sweet and hurt

 

 

Author : Vii2junshu_kim

Cast : Kim Junsu, Song Yura, Lee Gikwang.

 

 

Bandara internasional Icheon tengah dipadati oleh penggemar bola klub AC Milan dan supporter asal Korea. tak heran, karena hari ini adalah kepulangan pemain bermarga Kim yang telah bermukim lama di negeri romatis tersebut, Italia. Lelaki yang dulunya pemain asalah Seoul FC kini bermain diliga besar Seri A, dan menjadi pemain andalan klub berjuluk i Rossoneri. Bahkan saat ini, pemain yang bernama lengkap Kim Junsu itu masuk dalam jejeran pemain yang masuk nominasi ballon d’ or.

Junsu, panggilan akrabnya. Memasuki terminal kedatangan dengan disambut oleh teriakan penggemarnya yang mulai berisik dan membuat gaduh suasana. Junsu melambaikan tangannya kearah mereka.

Kedatangan pria ini ke negara kelahirannya tak lain, karena memenuhi panggilan pelatih Han yang mencantumkan namanya, disalah satu Tim Korea untuk mengikuti kualifikasi piala dunia.

***

Perlahan hembusan angin menerpa setiap pejalan kaki yang melewati taman kecil ditengah hiruk pikuk kota, ada yang tersenyum ketika terpaan itu menyapu rambut mereka, namun ada juga yang merasa gelisah dan tak nyaman ketika terpaan angin itu membuat rambut mereka berantakan. Disalah satu stadion terkemuka dinegara ini, sedang dipersiapkan untuk melaksanakan pertandingan internasional yang mendatangkan bintang-bintang dunia. Beberapa orang sibuk merapikan rumput-rumput hijau dilapangan, ada pula yang sibuk mengecat dinding-dinding pembatas yang ada dideretan bangku penonton.

Beberapa pemain timnasional datang untuk melihat lapangan yang sudah menjadi tempat mereka merumput. Ada yang berdecak kagum dengan suasana baru yang tersaji, dan ada juga yang mengomentari tentang keberadaan wartawan yang telah ditempatkan oleh pihak penyelenggara.

“Aku tak menyangka, lapangan kita akan sebagus ini” celetuk sang kiper sambil menyapukan pandangannya kebeberapa arah.

“Ck.. setahuku, lapangan ini memang sudah bagus dari dulu. Kau saja yang terlalu menganggumi lapangan diluar negeri” celetuk sang kapten, dan melangkah kedalam ruangan yang letaknya ditengah sisi kanan.

“Kau selalu begitu hyeong” celetuknya malas. Yang lain diam tak  menanggapi. Mereka hanya mengikuti sang kapten yang melihat ruang ganti.

“Ini baru yang namanya ruang ganti. Benar-benar nyaman” salah satu dari mereka berkomentar lagi.

“Hmm.. suasana nya dingin, jadi cukup untuk meredam emosi kita jika terpancing” komentar yang lain.

Mereka masih asyik melihat-lihat ruang ganti yang berwarna gelap namun terasa nyaman, ditambah lagi ada beberapa loker baru yang dibeli oleh pihak penyelenggara.

“Ah, maaf aku terlambat” ucap salah seorang lelaki berwajah manis, sambil membungkuk. Warna rambutnya mencolok, seperti warna laut yang terang tapi menyejukkan. Ia lalu mengambil tempat untuk bersalaman dengan beberapa pemain senior dan junior. Tanpa ia sadari tatapan aneh kini mulai menghujaminya.

“Kau.. Kau itu, pemain yang masuk nominasi Ballon ‘d  Or kan ?” tebak salah satu dari mereka. pria berambut biru itu hanya tersenyum sipu. Kepalanya mengangguk. Tak ada sikap arogansi atau sikap sombong, yang ada hanya senyum ramah yang terkembang dibibirnya.

“Sungguh, kau itu Kim Junsu ?” tanya kiper lapis kedua dengan bingung. pemain senior hanya terkekeh geli, melihat juniornya yang hampir kena serangan jantung, karena melihat seorang Kim Junsu.

“Benar, aku Kim Junsu. Memang nya kenapa ?” tanya Junsu

“Aku.. aku sangat ingin bermain denganmu. Ah, benar-benar anugrah untukku bisa bermain denganmu” Kim Jihoon lalu merangkul Junsu dengan semangat, sambil mengguncang bahu Junsu. Junsu hanya terkekeh kecil. Lalu bersikap seperti biasa.

“Terima kasih, semoga kita bisa menjadi tim yang kompak” ucap Junsu lalu memegang bahu lawannya. Jihoon mengangguk mantap.

“Baiklah, nanti saja berkenalan dengan Junsu. Sekarang kita membahas tentang permainan lawan kita. Tim Jepang yang pernah mengalahkan kita dipertandingan persahabatan” ucap sang Kapten. Kim Hyun Joong. Yang lain lalu memfokuskan pandangan mereka pada sang kapten yang tampak tenang.

Hyun Joong mulai menjelaskan detail permainan Tim Jepang, dan mulai memberikan pengarahan sebagai kapten. Ia memberikan beberapa pemain kunci yang dapat  mengecohkan pertahanan mereka. Hyun Joong juga menejelaskan peran Junsu disini.

“Awal permainan kita, aku akan menurunkan Dojoon, Gikwang, dan Lim. Pertahanan seperti biasa. Dan kau Jiyoung, kau akan kumainkan di babak kedua. Karena tenagamu akan dibutuhkan disaat-saat perti itu. dan untuk Junsu. Dia akan kita mainkan jika memungkinkan” terangnya.

“Kenapa Junsu tidak dimainkan dibabak pertama saja ?” tanya salah satu dari mereka

“Tanyakan saja pada Junsu” ucap Hyun Joong sambil melirik Junsu yang duduk dibelakang. Junsu berdiri, kemudian menjelaskan kenapa ia tak ingin dimainkan dibabak pertama. beberapa dari pemain jepang mengetahui tentang permainan Junsu, jadi akan lebih baik jika ia melihat bagaimana kekuatan permainan mereka dahulu, baru ia ikut menyusun strategi dengan pemain yang lain.

***

Gikwang duduk disamping Junsu yang kini tengah  menatap lapangan hijau didepannya. Matanya menarawang jauh, kembali kemasalalunya. Kembali pada masa kecilnya yang membawa kedunia sepak bola seperti ini.

Dunia Junsu kecil terlalu suram untuk dilalui anak seusianya. Orang tua yang telah tiada, dan hanya diasuh oleh paman dan bibi Jung. Jika ditanya ia haus akan kasih sayang, maka jawabannya tidak. dia hanya haus akan kenangannya dengan kedua orang tua kandungnya sebelum mereka meninggalkannya berdua dengan sang kakak kembarnya.

Junsu tersenyum miris, lalu meneguk coklat kalengnya. “Hidup itu memang perih” ucap Junsu pelan. Gikwang hanya mengangguk, lalu melihat rintikan air hujan yang turun membasahi permukaan tanah.

“Berat, dan terjal. Bukan begitu ?” tanya Gikwang, lalu menatap Junsu yang merapatkan jaketnya. Junsu tersenyum, kembali ia menyesap coklat kalengnya.

“Bagaimana dengan karirmu di AC Milan ?” tanya Gikwang pelan. Junsu terdiam sejenak.

“Mereka berencana untuk menjualku ke Madrid. Krisis dana yang dialami AC Milan, tak sanggup mempertahankanku. Dan kau tahu sendiri manajerku bagaimana” ucapnya miris

“Aku harap itu yang terbaik untuk karirmu” Gikwang hanya bisa mengatakan itu

“Ya aku juga. aku dengar mereka akan mendatangkan beberapa pemain liga primer dan bundes liga”

“Yang kau takutkan ?” tanya Gikwang lagi.

“Kau tahu kan, semakin banyak bintang, semakin besar pula ambisi yang diinginkannya. Bersinar terang diatas bintang yang lain, siapa yang tak ingin ? kompetisi sebenarnya ada didalam klub itu sendiri” ucap Junsu pelan.

“Kau benar. Aku yang hanya diklub korea saja sudah merasakan persaingan panas. Apalagi kau ya” ejeknya pelan. Junsu mendengus

“Seperti itulah. Kau harus bisa beradaptasi dengan lingkungan disana. Dan itu wajib” ucap Junsu

Gikwang terkekeh geli. “Lalu bagaimana dengan gaya hidupmu ? apakah kau juga mengikuti gaya orang barat ?” tanya Gikwang tersenyum menggoda

“Sialan kau. Aku masih memegang adat Timurku. Camkan itu” balasnya.

Mereka terdiam, memilih rintikan hujan yang makin deras untuk mengisi kediaman mereka.

“Kemarin aku dengar, Yura dirawat dirumah sakit” ucap Gikwang pelan. Lama, baru ia berani memandang wajah Junsu yang berubah menjadi muram. Junsu hanya menghela napasnya. Lalu menyesap coklat kaleng nya sampai habis.

“Dia, belum mau aku temui sampai saat ini” ucap Junsu kecut. Gikwang hanya menatap sendu sahabatnya.

“Tanpa kau tahu, dia selalu duduk dibangku dimana kau dan dia tertangkap kamera sedang duduk berdampingan”

Lengkungan senyum yang terasa miris kembali diguratkan Junsu. “Eh, kenangan itu terasa menyakitkan, saat dia tak disini” Junsu menghela napasnya pelan.

Gikwang diam. “Kalian hanya perlu bertemu dan berbicara  baik-baik” saran Gikwang pelan.

“Dan kau pikir dia mau melihat diriku ?” tanya Junsu sedikit skeptis.

Gikwang tak berani berkomentar lebih banyak. Pada kenyataannya, memang Yura enggan melihat Junsu, apalagi setelah insiden perselingkuhan Junsu yang mencuat kepermukaan. Gikwang menghela napasnya.

“Sudahlah, jangan membahas masalah aku dan Yura lagi, toh pada akhirnya kami juga tak bisa bersamakan” gumamnya miris. Gikwang hanya diam. Antara ia dan tidak. sebenarnya jika dilihat dari sikap keduanya, mereka masih saling ketergantungan. Antara Junsu dan Yura. Ada sebuah ikatan yang memang tak bisa dilepas. Itu menurut Gikwang. Tapi sepertinya takdir membuat keduanya harus berpisah sementara waktu.

***

Ruangan putih yang didominasi bau karbol mulai menyengat dan masuk kedalam indera pencium gadis itu. ia mengerjapkan matanya dengan pelan, awalnya ia kaget mendapati dirinya ada diruangan berbau menyengat itu, namun semua ingatannya kembali terkumpul, semua penyabab ia ada diruangan ini sudah menjawab pertanyaan yang sempat melintas diotaknya.

Ia menghela napasnya berat. Disisinya tak ada lagi sosok lelaki yang selalu duduk cemas menungguinya. Tak ada lagi ocehan panjang yang sering mengganggu indera pendengarannya. Perlahan airmatanya turun, mulai membahasi kelopak matanya, namun segera ditahan.

Mengalihkan seluruh perhatian otaknya, Yura mulai menyambar ponsel smartphones nya yang ada dinakas samping tempat tidur. Ia mengutak-atik beberapa jejaring sosial yang melengkapi ponselnya. Senyumnya berkembang kala melihat begitu banyak cinta kasih yang di tuangkan oleh penggemarnya.

Yura lalu menutup aplikasi ponselnya, mulai mencari berita-berita terbaru yang ada dimedia saat ini. awalnya ia ingin mengalihkan seluruh isi otaknya agar tidak memikirkan lelaki itu lagi. Tapi apa daya, saat melihat fotonya yang terpampang jelas di layar ponselnya, membuat seluruh luka dan kenangan itu merebak kepermukaan.

“Kau, semakin tampan” ucapnya pelan, tapi terdengar miris, dan sesal. Pipinya sudah basah oleh air mata yang menetes dengan perlahan. Yura mengusap pelan air matanya, dan jari tangannya menelusuk wajah tirus yang ada didalam layar ponselnya.

Yura melihat headlines berita itu. agak kaget melihat Junsu kembali ke Korea setelah sekian lama berada di Itali. Tepatnya di Milan.

“Kau kembali, apa karena wanita itu ?” ucapnya parau. Ingatannya kembali lagi, pada masa dimana, ia mendapati Junsu sedang berjalan dipusat perbelanjaan dengan gadis berambut cokelat, beberapa wartawan juga sempat menangkap mereka tengah berpegangan tangan, bahkan wanita itu tak segan menempel disamping Junsu dengan manjanya.

Air mata Yura mendesak keluar. Yura sudah tak mampu lagi, menahan airmatanya, ia hanya membiarkan airmata itu jatuh membasahi pipi tirusnya.

“Bahagiakah, kau dengannya ?” ucapnya memandang foto Junsu yang tengah tersenyum didepan kamera wartawan.

Puas ia memandang wajah Junsu, Yura lalu mematikan ponselnya. Perlahan ia menghapus airmatanya. Lalu menyambar remote dan menghidupkan televisi. Dan mungkin hari ini adalah hari tersial gadis itu. wajah Junsu kembali uncul dilayar itu.

Kembali Junsu membuat Korea cukup gempar. Selama lima tahun ia merintis karir di negeri romantis itu, kini ia kembali dengan segudang prestasi yang membuat orang berdecak kagum dengannya.

Hati gadis itu ingin sekali mengganti chanel televisi dihadapannya, namun jarinya seolah tak dapat digerakkan. Ia hanya bisa terpaku melihat senyuman manis Junsu yang melambaikan tangannya didepan kamera.

“Kapan aku bisa melihat senyummu lagi ?” ucap Yura parau.

Yura membiarkan liputan berita tentang kepulangan Junsu berlanjut, tanpa ia pindah. Sampai berita tentang masalah asmara Junsu dibahas. Jantungnya berdegup, pertanyaan utama dalam benaknya adalah. Apakah Junsu Sudah memiliki seorang kekasih ?

Junsu tersipu sejenak. lalu angkat bicara “Masalah hubungan asmara, saya rasa itu privasi saya” ucapnya lalu berlalu meninggalkan wartawan yang mulai mengambil gambarnya. Tak lama wajah seorang presenter mengambil alih berita.

Nafasnya tercekat, entah kenapa rasa penasaran dalam dirinya begitu besar. Rasa ingin tahunya tentang kehidupan Junsu saat ini membuatnya seperti orang linglung.

“Kau sudah sadar, Yura ?” Yura melihat kearah pintu masuk, ternyata maaejernya. Yura hanya mengangguk lesu. Jihyu lalu menilik kearah televisi yang tengah menyala. Ia tampak tak tenang, lalu melihat kedaan Yura yang sepertinya kurang baik.

“Tenangkan hatimu, oke” ucapnya sembari mengelus bahu Yura sayang. Yura mencoba tersenyum, untuk membuat hati sang manajernya tenang, tapi ia sama sekali tak bsia menarik bibirnya untuk membuat lengkungan itu. Yura hanya bisa mendesah pasrah. Ini kali keduanya ia terpuruk, setelah lelaki itu memilih untuk mengakhiri semuanya, dan meninggalkannya dalam sebuah lingkup cinta yang rumit.

Yura tahu, perlahan semua masalah ini akan muncul. Mereka memulai hubungan, bukan karena ketulusan dari kedua belah pihak. Mereka terjebak dalam situasi rumit, hubungan tanpa pondasi lama kelamaan akan rapuh juga. seperti itulah yang dilalui oleh Yura.

Awalnya memang ia, hanya menganggap Junsu adalah orang asing yang memasuki kehidupannya, tapi lama kelamaan lelaki itu, beralih mengambil hatinya. Mengambil seluruh oksigennya, dan mengambil seluruh pusat kehidupannya.

Dari awal, alarm pengingat terus bergemuruh dikepala Yura. Sebisa mungkin ia mencoba untuk mengacuhkan semua perasaannya terhadap lelaki itu. tapi apadaya nya. Ketika rasa nyaman itu menelusuk dalam dirinya, ia tak bisa mengelak, tak bisa membohongi dirinya, dan tak bisa berkelit dari perasannya.

“Aku, butuh waktu untuk sendiri Eoni” ucap Yura pelan. Jihyu hanya mengangguk, lalu meninggalkan ruang inap Yura.

Yura menghela napasnya. Lalu perlahan ia mulai mengontrol perasaannya seperti biasa. Perlahan ia mencoba menata hatinya lagi. Ia harus bersikap seperti Yura lima tahun ini, Yura yang diam, Yura yang tak berperasannya, dan Yura yang sangat menggilai pekerjaannya sebagai model dan aktris. Yura harus bisa melupakan lelaki itu, walau pada kenyataannya tak sedikitpun kenangan tentang lelaki itu terhapus.

***

 

Beberapa pemain bersiap dengan pertandingan kali ini, mereka mencoba untuk merileks kan seluruh persendian mereka, agar nantinya tak terjadi kegugupan. Junsu menyemangati beberapa juniornya yang mulai menggantikan pemain senior yang sudah tidak dipanggil oleh pelatih tim nasional. Ia memberikan senyuman hangat pada semuanya.

Walaupun kini perasannya sedang tak tertata dengan rapi, tapi ia mencoba untuk memberikan performa yang terbaik. Gikwang melihat teman seperjuangannya dengan tatapan penuh selidik. Lelaki itu pandai sekali menyembunyikan semua perasannya. Pikir Gikwang.

“Hey, jangan terlalu banyak melamun” seru Dojoon sambil menyentuh bahu Gikwang. Gikwang hanya tersenyum kecil, lalu mulai memasang sepatu bolanya. Yang lain sudah bersiap, ada juga yang tengah berdoa, agar diberi kelancaran dan kemenangan untuk tim kesebelasan mereka.

Junsu tersenyum menyaksikan seluruh pemain yang bersemangat. Tak lama, ia terdiam, lalu memandang kearah tas sport yang terletak didalam lokernya.

Junsu membuka perlahan loker berwarna biru itu, lalu membuka dan mengambil sesuatu yang ada didalam lokernya. Sebuah ban lengan hitam yang diberikan gadis pemilik hatinya. Junsu mengsap ban hitamnya. Lalu memakainya dengan cepat.

“Kau pelengkapku, aku harap kau melihatku nanti” ucapnya pelan. Ia yakin, gadis itu pasti melihatnya. Mengingat Gikwang selalu berseru, jika gadis itu selalu duduk dibangku yang sama. Bangku dimana skandal mereka beredar. Bangku yang mempertemukan mereka dalam sebuah lingkup percintaan yang rumit. Antara cinta dan kesalahpahaman.

“Ayo semua bersiap” seru Hyun Joong lantang. Yang lain bersorak menjawab seruan Hyun Joong.

***

Jihyu merapikan beberapa barang milik Yura yang tertinggal dirumah sakit. Tadi malam gadis itu meminta untuk rawat jalan, karena penyakitnya tak terlalu parah. Ia hanya mengalami anemia dan dehidrasi. Kesibukannya akhir-akhir ini selalu membuatnya melupakan kesehatan dan hal lainnya. Jihyu sudah paham mengapa Yura selalu menomersatukan pekerjaannya.

“Permisi” Jihyu menolehkan kepalanya kepintu masuk. Seorang lelaki yang cukup dikenal nya sebagai seorang atlet datang keruangan inap ini. Jihyu hanya bisa tersenyum dan mempersilahkan lelaki itu masuk.

“Apa kabarmu, Kim Junho  ?” tanya Jinhyu sekedar berbasa-basi. Juno tersenyum lalu memberikan buket bunga yang dipegangnya pada Jihyu

“Baik, tapi sepertinya kedua orang sangat tidak baik” Junho mengucap itu sembari menilik ranjang yang sudah kosong. Jihyu menarik napasnya pelan. Ada sedikit rasa sedih ketika melihat orang yang dianggapnya adik, kini menderita.

“Sepertinya iya. Kapan kau kembali dari Belanda ?”

“Tadi malam. Dan aku mendengar dari bibi Jung, kalau Yura sakit. Beliau tak sempat menjenguk, jadi aku yang datang” ucap Junho. Jihyu tersenyum.

“Sepertinya bibimu masih menyukai anak nakal ini” ucap Jinhyu

“Hmm.. gadis pertama yang dibawa Junsu pulang. Kami saja kaget saya ia memperkenalkan Yura sebagai kekasihnya” ucap Junho mengenang. Jihyu mengangguk.

“Kau mau menemuinya ?” tanya Jihyu sekedar berbasa-basi. Bagaimana pun niat Junho baik.

“Kalau boleh” ucap Junho pelan. Jihyu mengangguk. Lalu mulai merapikan seluruh pakaian Yura, dan bersiap meninggalkan rumah sakit.

Yura duduk santai, menatap televisi yang  menayangkan pertandingan antara Tim Jepang dan Korea. matanya memicing, saat Junsu bersiap untuk memasuki lapangan hijau. Entah sampai kapan, ia harus merasakan kerinduan yang sudah dipendam nya ini. dulu lelaki itu memang menyakitinya, menghancurkan setiap harapan yang ia miliki. Menghempaskannya kedalam jurang kesakitan. Tapi tetap saja, rasa benci itu tak pernah terbersit didalam hatinya.

Ia terlalu mencitai lelaki berambut biru itu. sangat malah.

Pertandingan dimulai, Junsu hanya duduk dibangku cadangan, Yura paham benar. Kenapa Junsu enggan bermain dibabak awal. Tepatnya dimenit awal. Ia ingin melihat bagaimana kemampuan setiap lini musuhnya.

Dulu saat Junsu latihan sepak bola, ia selalu ada dibangku penonton. Melihat sang kekasih bermain dengan semangatnya. Walaupun itu dulu, tapi kenangan itu masih tersimpan amat rapi didalam benak gadis canti itu.

Yura mengusap matanya pelan.

“Kau selalu berhasil membuat aku menangis” ucap Yura parau.

Yura mematikan televisinya, dan bergegas untuk membasuh mukanya.

 

“Oh, Eoni?” Yura agak kaget melihat Jihyu masuk dan meletakkan beberapa belanjaan dan tas—yang berisi pakaiannya—diatas meja.

“Eo, hmm. Ini pakaianmu, dan ini aku belikan macam-macam buah, untuk kesehatanmu”

Yura mengangguk dan memeriksa belanjaan. Tak lama Junho masuk. Yura cukup kaget melihat kakak dari Kim Junsu itu masuk dengan senyum merekah. “Aku menganggumu ?” tanya Juno pelan.

Yura tersenyum menggeleng. “Tidak. oppa apa kabar ?” tanya Yura lalu menghampiri lelaki yang kini menetap dibelanda untuk melanjutkan karir bermain bolanya.

“Baik, kau sepertinya semakin kurus” ejek Junho. Yura tersenyum kecut, namun dengan cepat ia mengubah ekspresi wajahnya.

“Karena kalian disini, bagaimana jika aku masakan sesuatu ?” cetus Yura semangat.

“Kau itu baru sembuh” sergah Jihyu.

“Tak apa. kalian duduklah diruang tengah, aku mau memasakkan seuatu yang special untuk kalian” Yura mendorong bahu keduanya untuk duduk manis diruang tengah. Mau tak mau kedua orang itu mengikuti keinginan Yura. Mereka duduk disofa, lalu menghidupkan televisi.

Keduanya saling berpandangan, ketika televisi itu menyajikan pertandingan Live antara Jepang dan Korea. senyum Junho terkembang. “Aku sudah menduganya” ucap Juno

Jihyu mengangguk pasrah. “Kalau ini, aku sudah tahu lama. Saudara kembarmu saja yang tidak peka. Atau memang terlalu bodoh. Menyiakan gadis seperti Yura” ejek Jihyu geram.

Junho berdehem sedikit. “Aku rasa anak itu perlu disadarkan. Nanti aku coba berbicara padanya” tawar Junho.

“Tidak, biarkan saja. aku tak ingin Junsu bertemu dengan Yura, dan berakhir seperti lima tahun yang lalu. Terlalu menyakitkan”

“Baiklah. tapi apa benar, kita tidak perlu membantu dua orang ini ?” tanya Junho sanksi. Lima tahun bukan waktu yang singkat, itu cukup lama. Dan kedua seperti menghindar, enggan bertemu apalagi berkomunikasi.

“Tidak perlu. Mereka sudah besar. Biarkan saja” ucap Jihyu. Junho mengangguk pasrah.

“Hey kalian serius sekali. ayo makan” ajak Yura sambil mengandeng tangan keduanya.

***

Mereka bersorak gembira, kala kemenangan ditangan Tim Korea. Junsu dan beberapa rekannya memasuki ruang ganti pemain.

“Wah, aku tidak menyangka kita akan menang, mengingat pemain Jepang adalah pemain internasional” ucap salah satu dari mereka. yang lain hanya menanggapinya dengan senyuman. Junsu memasuki ruang ganti dengan wajah yang sulit dijelaskan. Bukannya ia tak senang dengan kemenangan yang didapatnya, ia hanya merasa kurang. Biasanya pada saat seperti ini, seseorang yang selalu menemaninya selalu hadir memberikan sebuah kecerian atau ucapan selamat dengan caranya.

Junsu menghela napasnya pelan. Lalu memilih bergabung dengan yang lain.

“Hey, bagaimna jika kita merayakan kemenangan ini ?” tanya sang kiper. Yang lain menyetujuinya.

“Baiklah, nanti malam jam tujuh, kita berkumpul dicafe King ya” ucap sang kapten lalu masuk kedalam kamar  mandi yang juga melengkapi ruang ganti itu. yang lain bersorak penuh kemenangan.

“Kau ikut ?” tanya Gikwang. Junsu tersenyum mengangguk

“Tentu saja. Kau jugakan ?”

Gikwang mengangguk. Mereka lalu bergegas masuk kedalam kamar mandi, untuk membasuh dirinya.

 

Junsu masuk kedalam kamar tidurnya. Entah kenapa rumah ini terasa sepi sekali, tidak biasanya seperti ini. biasanya ada paman  atau bibinya yang duduk diruang tengah. Tapi hari ini tidak ada, bahkan kakaknya yang biasanya datang untuk sekedar mengajaknya bertanding game pun tak terlihat batang hidungnya.

Junsu tak ambil pusing mengenai ini, ia hanya memilih untuk masuk kedalam kamar tidur, dan bersiap untuk malam ini. perlahan ia menghidupkan lampu kamar. Ia memencet saklar lampu yang ada disamping pintu kamarnya, perhatiannya tertuju langsung pada sebuah bingkai poto yang sampai saat ini tak pernah ia pindah.

Dulu ia sengaja, meletakkan poto itu disana, agar nanti saat lelah datang menghantuinya, ia bisa melihat poto itu, dan lelahnya akan hilang dalam sekejap. Sampai saat inipun, poto itu mampu membuatnya menghilangkan lelah yang terasa dipundaknya. Junsu menutup pintu kamarnya. Meletakkan tas sport nya dikursi yang ada disamping pintu. Ia duduk disana, melepaskan lelahnya.

“Kau sudah pulang Junsu ?” Junsu agak kaget mendengar ucapan Junho yang ada dibalik pintu kamarnya

“Ya, aku sudah pulang. Kenapa ?” teriak Junsu lagi.

Pintu kamar akhirnya dibuka Junho, menampakkan wajah kalemnya yang tenang. “Oh, aku, ingin pergi kerumah temanku. Kau mau ikut ?” tanya Junho. Junsu menggeleng

“Aku ada janji dengan temanku”

“Oh, ah iya. Dikotak makanan ada masakan kesukaanmu. Aku pergi dulu ya dan selamat atas kemenanganmu” kedip Juno lalu meninggalkan adiknya.

Junsu mengangguk “Terima kasih” teriak Junsu. Junho menanggapinya dengan gumaman yang dikerasakan.

Junsu beranjak dari tempatnya, ia melihat kotak makanan yang dimaksud Junho. Perlahan kenangan masalalu itu kembali lagi, wanita itu, menghiasi seluruh memori yang ada dikepalanya. Wanita yang selama lima tahun ini menempati hatinya. “Heh.. haruskah aku bertemu denganmu?” Junsu memegang jantungnya.

 

***

“Hey, siap-siap. kita harus membicarakan konsep pemotretanmu dimajalah ELLE” suruh Jihyu pada Yura. Yura menggumam, tapi enggan bergeming dari posisi semulanya—menghadap layar komputer.

“Kau ini, aku pergi sebentar ya. Nanti saat aku pulang, kau harus sudah siap” perintah Jihyu. Yura menggumam sekenanya.

“Heh.. pemotretan lagi. Baiklah, kau tidak boleh malas kan Song Yura” gumam Yura, lalu bergegas kekamar mandi, dan menyiapkan dirinya.

 

 

Yura dan Jihyu kini duduk disalah satu kafe tempat mereka melakukan diskusi. Kafe ini cukup tertutup Jihyu sibuk menelepon beberapa agensi yang akan melakukan debut untu para artisnya.

“Baiklah, nanti akan saya bicarakan dengan Yura. Terima Kasih Jung-ssi” ucap Jihyu lalu menetup teloponnya. Jihyu memandang Yura. “Kau mau syuting video klip tidak ?” tanya Jihyu

“Siapa modelnya ?” tanya Yura

“Han Jinwo. Bagaimana ?”

Yura berpikir sedikit “Baiklah, atur saja. tapi minggu depan aku minta cuti, sudah lama aku tidak menghibur diri” ucap Yura.

Jihyu mengangguk “Baiklah. itu gampang”

“Well.. kemana pihak yang ingin berdiskusi dengan kita ?” tanya Yura

“Sabarlah, mungkin sebentar lagi”

Yura mengangguk “Aku ketoilet dulu” pamitnya.

Jihyu mengangguk.

 

Takdir itu memang tak dapat ditebak, mungkin saat inilah yang dapat menggambarkan ekspresi antara Yura dan Junsu. Saat tatapan mata Junsu mengunci sosok yang ada didepannya. Junsu tak dapat berpaling, sedangkan Yura hanya diam membatu ditempatnya.

Ia mengutuk siapa yang membangun gedung ini, kenapa saat ia ketoilet harus melewati meja Junsu dulu. Yura berusaha mengubah susana canggung diatara mereka. walaupun terpaut jarak yang cukup jauh. Junsu beranjak dari tempatnya, sedangkan Yura ingin segera menghindar dari pria itu.

Buk…

Lengkap sudah, saat ini pakaiannya kotor, karena terkena tumpahan saos dan minuman yang dibawa pelayan tadi—pelayan yang ditabrak Yura. Yura terdiam sejenak, lalu memandang pelayan itu. “Maaf” ucap Yura, pelayan itu membungkuk, lalu memberikan tisu basah pada Yura.

“Terima Kasih” Yura menerima tisu basah itu.

“Lain kali kau harus hati-hati” suara berat yang serak itu kini ada dibelakangnya. Yura menghembuskan napasnya pelan.

“Hmm” gumamnya berusaha acuh. Junsu diam, lalu membuka jas yang digunakannya.

“Bersihkan ditoilet saja” saran Junsu lalu menggandeng lengan Yura.

 

***

“Apa aku tidak salah lihat ?” komentar Dojoon, yang lain hanya saling pandang.

“Yang tadi, itu benar Junsukan ?” komentar Hyun Joong.

“Tentu saja hyeong” gumam Gikwang.

“Mereka tidak jadi putus ?” komentar Hyun Joong lagi. Gikwang membuang napasnya dengan gusar.

“Tanyakan pada Junsu saja nanti, saat dia duduk disini” komentar Gikwang. Yang lain hanya mengangguk.

 

Bukan hanya mereka yang menatap aneh pada kedua orang itu, Jihyu juga memandang aneh pada pasangan itu. bukankah mereka saling perang dingin, kenapa saat mereka bertemu, ada aura hangat yang terpancar pada mereka. Jihyu menggelengkan kepalanya.

“Maaf menunggu lama” Jihyu memalingkan wajahnya. Jihyu tersenyum maklum, dan mempersilahkan tamunya untuk duduk. Dan dimulailah perbincangan diantara mereka.

 

Junsu menunggu didepan toilet wanita, beberapa wanita yang keluar atau masuk kedalam toilet hanya tersenyum maklum. Junsu hanya diam sambil salah tingkah. Mukanya sedikit memerah, ketika pandangan menggoda atau senyum manis disunggingkan oleh wanita-wanita itu.

Didalam toilet, Yura sibuk merapikan bajunya yang terkena tumpahan saos dan air minum yang dibawa pelayan tadi. “You are so stupid, Song Yura” makinya didepan kaca.

Setelah membenahi diri Yura keluar dari toilet, ia tak mengira Junsu masih tetap menungguinya didepan pintu toilet. “Kenapa kau masih disini ?” tanya Yura sedikit sengit. Junsu diam, memilah kata yang tepat. Ia tak ingin terjadi perdebatan lagi diantara mereka.

“Aku menunggumu. Memangnya tidak boleh ?” tanya Junsu balik

“Ini bukan ruang tunggu. Terima kasih” Yura lalu  memberikan jas yang disampirkan Junsu padanya. Junsu menerimanya.

“Aku tahu, dan aku rasa jas ini lebih pas jika kau yang memakainya. Pakaianmu tembus pandang” ucap nya lalu menyampirkan jas itu lagi dipundak Yura. Perlahan semburat merah merajai pipinya.

“Ck.. aku punya jaket di sana. Jadi tak perlu” bantah Yura, terlanjur malu.

“Jangan membantah, tinggal pakai apa susahnya sih” Junsu merapatkan jasnya pada Yura.

“Tapi ini kebesaran” elaknya.

“Pakai” tegas Junsu. Yura diam. Dan membiarkan jas itu melekat ditubuhnya.

“Aku kedepan dulu” Junsu salah tingkah karena kediaman mereka. Junsu berbalik dan meninggalkan Yura didepan toilet.

“Lagi, kau menjatuhkan aku” gumam Yura pelan. Yura bergegas kembali ketempat duduknya.

 

“Eng.. apa besok akan ada berita besar dimajalah gosip ?” tanya Hyun Joong mengawali. Junsu yang baru duduk hanya diam tak menanggapi ocehan sang kapten.

“Aku rasa ia. kau tahukan, berita seperti ini jarang terjadi di Korea” timpal Dojoon sambil berkedip pada Junsu.

“Kenapa melirik ku seperti itu. lebih baik kalian makan” Junsu lalu menyantap makanannya dengan cepat. Yang lain tersenyum usil, dan melanjutkan makannya.

 

***

Junsu duduk termenung didalam kamarnya. Kamar yang selalu menjadi bagian dari masalalunya. Junsu mendesah. “Aku merindukanmu. Apa kau tahu?” gumamnya, ia berdiri, melirik terang bulan yang merasuki kamarnya melalui jendela kamar yang terbuka lebar.

“Heh..”

“Jadi benar, kau berselingkuh ?” tanya Yura pada Junsu.

Junsu diam malas menjawab. Apa ia harus mengatakan. Benar aku berselingkuh. Sungguh jika itu yang ia katakan, maka seberapa banyak lagi ia menyakiti gadisnya. Ia akui, kata selingkuh itu memang pernah terbersit dikepalanya. Saat kepingan hatinya yang dulu dicuri oleh gadis itu kembali. Gadis yang sebelumnya menjadi pengisi paru-parunya.

“Kalau dia memang yang terbaik untukmu. Aku merelakan kau dengannya” ucap Yura parau. Yura bersiap bangkit dari duduknya. “Sampaikan ucapan selamatku padanya” ucap Yura lalu meninggalkan Junsu yang terdiam ditempatnya.

“Aku yang melepasamu, apa masih pantas aku memintamu kembali lagi ?” tanya Junsu pada kesunyian malam.

‘Dulu memang aku selalu membuatmu menangis, karena itu aku rela melepaskan mu. Berharap kau akan mendapatkan sebuah kebahagian yang lebih. Lebih dari yang aku berikan padamu, aku rasa banyak sekali lelaki yang ingin mendapatkan hatimu. Tapi, dalam lubuk hatiku ketidakrelaan itu juga menelusup. Aku akui, aku menyukaimu. Aku mulai mencintaimu, aku mulai mersakan api cemburu saat kau melakukan skinship dengan lawan mainmu. Tapi apa aku masih berhak, memintamu kembali lagi ? Yura….

Entah sampai kapan, aku bisa memendamnya.’

Junsu mendesah panjang.

 

***

Dalam diamnya, Yura menyesapi aroma mint yang menguar dari jas itu. Wangi yang dulu menemaninya disetiap waktu. Yura mendesah, melamunkan kehidupan kisah cintanya. Entah kenapa, sampai saat ini ia tak bisa berpaling dari lelaki berambut biru itu.

“Kenapa tak kau temui saja dia ?” Jihyu akhirnya membuka suara, ia tak tahan melihat sikap Yura yang terkesan memaksa diri. Memaksa untuk melupakan Junsu sepenuhnya. Tapi hatinya sama sekali tak bisa melupakan lelaki itu.

“Tidak mungkin” tandas Yura pelan.

Jihyu tersenyum. “Apa yang tidak mungkin. bukankah cinta itu butuh pengorbanan ?” pancing Jihyu

“Heh.. aku terlalu lelah menggapainya. Pada akhirnya ia tak pernah memberikan respon padaku” ucap Yura parau.

“Kadang kalian memang tak pernah peka pada apa yang ada dihadapan kalian. coba saja” rayu Jihyu.

“Baiklah, akan aku pikirkan. Tapi setelah kondisiku membaik” ucap Yura pelan. Jihyu mengangguk saja.

“Hmm. Oke..” komentarnya.

 

“Aku kekamar dulu ya Eoni” Yura lalu masuk kedalam kamarnya, tanpa menghiraukan  Jihyu yang masih membereskan beberapa barang bawaannya.

Yura menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidurnya. Tanpa membuka jas itu. Yura menyesap aroma mint yang masih jelas tercium dari indera penciumannya. “Kenapa kau mendekat, saat aku mulai menghapus dirimu dari dalam otakku ?” tanya Yura parau.

“Kau membuatku muak. Sungguh” gelisahnya. Pelan Yura mengatupkan matanya. Berharap penat perasannya menghilang. Namun, bukan rasa itu yang datang, melainkan rasa aneh yang terus bergejolak pada dirinya. perasaan dulu itu kembali muncul. Perasaan dimana ia ingin mendengar suara atau napas hangat dari lelaki itu. Yura mendecak kesal.

“Akhh…” erangnya, lalu menenggelamkan dirinya dibantal.

 

***

 

Junsu dan beberapa rekannya telah selesai berlatih untuk melawan Thailand dipenyisihan grup B. Walaupun mereka menang atas Jepang kemarin, itu tak membuat mereka merasa menang, dan sombong. Itu malah membuat semangat mereka terpompa untuk terus memberikan hasil yang terbaik disetiap laga yang akan mereka lalui.

Mereka kini tengah duduk dilapangan tengah, menikmati waktu luang yang mereka miliki. Karena lusa mereka akan berangkat ke Thailand untuk melaksanakan pertandingan tandang. Walaupun agak berat karena perbedaan cuaca yang dialami, namun mereka cukup profesional dan bijak dalam menyikapinya.

Junsu menegak air mineralnya, dan menyimak perbincangan diatara beberapa pemain yang sedang membahas tentang pernikahan atau hal lain yang menurut mereka menarik.

“Wah, kalau Jiho menikah, maka kita akan mendapatkan keponakan lagi. Aduuh, anak Byun hyoeng saja sudah membuatku lelah” ucap sang kiper dengan nada memelas. Membuat mereka tertawa renyah.

“Ya! Kau” seru Byun dengan lantang.

“Oh, aku ingin menyampaikan, pesan isteriku. Rabu malam, kami mengundang kalian untuk makan malam. Sudah lama kan kalian tak menyicipi masakan isteriku” ajak Baekjin dengan ramah. Anggota yang lain tersenyum bahagia.

“Baiklah. kau ikut jugakan Junsu ?” tanya Hyun Joong

“Hem.. aku ikut” ucapnya.

 

***

Seperti biasanya, setelah latihan usai, Junsu memilih untuk duduk dibangku penonton. Melihat matahari terbenam dari sana. Sambil menyesapi coklat kaleng, Junsu mendesah pelan. Tak lama derap langkah itu menghampiri Junsu, dan memilih duduk didepannya.

“Ada titipan” ucap pria itu lalu memberikan bingkisan pada Junsu

“Dari siapa ?” Junsu mengambilnya. Tanpa membuka lebih dahulu.

“Buka saja, kau akan tahu nanti” komentarnya pelan. Junsu membukanya. Cukup terkejut dengan isinya. “Dia kemari ?” tanya Junsu. Gikwang—lelaki itu hanya mengangguk.

“Ia menitipkannya di pos satpam”

Junsu enggan berkomentar banyak. Dia memilih diam dan mengangguk. “Kau kemari bukan sepenuhnya karena panggilan pelatihkan ?”

Junsu diam. “Apa perlu kau tahu?” tanya Junsu pelan. Gikwang menarik napasnya.

“Aku rasa ia. dan kalau aku tebak, kau kemari karena dia. ehem.. mungkin tepatnya kau merindukannya”

Junsu terkekeh miris. Ia menyesap cokelat kalengnya, lalu beranjak dari tempatnya duduk. “Mungkin. dan mungkin sebelum aku meninggalkan Korea. aku bisa meminta maaf padanya” ucap Junsu lalu meninggalkan Gikwang yang tersenyum kecil.

 

***

Kini lelaki itu berdiri didepan pintu apartemen yang selalu disinggahinya kala ia lelah, kala ia ingin berbagi. Dan kini ia hanya bisa menatap dalam pintu berwarna cokelat yang ada didepannya. Niat awalnya hanya ingin meminta maaf pada wanita itu, namun niat itu seakan goyah, mengingat gadis itu pernah menangis didepannya. Junsu menghela napasnya. Pelan dan gusar. Ia mengangkat tangannya. Mencoba itu memencet bel apartemen yang telah disediakan.

Ting Tong

Bunyi itu bergema,. Membuat jantungnya semakin berdegup lebih kencang dari biasanya. Bahasa tubuhnya kaku, dan keringat dingin membanjiri pelipisnya. Tangannya dingin seketika, gerakan bibirnya tak teratur.

Sekali lagi, ia memencet bel itu, namun tak ada jawaban dari sang pemilik apartemen. Sedikit kecewa ketika tak ada jawaban apapun dari dalam. Junsu menelan ludahnya, dan berbalik.

“Apa yang kau lakukan disini ?”

Junsu diam. Lidahnya kelu. Bukankah ia mencari wanita ini ? dalam diamnya, ia sibuk mencari kata yang tepat untuk mengawali pembicaraan yang terasa canggung diantara mereka.

“Kau mau masuk sebentar ?” tawar Yura yang sepertinya lebih bisa mengendalikan susana hati. Junsu mengangguk. Yura memencet kode apartemen miliknya, dan mempersilahkan Junsu masuk kedalam.

“Kau mau minum apa ?” tanya Yura, lalu menghidupkan lampu ruang depan apartemennya.

“Seperti biasa saja”

Yura mengangguk dan berjalan menuju dapurnya. Disana, Yura menahan napasnya. Senyum kelegaan kini mengalir dari bibirnya. Untung saja, dia bisa mengendalikan suasana hatinya. Walaupun ia tak tahu pasti apa maksud dan tujuan lelaki itu mencarinya. Yura segera menyedu teh hangat untuk Junsu. Lalu menaruhnya dalam cangkir putih yang biasa dipakai Junsu saat berkunjung dikediamannya.

***

Junsu memutar otaknya, yang seakan melamban dan enggan beroperasi dengan benar. Yang ada ia hanya bersikap kaku dan gugup didepan gadis itu. menghilangkan rasa gugupnya, Junsu mulai melihat-lihat apartemen milik Yura. Tak ada yang berubah, semuanya masih sama, kecuali catnya yang sudah diperbarui oleh wanitanya.

 

Yura datang dengan membawa nampan yang berisi teh hijau dan biskuit untuk Junsu. “Silahkan” ucapnya, lalu menaruh nampan itu diatas meja kaca yang menghiasi apartemen bagian depan miliknya. Junsu mengangguk kaku.

“Eng.. apa kau sibuk hari ini ?” tanya Junsu pelan. Matanya menangkap emerald milik Yura yang terasa menghangatkan hatinya.

“Tidak juga. hari ini jadwal ku kosong. Kenapa ?” tanya Yura

“Ada yang ingin aku bicarakan., dan sepertinya tidak disini” ucap Junsu pelan, lalu melirik keruangan ini. Yura mengangguk paham

“Kau yakin ingin keluar ? aku tak ingin gosip itu merebak lagi. Atau mungkin berbalik, Kim Junsu berselingkuh dengan mantan kekasihnya. Aku rasa itu cukup mengerikan jika terjadi” sindir Yura. Junsu menghela napasnya.

“Baiklah, jika kau ingin berbicara disini, aku tidak keberatan. Dan untuk masalah itu, aku ingin menjelaskan yang sebenarnya” ucap Junsu

“Oh.. oke. apa yang ingin kau jelaskan ? kau ingin mengatakan padaku, kalau dia adalah pacarmu yang kau sembunyikan dariku sejak lama ?” tanya Yura parau, namun ia menutupinya dengan nada tinggi.

Junsu memejamkan matanya. Berusaha tenang, dan tidak terpancing emosi Yura yang sepertinya sedang membara. “Anyway, kalau itu yang ingin kau jelaskan lebih baik tak usah” saran Yura pelan. Ia sudah berhasil meredakan emosinya yang meninggi.

“Dan masalahnya, pradugamu salah” ucap Junsu pelan. Yura seakan tertarik dengan apa yang Junsu katakan, ia memicingkan matanya, dan menatap Junsu.

“Dulu, aku akui, aku memang salah padamu. Membiarkanmu berasumsi yang bukan-bukan. Mengenai hubunganku dengan Eun-So—“

“Jangan menyebut namanya” hardik Yura keras. Junsu diam dan berdehem pelan

“Oke, hubunganku dengan wanita itu hanya sebatas teman masa kecil. Nothing else.”

“Tapi hubungan kalian lebih mirip seperti perselingkuhan yang manis” ejek Yura dengan telak.

“Ya, awalnya memang aku berniat seperti itu. Tapi, sungguh. Aku benar-benar bingung saat itu. kau dan dia. kalian sama-sama berarti untukku” ucap Junsu parau

“Benarkah ? aku rasa hanya E-U-N-S-O yang berarti bagimu”

Junsu kesal. Sepertinya penyakit keras kepala wanita ini belum sembuh total. Junsu memberengut kesal, lalu memandang Yura dengan tatapan tajam “Tanggapi secara dewasa SONG YURA” tekan Junsu. Yura diam dan memandang malas—tapi sengit—kearah Junsu.

“Entah kau mau percaya atau tidak. aku sama sekali tak pernah berselingkuh dengannya, walaupun aku pernah berniat. Dia memang pernah menjadi bagian dari kepingan hatiku, tapi kemudian ia mengembalikannya. Tidak tepatnya aku yang mengambil kembali hatiku dan memberikannya untukmu. Jika kau katakan itu gombal, maka aku benar-benar membunuhmu” tekan Junsu.

Yura diam, hanya mencibir atau mendecak. Sepertinya itu cukup membantunya. “Dan, aku kemari untuk meluruskannya padamu. Terserah, kau mau menerimaku kembali atau tidak. tapi yang terpenting, aku sudah memberikanmu jawaban atas apa yang terjadi lima tahun lalu” ucapnya, pelan. Junsu bergegas untuk beranjak dari tempat duduknya.

“Ya! Bisakah kau bersikap normal sedikit” sungut Yura dengan geram “Mana ada cara seperti itu—membentak—untuk meminta kembali cinta seseorang”

“Kalau tidak seperti itu, memangnya kau mau kembali padaku ?” tanya Junsu dengan seringainya. Yura terdiam lalu mencibir lagi.

“Cih.. Kenapa baru sekarang kau menjelaskannya ? kenapa kau tidak menjelaskannya sebelum kau berangkat ke Milan ?” tanya Yura pelan, namun terkesan kekecewaan.

“Dulu, aku pikir aku bisa hidup tanpa kecerewetanmu, dan setelah aku pertimbangkan, ternyata susah sekali menghilangkan lengkingan suaramu dari telingaku” ucapnya cuek. Sepertinya suasanya kali ini dipegang oleh Junsu. Yura mengeram kesal, dan siap melayangkan bantal kecil yang ada disampingnya, kehadapan lelaki yang tengah berdiri menatapnya.

“Kau memang—“ ucapnya terputus oleh kecupan manis yang singkat dari pemilik rambut biru itu.

“Sudahlah, aku malas bertengkar denganmu. Minggu depan aku akan berangkat ke Thailand untuk pertandingan tandang. Kau mau jalan-jalan tidak ?” tawar Junsu lalu melengos meniggalkan Yura.

Yura diam, mencerna ucapan Junsu “ Kau mengajakku kencan ?” tanya Yura dengan sumringah. Walaupun dulu mereka pernah berstatus pacaran, tapi mereka hanya berkencan di gedung stadion,dan selain itu TIDAK.

“Terserah kau mengatakannya apa”

“Cish” Yura mengejar Junsu yang ada didepan pintu apartemennya.

“Well.. sepertinya, jasku masih tersimpan rapi dikamarmu ya” ejek Junsu lalu menautkan jemari mereka menjadi satu. Yura diam. Enggan membalas ucapan Junsu. Sepertinya lelaki itu tahu, kalau jas yang dikembalikan padanya itu adalah jas baru yang ia beli untuknya. dan jas lamanya masih tersimpan diatas kasurnya, karena ia masih merindukan aroma mint milik lelaki itu.

“Yah, aku tahu. aku memang pria yang selalu dirindukan” narsisnya

“Tidak perlu kepedean” timpal Yura malas.

***

“Cerah sekali” sindir Jihyu yang melihat Yura terus tersenyum saat mereka melakukan pemotretan. Yura malas menimpalinya, ia memilih menyibukkan diri dengan tablet ditangannya.

“Ck.. anak ini. kalau sudah begini sangat sulit diatur” komentarnya pelan. Tak lama, Jihyu menangkap sebuah artikel dari koran yang ia baca. Jihyu tercengang saat mendapati poto antara Yura dan Junsu terselip manis diantara beberapa berita manca negara koran itu.

“Kau dan dia, kalian berbaikan ?” tanya Jihyu dengan nada tak percaya.

Yura mengangguk kalem. “Ya Tuhan. Aku benar-benar gila dibuat mereka. ck..” decaknya dengan geram.

“Ish, kalian memang pembuat sensasi ya” ejek Jihyu dengan sengit.

“Ya!.. kemari itu aku lupa memakai alat penyamaran, mana aku tahu kalau mereka mengenaliku dan memotretku dengan sibiru itu” sergahnya cepat, sebelum omelan Jihyu memasuki telingannya.

“Alibi” ejeknya cepat.

“Terserah. Eo, kita harus syuting CF kan ?” alih Yura cepat

“Hmm…” komentar Jihyu cepat.

“Ayoo…” ajak Yura…

“Hey bagaimana beritamu, bagaimana kalau agensi mengamuk ?” pekik Jihyu kesal

“Tidak akan, masa mereka mau melepas tambang emas seperti Kim Junsu. Bagaimanapun Junsu itu menjual” tanggap Yura lalu meperbaiki busananya.

“Kau ini ya…” Jihyu menjitak kepala Yura dengan gemas.

“Tenanglah, oke. kalaupun mereka memecat kita, aku rasa gaji Junsu cukup untuk membuat agensi baru” kikiknya. Lalu meninggalkan Jihyu yang masih terdiam diruang tunggu pemotretan.

“Cish.. Kim Junsu, terusss” ejeknya pelan.

***

Semenjak merebaknya gosip tentang, masalah asmara antara Junsu dan Yura. Junsu selalu diributkan oleh pemberitaan itu, kepalanya sudah hampir pecah mendengar mereka mengoceh sana-sini dan berkomentar disana-sini. Belum lagi, mereka memaksa Junsu untuk menjawab semua pertanyaan tak penting dari mereka—rekan Junsu satu tim—Gikwang sendiri hanya tersenyum kecil, saat wajah Junsu memerah, karena memendam kemarahan.

“Aku tak percaya kalau kalian akan berbaikan secepat ini” komentar Gikwang santai.

“Lima tahun kau bilang cepat ?” tanya Junsu skeptis. Gikwang tertawa

“Itu sih, karena ego kalian saja” ucapnya lalu meninggalkan Junsu. Sebelum lelaki itu benar-benar mengamuk.

 

***

Yura duduk santai menyesap kopi hangat nya diberanda atas,sembari menikmati rintikan hujan yang turun membasi seluruh pemukaan bumi. Senyum wanita itu terus mengembang.

“Ya! Ini pose macam apa?” pekik Junsu dari kamar wanita itu. Yura menggigit bibir bawahnya kesal. Bisa tidak sih, dia diam sebentar dan tak mengomel. Pikir Yura.

“Hey, sejak kapan aku memberi izin untuk berpose seperti ini ?”  pekiknya lalu melempar majalah itu dipangkuan Yura—sambil berkacak pinggang.

“Cck… sejak kapan kau darah tinggi, huh ? marah-marah saja kerjamu” ejek Yura lalu menutup majalah itu.

Junsu mengusap wajahnya frustasi “Ya! Bagaimana tidak marah, kalau kau seperti itu. cish, ingat kau itu calon isteri orang. Berpose seperti itu” ejek Junsu geram.

Yura diam mencerna ucapan Junsu.

“Hey, kapan kau melamarku ? enak saja mengatakan calon isteri” ejeknya

“Sekarang.” Tandas nya cepat. “Eh tidak, tadi saat aku bilang calon isteri. Itu berarti aku sudah melamarmu”

“Ya! Aku tidak terima. Tidak ada cincin, tidak ada ucapan romantis” gerutunya naik darah.

“Cish, memangnya perlu ? bukankah setelah menikah kau dapat sekedar dari cincin atau apalah” ucap Junsu ngotot

“Ya! Pokoknya aku tidak terima. Titik” hardik Yura cepat

“Oh, sayang nya aku terima. Dan itu perintah. Titik”

“Ya!”

Cup…

Yang terdengar hanya rintikan hujan  yang menemani sepasang insan yang sedang dilanda cinta.

 

‘Mereka tahu bagaimana cara melindungi apa yang seharusnya menjadi miliknya. Dan yang kadang tak terpahami adalah, cara yang mereka tunjukkan kepada miliknya’

 

 

The End…

 

Wkwkwkwk…

Oke junsu saya bener2 pingin ngamuk sama kamuu… hiks.. sumpah thu MV bener2 bikin saya ngeremisin kertas ampe bentuk bola-bola… beneran deh minta digantung si mas JUNSU xD … hikss.. okesip.. udah ah saya galaunya… setelah mencoba ber-eksperimen, saya akhirnya bisa mengerjakan FF Junsu.. walopun gaje …

Huee.. nggak tahu ah gimana bentuk thu FF *tutup hati,tutup telinga* plak

Ohhh… Tuhann.. *sambil geleng2*

Ini FF isi entah apaan cobaa.. hufft.. tapi yasudahlah, silahkan dikomeeng, klo perlu dipakein cabee yang pedess…*alias kritik pedes* wkwkwk… kalo ditanya kemana member DBSK yang lain.. jawabannya saya  musuemkan dulu.. kasian capek dia ngalor.ngidul di blog saya*plak*

 

 

Iklan

15 thoughts on “sweet and hurt

  1. naranara15 berkata:

    First??? Asiiik…yeyyy akhir yg manis
    Cerita.y kereeeen,, mudah buat dipahami…dann kyaaaa aku jg gemes liat mv ituuu sumpah nyebelin
    Oiya..ada sdkit koreksi ‘Eoni’ hrus.y ‘Eonni’
    Overall kereeeen bnget…mkin cnta sm changmin*eh* hahaha…
    d tnggu crita” slnjt.y

    • Vii2junshu_kim berkata:

      ohh.. iya terima kasih koreksinya…
      kdepannya aku perbaiki lagi 😀

      eh.. iya thu MV bikin kesel.. hoho.. xD
      jiaa… eh awas kena amuk kyu, selingkuh sama changminkus xD

      makasih uda baca n komen ;D

  2. yan-yan berkata:

    Hai dd.. Cc komentator pertama agy..

    Idih bnran ğªќ romantis x si Junsunya.. ╋╋ム┣┫ム╋╋ム ┣┫ム╋╋ム┣┫ム=)) maaf bukan ngejek yahh, †ªþį bnran masa ngelamar calon istri maksa bgtu.. Buat skuelnya donk dd.. Trus yang secret in marriege kapan mau posting ℓªğî yah??.. Btw tdi MV apa yah?

    • Vii2junshu_kim berkata:

      wkwkwkwk…
      iaa si duckbutt emang ga da romantissnya 😦
      diaa itu.. ga tahu ah.. nyebelin*plak*
      hoho…

      itu ce MV uncomitted… album solo junsu 😀
      nnton deh MV nya, klo bwat bintang hollywood uda biasa Mv begituan, tpi klo junsu yang begituan,,, ga rela*plak*

      ohh.. klo Secret in marriege blm kepikiran.. hoho…
      mungkin nanti.. setelah siapin ABM 😀
      makasih udan komen n baca y c 😀

  3. rinrin berkata:

    ahahaha.. rame banget bikin sequelnya chingu tapi setelah nyelesein abm ya! banyak typonya tapi gak papa masih bisa dimengerti terus ceritanya sih bagus walaupun temanya mungkin biasa tapi bayangin itu junsu jadi emm.. keren banget

    • Vii2junshu_kim berkata:

      SIiiippp…
      aku siapiin ABM dulu,, ni lagi dalam tahap pengerjaan 😀

      jiaa.. klo typo aku emang induknya… *akugapernahteliti*plak

      makasih ya uda komen n baca.. hehe 😀

  4. Chori Puspita Sari berkata:

    seru eon seru hehe
    tapi masih ada yang aku engga ngerti, yang bagian “Mereka memulai hubungan, bukan karena ketulusan dari kedua belah pihak. Mereka terjebak dalam situasi rumit, hubungan tanpa pondasi lama kelamaan akan rapuh juga”
    itu aku engga ngerti eon 😦
    itu ceritanya mereka pertamanya dijodohin gitu eon?
    penasaran eon penasaran ><
    sequel ya eon sequel *puppy eyes* kekeke

    eonnie yakin mau ngegantung junsu oppa? :p

    • Vii2junshu_kim berkata:

      yakin deh, klo dy gendong2 anak orang.. hahaha xD….

      oh itu..
      mereka berdua pacaran karena skandal… hoho…
      entar aku bahas mengenai cerita pertama mereka… buat skuel.. aiih.. ABm aja baru aku garap niii… aku mo ngulang part 10 nya 🙂

      makasih yak udah mau baca 😀

  5. qoyah cassie berkata:

    Hay hay author !!
    hhaha, kakak ipar datang !!
    wkwkk,, akhrx yah bkin ff yg maincast nya suami sndri..
    itu selingkuhannya junsu ya aku..hhahaha
    author nya penggemar bola ya ?? hhaha
    cukup sekian dech komenx..yg psti ni ff romantis !!!

  6. Hanifah Hilmi (@ida_hanifah) berkata:

    Pertama baca ff ini kesannya Yura kayanya menderita banget. aku sempet mikir kalo kaka yang suka sama happy ending mulai bukin ff bergenre angst tapi ternyata ceritanya berakhir manis. ngakak pas baca bagian ini :
    “Dia memang pernah menjadi bagian dari kepingan hatiku, tapi kemudian ia mengembalikannya. Tidak tepatnya aku yang mengambil kembali hatiku dan memberikannya untukmu. Jika kau katakan itu gombal, maka aku benar-benar membunuhmu” #ngegombalgagal wkwk. Bingung pas baca scene Junsu ngelamar Yura, Junsu mau ngelamar apa mau nagih utang? wkwkwk *plak

    • Vii2junshu_kim berkata:

      wkwkwkwk…
      pingin begitu, tapi.tapi ga tega juga biarin suami jadi duda di FF sendiri.. buahaha *dibunuh suie*

      ember, suie tu kagak ada romantisnya sama sekali *tos bareng Yura* wkwkwk

      ada si, cerita yang endingnya gaje masi gantung kaya aadc.. kalo mo bca di wattpad.com aja…
      ini linknya http://www.wattpad.com/user/MrsKims cari yang Felix dan Rana (bukan FF ya) hahaha *saya promosi*

      makasi uda komennnn :p wkwk

Your Comment become spirit for me ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s