyera, sembari menyiapkan beberapa laporan keuangann yang ia tangani.

“Bagaimana keadaannya dok ?” tanya Yoochun pada dokter yang merawat isterinya.

“Semuanya sudah stabil. Kemungkinan, ia akan segera sadar, kita tinggal menunggu saja”

Yoochun mengangguk paham. Hari ini ia sudah mulai meminta cuti pada perusahaan, ia ingin fokus merawat isterinya. Ia hanya ingin yang terbai untuk Hyera.

Yoochun duduk disamping isterinya, seperti biasa, ia bercerita mengenai kejadian beberapa hari ini, atau kalau tidak ia akan bernyanyi. Walaupun mustahil Hyera mendengarnya. Yang ia lakukan hanya berkomunikasi dan berbagi pada Hyera.

“Bagaimana keadaannya ?” Yoochun menoleh pada seseorang yang beberapa hari ini seakan menghilang dari jarak pandangnya. Yoochun menghela napas sebentar lalu berujar pelan.

“Kata dokter, kemungkinan, ia akan segera sadar. Dan menunggu” ucapnya terdengar pelan. Tuan Park menatap sedih pada puteranya.

“Ayah—tidak aku tahu, aku tak pantas dipanggil ayah. Aku sudah merusak semua kebahagiaan kalian. aku sudah merusak kebagianmu, dan Yoohwan dari kecil. Aku memang tak pantas menyandang  gelar ayah. Aku—aku gagal menjadi orang tua yang bisa mengayomi puternya, yang melindungi puteranya. Aku malah—“ Tuan Park hanya bisa terisak pelan.

Ini pertama kalinya Yoochun melihat ayahnya seperti ini. sungguh, ia sudah belajar melupakan semuanya,. Ia sudah tak lagi mengingat apa yang terjadi dimasa lalu, ia sudah mengubur semua itu.

Perlahan Tuan Park menunduk, berusaha berlutut. Membuat Yoochun langsung memeluk ayahnya. “Aku yang salah” ucapnya lalu menangis.

“Aku—aku yang tak becus ayah. Ayah tak salah apa-apa. semua ini terjadi karena aku yang teledor. Ayah jangan pernah merasa seperti itu, ayah—ayah memberikan yang terbaik untuk kami. Walaupun cara yang terlihat salah dimata kami” ucapnya mendekap erat tubuh Tuan Park.

Tuan Park mengangguk.

Mereka berdua hanyut dalam perasaan mereka. tak merasakan bahwa ada nyawa yang kembali kealam sadarnya. Dia hanya bisa tersenyum. Walaupun saat ia tersenyum, ia merasakan kesakitan dan keperihan disetiap pori kulitnya. Matanya hanya bisa menangkap kejadian yang mengharukan.

Ini seperti mimpi

Hyera berujar dalam hatinya, lalu ia memejamkan matanya kembali.

 

***

Pusing..

Hanya itulah yang dirasakan Hyera rasakan saat ia membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya, menyesuaikan penglihatannya, namun terasa berat, seperti ada beban yang menimpa wajahnya. Pelan, tangannya tertarik untuk menyentuh wajahnya yang terasa amat berat. Rasanya seperti mimpi. Kenapa wajahnya diperban. Itu yang berkelebat dalam hatinya.

Perlahan ingatan tentang kecelakaan hari itu, membuatnya menyadari apa yang telah terjadi pada wajahnya.

Hyera diam. Kekecewaan dan kesedihan mulai menyusup dibenaknya. Apa, apakah wajahnya hancur ? apakah sudah tak bisa diselamatkan ? pikirnya. Lalu apalagi yang akan ia dapatkan dari kecelakaan itu ? apakah karena kecelakaan ini Yoochun akan meninggalkannya ?

 

Semua pertanyaan itu masuk kedalam otaknya, memporak-porandakan mentalnya. Kalau memang seperti itu kenyataan yang akan ia terima, ia harus siap bukan ? tapi, hatinya enggan menerima semua keyataan itu, baik nanti maupun sekarang.

Dia tak mau ini terjadi. Sekarang siapa yang harus disalahkan ?

Hyera  berkutat dalam hatinya, bertanya tanpa memperoleh sebuah jawaban. Dalam kediamannya, ia tak meraskan kehadiran seseorang yang tersenyum penuh arti padanya. Langkah kakinya terhenti saat isakan tangis isterinya tertangkap oleh indera pendengarannya.

Ia mempercepat langkah kakinya, menuju ranjang isterinya.

Hyera masih menyentuh wajahnya yang terbalut perban. Masih terisak. Sampai tangan seseorang menahan gerakan tangannya yang mengelus atau lebih tepatnya menggesekkan buku tangannya diatas perban.

“Jangan menyakiti dirimu” titah suaminya, lalu menarik tangan isterinya untuk digenggam. “Sudah baikkan ? aku akan panggilkan dokter dulu” Yoochun bergegas untuk berdiri.

“Aku.. aku—apa aku pantas untuk disampingmu lagi ?” tanya Hyera pada Yoochun yang berdiri menatap matanya intens.

Yoochun tersenyum “Jangan pernah tanyakan itu lagi. Karna sampai kapanpu, kau masih pantas untukku” Yoochun mengelus kepala isterinya pelan. Lalu meninggalkannya untuk menghubungi dokter yang berjaga hari ini.

***

Semua berkumpul diruangan Hyera, mereka mau melihat keadaan Hyera yang sudah siuman. Awalnya Hyera enggan untuk bertemu dengan mereka. ia tak ingin menunjukkan kelemannya didepan mereka semua, namun semangat serta ucapan dari suaminya, membuatnya terpaksa bertemu mereka yang menghawatirkannya.

“Syukurlah, Hyera selamat” ucap Junsu lalu meletakkan buah-buahan yang baru dibelinya dari toko buah, Jaejoong membawakan bunga untuk Hyera, Changmin memberikan Ipod. Katanya itu cukup menghibur ketika Hyera bersedih, lalu Yunho memberikan beberapa novel yang baru dibeli ditoko buku bersama Jaejoong.

“Terima kasih, kalian perhatian sekali padaku” ucap Hyera pelan. Ia belum bisa berbicara dengan cepat dan keras. Karena luka wajahnya masih basah.

“Sama-sama. Kami tahu kok, kalau Yoochun Hyeong tidak akan memberikan semua itu. dikepala Yoochun Hyeong hanya ada laporan keuangan, dan persentase keuntungan” ejek Changmin sambil menggeleng-geleng.

Yoochun yang duduk disamping ranjang isterinya hanya mendecih pelan. Lalu mengamit tangan isterinya “Dia tidak butuh semua yang kalian berikan. Yang dibutuhkan hanya kehadiranku disisinya” ucap Yoochun menggombal.

Jaejoong yang paling dekat langsung, mengapit leher Yoochun. “Ya! Kau mau pamer huh ?” geramnya.

“Yak! hyeong sakit, lepaskan”

Mereka lalu tertawa serentak menilah kejadian ini. sudah lama mereka tak seperti ini. Hyera mengulum senyumanya pelan.

“Jadi, Noona, bagaimana dengan luka diwajahmu ?” tanya Changmin serius, yang lain mulai berdehem mencairkan suasana.

Hyera menjawab pelan “Aku rasa sudah tak apa. mungkin akan ada bekas seperti lecet atau apa” ucap nya pelan. Changmin mengangguk.

“Ah, Noona. Aku ingat temanku ayahnya adalah ahli bedah plastik. Kalau kau mau, kau bisa mengoperasi lukamu, agar tidak terlalu mencolok, bagaimana ?” tawar Changmin.

Hyera menatap Yoochun yang juga menatapnya. Yoochun berpikir. Ia tak ingin memaksa semuanya. Ia ingin Hyera yang memutuskan masalah itu. bagaimana pun itu adalah hak isterinya. Ia tak berhak ikut campur lebih dalam.

“Em.. lihat dulu bagaimana keadaan lukaku” ucap Hyera pelan. Changmin mengangguk.

“Matamu tidak masalah kan ?” tanya Yunho lagi.

Hyera menggeleng. “Sejauh ini tidak, oppa”

“Ehemm—“ Yoochun berdehem panjang. Lalu menatap mereka dengan tatapan datar.

“Kau kenapa, Hyeong ?” tanya Changmin polos.

“Aku ingin bertanya pada kalian. siapa saja yang dipanggil oppa oleh isteriku ?” matanya menyelidik mereka satu persatu. Seakan tak peduli dengan tatapan Yoochun, mereka bertiga mengangkat tangan dengan seretak.

“Aku”

“Aku”

“Dan aku” ucap Junsu mengakhiri.

Yoochun mendengus. “Lalu kenapa suamimu, tidak kau panggil oppa, huh ?” Yoochun menatap  malas pada Hyera.

“Ya! Kalau bermesraan jangan pernah didepan kami” teriak magnae dengan malas. Junsu terkekeh.

“Kasiahan sekali yang tidak punya pasangan” ejek Junsu.

“Ah, makanya jangan terobsesi dengan isi kulkas Changmin-a” Jaejoong menepuk pundak Changmin.

Yunho terkekeh, lalu memeluk Changmin “Bersabarlah nak” ejek Yunho. Changmin mendecih sebal. Yoochun menatap mereka dengan pandangan malas.

“Hoy, jangan menganggu kemesraan suami isteri—pergi sana” usirnya pada mereka berempat secara paksa.

Mereka berteriak tertahan, mengingat ini rumah sakit.

“Mentang-mentang sudah menikah, jadi seenak nya sendiri” sungut Changmin sebal. Yunho menanggapinya dengan senyuman.

“Ya sudah menikah saja kau sana, biar kau merasakan bagaimana senangnya bisa mengusir kami” Jaejoong ikut serta bersungut.

Junsu malah diam. “Menikah ya ?” tanya Junsu. Mereka bertiga berhenti sejenak lalu memandang kearah Junsu yang juga memandang mereka satu persatu.

“Kau—janga bilang kau juga akan menikah dengan artis menyebalkan itu” ejek Changmin sambil menunjuk Hyeong nya.

Junsu menggeleng—lalu menunduk—dan mengangguk lagi. Membuat mereka bertiga bertatapan cengo pada Junsu.

“Jangan bilang kalau berita yang menyebar di infotaiment itu benar ?” Jaejoong  berseru histeris sambil menujuk Junsu lagi. Junsu mengangguk tanpa tanpa bersalah.

“Jadi, kau dan Yura selama ini—Ya Tuhan” erang Jaejoong frustasi lalu mengusap wajahnya.

“Pesta bujangnya, harus menyediakan banyak makanan” perintah Changmin

“Pesta bujangnya, harus memakai cafe ku sebagai cateringnya”

“Pesta bujangnya harus ada selebritis wanita yang cantik” Celetuk Yunho dengan polos, membuat mereka menatap kearah Yunho yang mengangkat bahu dengan cueknya.

“Ya! Kalian mau merampokku ?” teriak Junsu.

Pluuukk—

“Ajjushi. Tidak mengertikah, ini rumah sakit. Dasar , sudah tua tapi tak tahu aturan” ejek anak kecil ber umur lima tahun. Membuat mereka berempat bertatapan geram.

“Ajjushi, lebih baik ajjushi pergi sana. Nanti dimarahi satpam” setelah mengatakan itu, anak kecil itu langsung berlari dari mereka.

“Ajjushi ?” gumam mereka serentak, lalu berpandangan.

“Aku tak setua itu” keluh Changmin

“Aku masih belum memiliki tanda penuaan” ucap Jaejoong lalu meraba pipinya

“Bahkan aku tak memakai seragam kantorku” ucap Yunho pasrah.

“Kalian memang tak menerima kenyataan,Kalau kalian itu sudah tua. Jadi menikahlah” ucap Junsu lalu melenggang pergi meninggalkan mereka bertiga yang menatap punggung Junsu dengan gemas.

“Jadi hari ini, kita dicampakkan dua kali ?” tanya Jaejoong nelangsa.

“Yah, aku rasa” Yunho menimpali dengan cueknya.

“Ahh.. aku butuh tisu toilet untuk melampiaskan semuanya” keluh Changmin langsung ngacir.

***

Diam

Hening—

Sampai Yoochun membuka pembicaraan. “Jadi, kau mau bagaimana ?” tanya Yoochun pada isterinya yang tengah berbaring mendengarkan musik dari ipod yang diberikan Changmin. Hyera duduk, memperbaiki posisi tubuhnya.

“Apa aku akan menyuruhku untuk operasi, jika lukaku benar-benar sangat buruk ?” tanya Hyera pada Yoochun. Yoochun menggeleng.

“Tidak. aku tidak akan melarangmu. Jika kau memang tak ingin” Yoochun memastikan isterinya melalui pandangan matanya. Hyera menghela napasnya. Ia putus asa sekarang.

“Lalu saat kau nanti di ekspose media. Kau tidak malu memiliki isteri cacat sepertiku ?” Hyera bertanya, namun matanya tak memandang Yoochun. Ia malah menatap nanar ujung ranjang nya.

Yoochun beringsut, ia duduk disebelah isterinya. “Jangan pernah seperti itu. bagiku,kau sehat itu sudah anugrah untukku. Sungguh, aku tak akan pernah mempermasalahkan kelebihan dan kekuranganmu. Kata orang, saat kau menikah. Kau harus bisa berdamai dengan kelebihan dan kekurangan pasanganmu. Begitu pula sebaliknya.” Yoochun memeluk isterinya, lalu mengelus punggung nya pelan.

“Kalau, seandainya—“

Yoochun meletakkan jari telunjuknya di bibir isterinya. “Jangan berpikiran yang tidak-tidak. pikirkan kesehatanmu, oke. besok setelah semua stabil. Kau boleh melepas perban ini, lalu lusa kita bisa pulang” Yoochun tersenyum menawan.

Hyera mengangguk lagi.

***

“Mereka terlihat bisa mengendalikan semuanya”

Tuan Park berbalik. Melihat adik iparnya yang tengah mengintip kemesraan keponakan tercintanya. “Aku rasa iya. Lalu kau bagaimana ? kata Yoohwan kau akan menikah” Tuan Park berkomentar pelan.

Wanita itu terkekeh geli. “Anak itu. yah aku tidak mau mengambil keputusan gegabah. Aku ingin pacaran dulu”

“Ingat umur” ejek Tuan Park.

“Cish… Urus saja Yoohwan yang setiap hari mengomel tak penting” Ejeknya dengan santai. Tuan Park tersenyum geli.

“Aku tahu. anak itu memang becusnya mengomel atau mengumpat” ejek Tuan Park.

Yoohwan yang tak sengaja mendengar langsung menghampiri kedua orang yang terlihat tua dimakan usia. “Tidak baik membicarakan orang dibelakangnya” ucap Yoohwan yang langsung menyempil diantara mereka berdua—sambil menyengir

“Kalau dibicarakan didepan orangnya, ayah yakin, dia akan langsung berteriak” Tuan Park berkomentar

“Ayah~~” rengek Yoohwan

“Lihatlah, bahkan dia tak malu pada bibinya” ejek Aunty nya dengan senyum mengejek. Yoohwan memberengut.

“Kau kejam, bibi” ejek Yoohwan.

“Aku dengar kau sudah berbaikan dengan Yoochun” Aunty berkomentar pelan. Tuan Park berdehem, lalu mengangguk. Membuat Yoohwan merasakan sesuatu yang hilang.

“Kita bercerita dikantorku saja” ucapnya,lalu masuk kedalam, meninggalkan adik dan anak lelaki bungsunya.

“Benarkah ? aku tidak mimpikan ?” tanya Yoohwan sambil memegang pipinya.

“Akan kuyakinkan ini bukan mimpi” tangan sang Aunty lalu hinggap di pipi Yoohwan, dan mencubitnya dengan penuh kekejaman. “bagaimana ?” tanya Auntynya tanpa rasa bersalah. Membuat Yoohwan mendengus.

“Yeah, ibu anakmu memang hebatkan” ucapnya penuh kebanggaan.

***

Kamar Hyera mendadak hening, beberapa pasang mata melirik focus kearahnya. Melihat bagaimana sang dokter membuka perban wajah Hyera, degup jantung mereka saling berpacu.

Hyera menelan ludahnya susah. Ia tak berani menatap cermin atau orang-orang yang memandang dirinya. Saat sang dokter memberikan aba-aba untuk membuka mata, Hyera merasakan tatapan kaget dari mereka, apakah wajahnya seburuk itu. Pikirnya kacau.

“SIlahkan Hyera-ssi” DOkter memberikan cermin berukuran kecil kepadanya. Awalnya ia enggan menerima, namun ia juga pensaran bagaimana wajahnya saat ini.

“Terima Kasih” Hyera tersenyum kecil, lalu mengambil cermin itu. Ia memejamkan matanya pelan, lalu mengatur detak jantungnya yang tak karuan.

1 detik

2 detik

3 detik

Hyera baru berani membuka matanya dan melihat wajahnya. Dia harus bersyukur karena kaca-kaca itu hanya menempel dan menggoreskan sedikit luka diwajahnya, yang membuatnya terasa perih karena beberapa serpihan itu masuk kedalam pori-pori kulitnya. Namun dokter berhasil mengeluarkannya, dan meninggalkan beberapa bekas yang bisa ditutupi oleh make up.

“Bagaimana ?” Tanya dokter pada Hyera. Hyera tersenyum kecil. Lalu membungkuk

“Terima Kasih” ucapnya lirih. Dokter mengangguk paham,. Lalu pamit memberikan privasi pada keluarga Hyera dan Yoochun.

“Wah—lukanya tidak terlalu dalam. Sepertinya bisa ditutupi dengan make up” ucap Jaejoong sambil tersenyum. Hyera mengangguk. “Kau tenang saja Hye-a. nanti akan aku carikan produk terbaik untukmu. Serahkan padaku” Jaejoong berucap bangga.

Hyera mengangguk senang.

Mereka berempat mengerubungi Hyera sembari berbicara tentang beberapa hal. Yoochun enggan bergeming ditempatnya berdiri. Dia hanya memperhatikan tingkah mereka yang menghibur, disampingnya ada Yoohwan dan ayahnya. Mereka bertiga diam menyaksikkan keasyikan yang ada didepannya.

“Eng.. jadi Hyeong akan kembali lagi ke Osaka ?” Yoohwan membuka suara. Yoochun mengangkat bahu.

“Aku tak tahu, perkembangan cabang di Osaka membaik. Mungkin aku akan menyuruh Changmin untuk mengawasi perusahaan itu”Yoochun berkomentar pendek.

Yoohwan mengangguk. Tersenyum lega penuh kemenangan. “Jadi aku besok sudah tidak bekerjakan. Asyik—aku mau ikut aunty ke Roma. Lumayan untuk—“

“Siapa yang bilang kau tidak bekerja ? kau tetap bekerja. Besok jadwal aku untuk cuti dengan isteriku. Jadi terima nasibmu” Yoochun menjitak kepala Yoohwan lalu menghampiri mereka.

“Ayah…” adunya sambil memasang tampang memelas.

“Berkorbanlah sedikit” ayahnya lalu mengikuti Yoochun yang bergabung dengan mereka.

“Ayah, tapikan kakak ipar masih harus kuliah” cerca Yoohwan tak terima.

“Ayah sudah mengurus itu”

Yoohwan memberengut kesal.

***

“Bagaimana perasaannya setelah semua ini ?” Yoochun memandang isterinya yang tampak sibuk dengan gadget nya. Hyera tersenyum, lebih manis dari biasanya. Pikir Yoochun.

“Aku senang. Ternyata Tuhan masih menyangiku” ucapnya kecil. Yoochun mengangguk paham.

Keheningan terjadi lagi.

Kini mereka hanya berdua dikamar rawat Hyera. karena yang lain sudah diusir pulang oleh penjaga rumah sakit. Karena jam besuk yang hampir habis.

Yoochun sengaja menemani Hyera. ia takut, kalau ternyata isterinya kesepian dirumah sakit.

“Masalah bulan madu, bagaimana ?” Yoochun bertanya kembali. Hyera menghentikan jemarinya yang asyik mengutak atik tablet milik sang suami. Hyera menoleh dengan wajah bersemu. Dan terlihat gugup.

“Em—perlukah kita membahas itu sekarang ?” Hyera bertanya gagu. Yoochun mengangguk, ingin sekali ia tertawa melihat wajah Hyera yang aneh.

“Tentu saja. aku rasa kita sudah lama menunda rencana itu” Yoochun semakin asyik dalam aktivitas terbarunya. Hyera memegang tengkuknya.

“Eng—tapi, masih ada beberapa hal yang harus aku lakukan” ucapnya pelan.

Yoochun mendesah “Tak bisa ditunda ya ?” tanya Yoochun pelan. Hyera menggeleng.

“Tentu saja tak bisa. Kalau ditunda bisa-bisa beasiswaku akan hilang. Lalu nilaiku akan merosot” ucapnya polos. Yoochun mendengus.

“Begitu ya ?” ucapnya kecewa. Hyera mengangguk. “kalau beasiswa mu dicabut, aku masih sanggup kok membiayainya” Yoochun bernego.

Hyera menggeleng keras. “Tidak, tetap tidak. sejak masuk kuliah, aku telah berjanji pada diriku. Aku tidak boleh lengah. Nilaiku tidak boleh merosot, apalagi sampai beasiswaku dicabut” ucapnya

Yoochun memasang wajah malas. “Ya sudahlah” Yoochun mengalah dengan paksa. Hyera tersenyum

“Hehehe. Terima kasih, sekali-kali pengertianlah kepada isterimu” ucap Hyera lalu mengelus bahu Yoochun. Yoochun tersenyum manis. Lalu menunjuk bibirnya.

“Kau sariawan ?” Hyera berpura-pura tidak tahu.

Yoochun menggeleng.

“Lalu ?” Hyera bertanya pelan.

Dengan cepat Yoochun memajukan kepalanya. Mengecup pelan bibir Hyera. Hyera terpaku, wajahnya memerah. “Kau mesum” tunjuk Hyera kaget. Yoochun terkekeh.

“Mesum dengan isteri memangnya tidak boleh ?” tanya Yoochun.

Hyera menggeleng “Inikan rumah sakit” ucapnya lirih, dan tak berani memandang wajah Yoochun.

“Oh, kalau ini bukan rumah sakit kau mau ya ?” goda Yoochun lagi. Hyera menggeleng, kuat. lalu masuk kedalam selimutnya.

“Aku mau tidur. Jangan ganggu lagi” ucap Hyera. Yoochun jadi terkekeh geli mendengarnya

***

Beberapa bulan kemudian—

 

Yoochun melihat kesekitarnya. Ia mengamati beberapa sudut desa yang dapat dijangkau oleh pandangannya. Disampingnya ada Hyera yang tersenyum menatap alam sekitar dengan senang.

Yoochun menoleh kearah Hyera.

“Kau—kau yakin akan nyaman ditempat seperti ini ?” tanya Yoochun. Hyera mengangguk.

“Tentu, sudah lama sekali aku ingin menghabiskan masa bulan maduku disini” Hyera tersenyum sumringah pada Yoochun. Yoochun menggeleng.

“Dimana-mana  orang menghabiskan masa bulan madu berdua, Hye-a. lalu kenapa kau…” Yoochun tampak kesal. Sedangkan Hyera tampak terlalu senang.

“Aku mau masa bulan madu yang berbeda. Yang lebih spesial. Yaitu dengan membantu anak-anak cacat disini” ucapnya tersenyu. Yoochun menggeleng tak mengerti jalan pikiran isterinya. Dimana-mana wanita selalu ingin menghabiskan masa bulan madu dengan nuansa yang romantis, berkelas, mewah dan tentu saja hanya mereka berdua, tapi isterinya ?

“Alasanmu ?” Yoochun bersidekap. Menatap Hyera.

“Pertama ini seperti pembelajaran untuk kita, jika nanti kita punya anak kau bisa lebih menghargai waktumu dengan keluarga” ucap Hyera sembari menunjukkan jari telunjuknya.

“Kedua—Agar kau mengerti setiap perasaan mereka yang tidak memiliki kasih sayang yang utuh”

“Aku sudah merasakannya” Yoochun mengkoreksi.

Hyera tersenyum “Aku lupa. Anggap saja, kau berbagi kasih pada mereka. jadilah ayah untuk mereka walau hanya sehari atau dua hari” ucap Hyera memohon. Yoochun mengangguk

“Yang ketiga, kita sama-sama mengkoreksi kesalahan kita pada Tuhan. Karena dengan dekat kepada mereka kita jadi lebih bisa bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan” Hyera menutup biacaranya dengan tersenyum.

“Aku ingin bertanya kepadamu. Kau mengajak ku kemari, bukan karena ada niat yang terselubung kan ?” tanya Yoochun

“Niat terselubung ?” Hyera mengulan dengan gumaman. “Apa itu ?” Hyera menatap lekat wajah Yoochun.

“Hm.. niat ingin memiliki anak secepatnya” ejek Yoochun lalu mengecup pelan bibir isterinya.

Hyera terpaku, lalu mengejar Yoochun yang lebih dulu berjalan didepannya.

 

***

Junsu Wedding—

Tamu tamu mulai berdatangan, memberikan selamat pada sang pengantin yang baru melaksanakan resepsi pernikahan beberapa jam yang lalu. Beberapa dari mereka menghampiri Junsu yang terlihat sangat bahagia.

Junsu sendiri sibuk mencari beberapa orang yang belum terlihat batang hidungnya sejak tadi.

“Hyeong—“ Junsu menoleh, mendapati sang magnae yang terlihat sangat kesal.

“Kau kemana saja, huh ? kenapa aku baru melihatmu” tanya Junsu jengah bercampur kesal.

“Hyeong, tidak baik marah-marah saat menikah. Aku tadi dari meja prasmanan, aku lapar sekali” keluh Changmin dengan wajah polosnya. Junsu menatap sebal pada Changmin.

“Awas saja kalau makananku, habis. Lalu yang lainnya mana ?” Junsu melihat kebeberapa arah dibelakang Changmin, berharap menemukan orang yang ia cari.

“Kau tahu hyeong. Aku sedang kesal, mereka kemari membawa pasangan masing-masing, dan mereka sedang ada ditaman belakang, sedangkan aku hany—yak Hyeong dengarkan aku” protes Changmin kesal, ketika Junsu meninggalkannya sendirian. Changmin menggerutu dengan laju, tapi mengikuti Junsu yang keluar dari hall utama.

“Yak! kenapa kalian disini ?” Junsu bersungut sebal. Mereka terkekeh melihat Junsu yang sebal.

“Hey, kami hanya ingin menikmati suasa alam saja kok, sebentar lagi kami masuk” ucap Yoochun mewakili.

“Dan dari kalian, tak adakah yang ingin mengucapkan selamat padaku ?” Junsu menatap sinis keempat sahabatnya.

“Ah kami lupa” seru Jaejoong dan memegang mesra tangan wanita disampingnya.

“Junsu chukae”  Yoochun mengawali lalu mengelus perut isterinya yang mulai membesar. “Ayo, aegi ucapkan selamat pada paman Junsu” Yoochun mengajak calon anaknya berbicara. Dengan suara yang dibuat-buat “Junsu Ajjushi, chukae”

Hyera tersenyum manis, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya “Oppa, chukae” dan memberikan kado itu pada Junsu yang tersenyum.

“Terima kasih” ucap Junsu

“Hey, keponakanku, tumbuhlah seperti ibumu. Jangan seperti ayahmu yang sangat menyebalkan” tangan Junsu terulur, hendak menyentuh perut buncit Hyera. namun langsung ditepis Yoochun.

“Jangan disentuh, nanti anakkau alergi” ucapnya sambil memeletkan lidah.

“Dasar orang tua pelit” Junsu mengejek Yoochun. Lalu memandang mereka bertiga yang terlihat acuh-tak acuh.

“Kalian—“  tunjuknya dengan tajam.

“Kan sudah, kami ucapkan. Chukae” Yunho buka suara. Namun langsung di cibir Junsu.

“Hadiahnya mana ?” tagih Junsu.

“Eng—kami tidak sempat membelinya” aku Changmin polos.

“Yak! dasar pelit” ejek Junsu. Geram.

“Hoy-hoy sudahlah, mana ada pengantin yang marah-amarah saat hari pernikahannya” Yoochun berteriak menengahi. Membuat mereka saling bertatapan.

“Ah, ia. benar itu” Jaejoong menimpali.

“Lebih baik sekarang kita bersenang-senang” Jaejoong langsung merangkul sang pacar kedalm, begitu pula Yunho yang membawa calon pacarnya untuk mengikuti pesta yang diadakan Junsu. Yoochun membatu Hyera yang terlihat agak kesusahan karena kehamilannya yang menginjak usia lima bulan. Sedangkan Changmin melengos sedih.

“Hiks.. kalau begitu aku mau makan lagi sajalah” ucap Changmin. Yang di tertawai oleh Junsu.

 

***

Hyera duduk melihat Yoochun yang tengah sibuk mengatur pekerjaannya. Karena beberapa minggu ini, calon anaknya selalu ingin diperhatikan oleh ayahnya yang super sibuk. Yoochun terpaksa tidak kekantor, hanya karena Hyera yang merengek. Atau mungkin tidak ingin tinggal dirumah bersama yang lain.

Kemarin saat rapat direksi, Yoochun terpaksa absen. Karena Hyera mengeluh sakit, dan ingin ditemani. Semenjak kehamilan isterinya, Yoochun jadi terbiasa untuk mengomel, atau cerewet, mengingatkan tentang multivitamin, atau hanya cek kandungan.

Hyera merasa nyaman, karena Yoochun selalu ada disampingnya. Walaupun ia tahu, waktu Yoochun bukan untuk dirinya saja. namun apa boleh buat, semua ini keinginan sang jabang bayi.

“Jangan memandangku seperti itu” Yoochun mengalihkan pandangannya dari kertas pada Hyera yang tengah duduk sofa sembari mengelus perutnya. Hyera terkekeh.

“Salahkan anakmu. Sepertinya dia terlalu terobsesi pada ayahnya, sampai ibunya tak mau memalingkan pandangannya” Hyera tersenyum kecil.

“Jawaban macam apa itu” Yoochun bangkit dari duduknya. Dan menghampiri Hyera yang asyik mengelus perutnya. “Dia tidak nakal kan hari ini” Yoochun meletakkan tangannya diatas tangan Hyera—yang mengelus perutnya—Hyera menggeleng.

“Hari ini, dia sangat baik” Hyera menjawab.

“Baguslah. Boleh aku menciumnya ?”

Hyera mengangguk. Yoochun lalu mencium perut Hyera yang membuncit. “Baik-baik disana. Kami menunggumu” kecupan demi kecupan diberikan Yoochun.

“Ibunya bagaimana ? sudah baikkan ?” Yoochun menatap mata Hyera yang terlihat agak sayu.

“Hmm” angguknya “aku hanya mengantuk” ucap Hyera.

Yoochun tersenyum “Kalau begitu tidurlah. Sudah malam” Yoochun membenahi anak rambut Hyera yang terlihat tak rapi. Hyera mengangguk.

“Kau sendiri ?”

“Aku masih banyak kerjaan. Kau duluan saja” Yoochun mengusap pipi Hyera yang tampak agak kurusan. Hyera menggeleng.

“ Aku mau menemanimu”  Hyera memeluk lengan Yoochun.

“Hmm.. baiklah, aku kerjakan beberapa berkas lagi. Lalu kita tidur” Hyera mengangguk. Saat Yoochun hendak beranjak dari duduknya,Hyera menahan lengan Yoochun.

“Bisakah kau mengerjakannya disini. aku sangat ingin bersandar dibahumu” pinta Hyera. Yoochun mengangguk dengan senyuman.

“Ah—isteriku mulai manja sekarang. Tunggu sebentar aku akan mengambil berkasnya” Hyera mengangguk.

 

Saat kau terlelap, lalu saat kau bangun. Akan selalu ada matahari hatimu yang menerangi jiwamu. Itu adalah ungkapan untukku bagi keluargaku. Bagi isteriku dan bagi calon anak kami. Kalian yang terbaik, dan akan menjadi yang terbaik. Aku mencintai kalian. dan aku akan selalu mencintai isteriku—Park Yoochun.

 

 

The End….

 

Huweee… akhirnya The end ?? wihii ayokk kita potong tumpeng~~~~
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menamatkan satu FF saya. ^ ^ tinggal menyelesaikan Broken Married.

Kali ini saya ninggalin notes yang panjang dikit gapapa kan ? gapapa dong…

Okela.. ini FF mungkin sudah dari bulan desember tahun lalu, kalau saya nggak salah ingat. Bermodalkan kemampuan saya yang masih abal-abal dan didukung oleh beberapa teman sekelas saya. Ini tulisan chapter saya yang pertama yang berhasil saya tamatkan. Entahlah endingnya tidak pas, tidak greget, tidak cucok, tidak dan tidak yang lainnya.

Karena ini baru pertama ya, jadi mohon maaf atas segala kekurangan FF saya.. terima kasih sebesar-besarnya buat, kka intan, yaya sama temenku Icha dan reders2  yang selalu ngingetin saya untuk mengerjakan ni FF ^ ^

Tanpa kalian saya nggak mungkin ngelanjutin FF ini… jujur, saya senang saat mereka mengingatkan saya. Ternyata masih ada yang menunggu kelanjutan FF Yoo-ra yang aneh bin ajaib ini…

Saya juga berterima kasih pada readers saya yang telah menyempatkan diri untuk membaca karya2 aneh bin ga jelas.. wkwkwk x) semua komentar kalian sangat-sangat berarti bagi saya.. hehehe…

Terus, masalah Siders.. jujur saya nggak pernah mau memaksa readers buat komen, klo emg suka ya dikomen, klo ga ya diem aja juga boleh.. wkwkwkwkwk…

Engg apalagi yak.. suka duka bikin FF.. emm  kebentur mood yang nggak jelas -___- sering banget ini.. hehe makanya saya suka ngaret publish…

 

Sudahlah, pokoknya terima kasih atas semua partisipasi kalian yang sudah membaca cerita saya ^ ^  saya jadi mengenal banyak orang dari berbagai daerah.. hohoho…

Masalah password.. wkwkwk itu karena unsur ketidak sengajaan xD |capek juga loh, nebar2 password..

The last— Part special Yo-Ra couple  tentang pindahan rumah  mereka dan baby mereka ^ ^—

 

Dumai—11 september 2012

Always be Mine the end

 

 

Created by Vivi Angraeni (vivi junsu_kim)

Iklan

19 thoughts on “Always be Mine (Last Chapt)

  1. qoyah cassie berkata:

    Eonn bleh kan aq brkmntar spanjang note eonnie ??

    arhh.. akhrnya berakhir sudah.. huwa !!! aq lebay bgt klo blg ni, tp jujur aq nangis bca chap ni.. hiks.. aq udh trbiasa bgt bca abm, entah gmn klo suatu kebiasaan dhntikan… endingnya memuaskan bgt !!! aq suka kwarto nya msuk smua di chap ni.. apalagi dgn adanya minnie.. eonnie brhasil bkin aq ngakak.. n td eonn tlis ada last part kan ?? wkwkk.. aq tunggu loh eonn..
    oya, cheonmaneyo eonnie!! aq mlah brsa kaya depkolektor yg nagih mulu,. hhaha..
    kya nya kepnjgn ya komen aq ?? wkwkwkk,, oya aQ setuju kok sma prnkhn nya suie,,#sp yg mnta prstjuan ?

    ydh lah sekian dr komen aq, apbla ada kslhn dlm brtutur kata, mhon maaf yg Sebesar2 nya ^_*

  2. evi berkata:

    aq suka banget dengan FF ini asli keren sekalipun masih banyak kekurangan.Tapi namanya juga di dunia ini nggak ada yag sempurna.Untuk Chapter terakhinya ini aq suka dan sengan karena akhirnya happy ending,buat viivii junsu yang ngefans banget ama kim junsu,aq tunggu karya-karya kamu selanjutnya ya.Thx a lot and god bless you

  3. yan-yan berkata:

    Wuahhhh.. Αкυ snang bangettt endingnya… Suka bangettt Dd.. (´▿` ʃƪ)♡(ʃƪ´▽`) apalagi Yoochunnya pnya baby.. ♏ªΰ duduk manis nunggu part specialnya ahh..

  4. keika berkata:

    uwaahhh akhirnya slese., tapi sedih juga., wah chapt ini kompliitt bikin nangis ketawa., senyum2 yang jelas.,berasa jadi castnya hehehe
    ditunggu part spesialnya dan karya 2 karya terbarunya.,
    daebakk

  5. naranara15 berkata:

    ahhh happy end chukkae…
    bkin afstor bleh lah /ditimpukmisskim/ hihi
    suka bgian ending.y yg ps d kamar ituuuu…tp skinship.y kurang chingu hehe 😀 /ketahuan.yadong/
    d tnggu next story 😀

  6. Chori Puspita Sari berkata:

    annyeong eon ..
    maaf ya eon baru sempet komen hehe
    eonni kenapa tamat? aku suka banget pada ceritanya :”
    tapi part yang last ini feelnya dapet banget eon, apalagi yang pas hyera kecelakaan hwaaaa disitu sedih banget eon
    aku sampe takut kalo kejadiannya kaya ibunya yoochun, tapi ternyata berakhir dengan bahagia hehe.
    keren eon ceritanya, biarpun agak engga rela ni ff tamat hiks hiks *dijitak*
    aku tunggu ff eonni selanjutnya ya 🙂
    faighting eon 😉

  7. purple281000 berkata:

    Rasanya sedih ngeliat crta nya tamat (˘̩̩̩.˘̩̩̩ƪ)
    Tapi gpp endingnya daebak! Klo bs bkn ficlet” pasangan ini ya chingu

  8. lestrina berkata:

    Akhirnya selesai juga bacanya, akhir yg membahagiakan. Yoochun n hyera saling mencintai, kasihan changmin ga ada pasangan…sabar ya hehehe.
    Nice ff and I like it.

  9. Hwa Yoon berkata:

    eon daebakkkkkkk……..chukhae yaaaa…jgn lupa broken married sm secret in marriage seleseinnn

  10. Hanifah Hilmi (@ida_hanifah) berkata:

    hah akhirnya bisa selesai baca ff ini ditengah2 mata ku yg udah tinggal 5 watt ini. *elap keringet* aku suka ff ini karna setiap partnya selalu bisa bikin aku penasaran, dan ada beberapa scene yg bikin aku ketawa baca ff ini. selain itu ff ini juga cukup mengobati rasa kangen aku ke oppadeul DBSK. #halahbahasanya. Changmin pelit banget maunya makan dong tapi gk mau ngasih kado. maunya ngelaba terus gk mau rugi haha.

  11. yani berkata:

    great ending…awalnya bener2 nyentuh banget terharu mewek dehh
    tp keren dehh endingnya,
    tp yoohwan kok nggak diceritain diendingnya tp selebihnya 2 jempol buat authornya

Your Comment become spirit for me ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s