Always Be Mine step 10

 

 

 

 

 

 

BELUM DI EDIT DAN BELUM SELESAI.. XD

 

Yoochun baru saja menginjakkan kaki nya di Bandara Kansai atau orang biasanya menyebut bandara Itami. Yoochun melepaskan kaca mata hitamnya, berjalan keluar pintu kedatangan. Tak lama seorang pria paruh baya keluar dari barisan orang-orang yang menunggu kedatangan penumpang lainnya

“Selamat siang Tuan Muda, saya Kiosuke Haide yang akan membawa anda ke penginapan”

Yoochun mengangguk, lalu melangkah mengikuti pria itu, hingga mereka tiba dilaman depan airport Kansai. Haide membuka kan pintu mobil, lalu Yoochun pun masuk kedalam. Yoochun menatap kearah jendela, menikmati semilir angin yang berhembus dibalik kaca jendelanya. Yoochun tersenyum sendiri melihat wajah Hyera yang tampak lucu ketika menangis. Hidungnya yang memerah, dan matanya yang sembab.

“Maaf Tuan Muda, anda ingin kita langsung ke hotel atau mengunjungi perusahaan terlebih dahulu ?” tanya Haide pada Yoochun. Yoochun berpikir sejenak.

“Sebaiknya langsung ke perusahaan, karena saya akan langsung bekerja saja” tanggap Yoochun dengan santai

“B aiklah Tuan Muda” Yoochun mengangguk lalu menutup jendela mobilnya. Mobil berjalan laju menuju Park Interior Corp Cabang Osaka.

Sesampainya disana, Yoochun segera bergegas turun, kepala cabang dan beberapa karyawan menyambutnya didepan pintu utama. Yoochun tersenyum, dan berlalu untuk masuk ke lobi utama. Yoochun mengedarkan pandangannya melihat-lihat seluruh arsitektur gedung di Osaka. Setelah puas mengamati Yoochun langsung naik ke lantai dua, seluruh karyawan perlahan berdiri untuk menyambutnya. Yoochun tersenyum

“Selamat siang” ucapnya dalam bahasa Jepang. Mereka serentak menjawab sapaan Yoochun. “Baiklah, saya tak ingin berbelit, kalian disini dipekerjakaan untuk memajukan perusahaan ini. Jaga stamina dan semangat kalian. kalian pasti sudah mendengar kabar bahwa saham cabang di Osaka turun drastis, jadi selama beberapa bulan kedepan saya sendiri yang akan mengawasi kinerja perusahaan ini”

Yoochun menyelesaikan ucapannya. Beberapa karyawan tampak terkejut dan berkasak-kusuk sendiri. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya direktur utama dari perusahaan pusat mengawasi perusahaan cabang.

Yoochun meninggalkan lantai dua, bergegas keruang kerjanya yang ada dilantai tiga. Yoochun berjalan menuju lift. Kepala cabang lalu mengikutinya dan berdiri disamping Yoochun “Apa kau sudah menyiapakan apa saja yang saya minta ?” tanya Yoochun tanpa mengalihkan pandangannya pada Kepala Cabang.

“Sudah pak, semua yang anda minta telah kami sediakan. Lalu agenda meeting setiap pagi sudah saya beritahu kepada seluruh kepala karyawan di setiap divisi” Yoochun mengangguk. Dan pintu lift terbuka. Yoochun segera keluar dan memilih untuk masuk kedalam ruangannya.

Matanya melirik kepenjuru ruangan, menimang apalagi yang perlu diperbaiki. “Untuk saat ini cukup, silahkan anda keluar” titahnya.

Kepala Cabang itu keluar dari ruangannya.

Yoochun duduk di kursi kerjanya. Nyaman dan melelahkan. “Tugas pertama dihari pertama, melihat laporan keuangan, dan kelokasi proyek” gumamnya lalu membuka beberapa map yang ada didepannya.

***

Hyera melirik jam tangannya, entah berapa kali dirinya bolak-balik melihat jam tangan itu. Chaemi saja sudah sangat bosan melihat teman kampusnya duduk gelisah dan melirik jam tangan terus.

“Ya! Kau ini kenapa sih ?” geram nya. Hyera hanya bisa nyengir. Lalu diam lagi. Dan memandang jam nya.

“Kalau dari Korea ke Jepang kira-kira berapa jam ?” tanya Hyera tanpa ujung pangkal. Chaemi bingung menatap sahabatnya.

“Korea-Jepang ?” gumam Chaemi pada dirinya, sambil memikirkan sesuatu. Hyera menunggu antusias dengan jawaban Chaemi

“Ah, molla (tidak tahu)” geleng Chaemi cepat. Hyera mendengus.

“Memangnya kenapa ?” tanya Chaemi lagi. Hyera menggeleng, lalu meninggalkan temannya. Memilih untuk berjalan-jalan disekitar kampus, siapa tahu dengan begitu pikirannya kembali membaik. Dan tidak tertuju pada seseorang yang tidak pernah memperdulikannya.

“Huh.. semenarik itukah Jepang, sampai kau tak sempat menghubungiku ?” gumamnya. Lalu melanjutkan langkahnya.

Tiiiiinnn

Suara klakson itu cukup mengejutkan Hyera yang tengah melamun dipinggir jalan. Hyera memalingkan wajahnya, melihat siapa yang datang. Ternyata adik iparnya

“Ayo masuk, kita jalan-jalan. Aku bosan dikantor” ajak Yoohwan dengan senyuman. Hyera mengangguk lalu masuk kedalam mobilnya.

“Jadi kenapa kakak ipar melamun dipinggir jalan ?” tanya Yoohwan saat mobilnya melaju diantara beberapa mobil dijalanan utama.

“Yah tidak ada. Eng.. apa dia menghubungimu ?” tanya Hyera

Yoohwan terdiam sesaat, lalu menggeleng “Tidak. mungkin dia sibuk jadi tidak sempat” ucap Yoohwan. Hyera mengangguk, wajahnya menyiratkan sedikit kekecewaan.

“Sudahlah kak, mukamu jangan ditekuk begitu. Tenang saja Hyung tak akan menyeleweng” goda Yoohwan

“Yaiks, anak ini”

Mereka terdiam sejenak, lalu memilih untuk makan siang dicafe Jaejoong.

“Kau pesan apa kak ?” tanya Yoohwan dengan santai, lalu membuka menu makanannya. Hyera berpikir sejenak, lalu memilih salah satu menu, Yoohwan memanggil pelayan yang sedang tak ada kegiatan. Pelayan itu mencatat menu yang dipilih pelanggannya.

Mereka berdua makan dalam diam. Tak lama ponsel Yoohwan berdering nyaring, dengan malas ia menjawab telpon itu

“Ah ye, aunti ada apa ?”

“Kau dimana ? aku sudah di Seoul. sekarang aku menginap di hotel Ritz, ada yang ingin aku bicarakan padamu” Yoohwan memandang Hyera yang masih memakan makan siangnya.

“Baiklah, setelah makan siang ya aunti. Nanti aku kesana”

“Baiklah, aku tunggu”

Panggilan terputus, Hyera lalu memandang adik iparnya dengan tatapan bertanya.

“Adik ibuku. Eo, aku ada urusan setelah ini, kakak ipar tak apakan aku tinggal ?” tanya Yoohwan

Hyera mengangguk. Yoohwan menyelesaikan makanannya dan meminum air putih, setelah membayar makanannya, dia meninggalkan Hyera yang masih ingin berlama-lama disini. Cafe ini mengingatkannya pada pertemuan kedua mereka. Hyera mengulum senyumnya sendiri, mengingat kecanggungan antara dirinya dan Yoochun.

“Wahh Nyonya Park sendirian saja ?” Hyera menoleh, melihat Yunho dibelakang, Hyera berdiri dan tersenyum pada Yunho.

“Apa kabar ?” tanya Hyera, lalu mempersilahkan Yunho duduk di bangku kosong yang ada didepannya.

“Kabar baik, tadi aku melihat Yoohwan. Kemana anak itu ?” tanya Yunho

“Dia ada urusan sepertinya. Maklum direktur baru” kekeh Hyera. Yunho mengangguk. Mereka terdiam sejenak.

“Ah, aku dengar kau sudah mulai magang  ya ?” tanya Yunho lalu membuka menu makanan. Hyera mengangguk.

“Ya, mulai minggu depan aku akan magang di Seoul Hospital” senyumnya.

“Semoga lancar ya. Eo, bagaimana Chunie, apa dia menghubungimu ?”

Hyera menggeleng. “Masih belum” jawabnya lemah. Yunho tersenyum, lalu memanggil pelayan untuk memesan makanannya. “Tenang saja, dia tak melupakanmu kok. Mungkin belum sempat menghubungimu. Dulu kami juga pernah tak dikabari olehnya selama beberapa minggu, alasannya karena sibuk. Aku harap kau mau banyak bersabar ya” saran Yunho. Hyera mengangguk

“Aku akan selalu bersabar kok”

Mereka meneruskan pembicaraan dibeberapa topik, tanpa mereka sadari Junsu dan Changmin ternyata sudah ada dibelakang mereka. lalu ikut bergabung dengan mereka

 

Ritz Hotel

“Jadi mereka berdua sudah ada kemajuan ?” tanya wanita itu, lalu menyodorkan cola pada keponakannya. Yoohwan mengangguk, lalu mengambil colanya meneguknya sesaat

“Ia, ternyata dewi fortuna berpihak pada kita. Jadi kita bisa menjalankan misi perdaiaman antara ayah dan kakak dengan mudah. Tapi, aku yang menjadi korban keadaan” keluh Yoohwan, mukanya sudah suntuk dan datar meningat seumpuk berkas yang harus diperiksa, lalu kelapangan untuk melihat proyek. Yoohwan mendengus kecil dan memandang auntie nya yang duduk tersenyum.

“Bebaktilah sedikit” omel tantenya “Syukurlah. Kalau begitu kapan kau ke Virginia ?”

“Bulan depan. Oh Tuhan padahal aku kemari untuk liburan” keluhnya

Wanita itu hanya tekekeh geli mendengar penuturan keponakannya. “Aunt sendiri kapan menikah lagi ?” ucap anak itu santai.

“Nanti saja, aku malas untuk memulai hubungan yang serius. Ah ia, bagaimana kabar menantuku?”

“Oh kakak ipar ya ? baik, dia dan Hyung mulai berhubungan dengan baik. doakan saja aku cepat dapat keponakan”

“Eh ? kalau kau dapat keponakan aku jadi seorang Grandma. Oh Tuhan, aku tidak mau tua secepat itu” keluh wanita itu, Yoohwan hanya tertawa

“Grandma yang cantik” godanya

“Kau ini, lalu hubungan ayah dan kakak mu bagaimana ?” tanyanya lagi, Yoohwan terdiam sejenak, meletakkan colanya diatas meja.

“Hyung  sepertinya sudah mulai untuk memaafkan ayah. Tapi yah begitulah, responnya masih sangat kecil. Terkadang bisa hangat dan kadang-kadang juga amat menyebalkan” keluh Yoohwan

“Kau bersabar saja. Baiklah, lalu kapan aku akan menyusul hyungmu ?” tanya Aunt nya

“Aku menunggu Aunt menikah baru aku yang akan menikah” ledeknya dengan santai, lalu beranjak dari tempat duduknya, dan merapikan pakaiannya.

“Aunt, aku harus pergi dulu sebelum sekertaris hyung mengomel padaku. Merepotkan sekali jadi direktur” cecarnya, lalu memeluk Aunt nya sekilas.

“Baiklah pak direktur, selamat berkencan dengan kertasmu dan jangan mengomel. Sekali-sekali merasakan tugas hyungmu”

“Baik Aunt, aku pergi”

***

Malam telah beranjak menempati singgananya, beberapa orang dikantor itu terlihat masih asyik dengan kegiatan mereka. ada rasa segan yang bercampur dengan kekaguman pada sosok direktur mereka.

Sampai jam segini pria itu masih betah duduk dibalik meja kaca, memeriksa ulang beberapa laporan keuangan, dan laporan marketing beberapa bulan terakhir ini.

“Ah melelahkan” ucapnya, lalu merenggangkan otot tangannya, dan beranjak dari tempatnya duduk. Menyesap kopi hangatnya yang ada diatas meja. Sesekali ia melirik ponsel smartphonenya, berharap nomor itu akan menghubunginya.

Tapi ternyata harapannya sia-sia.

Decakan kesal terdengar jelas dari bibirnya, sesekali ia melempar pandang kearah kertas yang ada dihadapannya.

“Oh Tuhan” keluh nya lalu mengusap wajahnya. Tanpa menunggu lagi ia menyambar ponselnya dan memencet nomor interlokal yang telah dihapalnya.

Yang terdengar hanya suara penjawab operator, Yoochun mencoba lagi, dan nada itu terulang kembali. Ada rasa kesal dalam dirinya, namun segar ditepisnya. Akhirnya ia memilih untuk menghubingi nomor Yoohwan.

“Ya hyung” ucap adiknya dengan santai

***

Hyera duduk diruang tengah menemani ayah mertuanya yang juga ikut menonton televisi, menampilkan beberapa berita dalam negeri. Yoohwan yang baru bergabung, hanya melihat-lihat dengan malas.

Ponsel Yoohwan berdering, membuat ayahnya terganggu, dengan malas ia beranjak dan duduk diberanda rumahnya.

“Ya hyung” ucap nya setelah melihat pemiliki nomor ini

“Kau dimana ?” tanya Yoochun langsung. Yoohwan mendecak kesal

“Aku dirumah hyung, kenapa ?”

“Baguslah, bisa berikan ponselmu padanya ? aku ingin berbicara dengannya”

“Yaiks, kau itu ya. Dasar tidak sopan. Baiklah aku kedalam dulu” Yoohwan lalu masuk kedalam rumah dan menemui Hyera yang duduk santai. Hyera agak kaget ketika mendengar Yoochun ingin berbicara padanya.

Hyera lalu menyambut ponsel adik iparnya dan berjalan keluar rumah, memilih duduk diberanda belakang, menikmati angin malam.

“Ya” sapa Hyera pelan, Yoochun menghela napasnya lega. Sudut bibirnya membentuk lengkungan indah yang sedap dilihat, perlahan rasa lelahnya menguap entah kemana. Yang ada hanya secercah kerinduan.

“Bagaimana kabarmu ?” tanya Yoochun langsung, nada nya terdengar ceria. Hyera terdiam sejenak.

“Aku baik-baik saja, kau sendiri bagaimana ?”

Yoochun tersenyum kecil, lalu merubah posisi duduknya agar lebih rileks “Buruk” ucapnya lagi

“Buruk ? tapi kenapa nada suaramu terdengar ceria” sungut Hyera agak heran

“Tadinya buruk, tapi saat mendengar suaramu entah kenapa rasanya begitu nyaman” ia lalu menghela napasnya perlahan. Pipinya bersemu merah.

Keadaan Hyera juga tak jauh berbeda, senyumnya mengembang dengan sempurna. Kekesalannya tadi pagi kini entah hilang kemana. “Kau belajar menggombal dari siapa ?” ucap Hyera santai

“Menggombal ?” senyum Yoochun.

“Aku tidak menggombal kok, itu datang dari hatiku. Maaf ya aku baru bisa menghubungimu, keadaan disini benar-benar sangat kacau” hela Yoochun, dalam nadanya terdapat sedikit rasa lelah dan penyesalan.

Hyera juga merutuki dirinya yang bersikap egois, berpikiran buruk pada suaminya. “Hmm.. kau jaga kesehatan ya”

“Baiklah isteriku”

“Ish, sudahlah, kau sudah makan ?” tanya Hyera mengalihkan pembicaraan.

“Belum, aku juga belum mandi dari tadi, dan sekarang aku masih dikantor. Huh.. membuang waktu sedikit saja akan menghasilkan tumpukan berkas yang harus aku periksa” Yoochun lalu memijat pelipisnya.

“Kalau meneleponku membuang waktumu jugakan ?”

Yoochun diam, begitu pula Hyera. dalam benak Hyera, ia berharap Yoochun mengatakan tidak. Yoochun sendiri hanya diam mengulum senyumnya, pertanyaan Hyera cukup membuatnya terhibur.

“Menurutmu bagaimana ?” Yoochun mengembalikan pertanyaan Hyera.

“Aku duluan yang bertanya, kenapa bertanya balik sih” sungutnya kesal. Yoochun terkekeh

“Baiklah Nyonya Park, aku rasa kau sudah tahu apa jawabanku, aku tahu kau hanya memancingku” ucap Yoochun lalu meletakkan beberapa berkas yang barusan ditanda tangan nya kedalam laci kerjanya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia bersiap pulang keapartemennya yang ada di daerah ini.

“Siapa yang memancingmu, sudahlah. Aku mau tidur sudah malam” sungut Hyera lalu mematikan posenlnya. Yoochun terdiam memandang ponselnya, lalu tersenyum sendiri.

“Kau marah Nyonya ?” kekehnya lalu meninggalkan ruangannya, dan bergegas menelpon supirnya.

***

“Ish kau memang menyebalkan” Hyera merutuki ponsel itu dan hendak membuangnya.  Namun diurungkannya karena ia sadar itu bukan miliknya, Hyera berjalan masuk dan memberikan ponsel adik iparnya lalu bergegas untuk tidur.

Menit mulai berganti menjadi pergantian jam, namun mata Hyera tetap terjaga. Pikirannya menerawang jauh pada hari pelepasannya nanti. rasanya ia ingin sekali Yoochun datang dan memberikan seikat bunga pada saat itu, namun mengingat kesibukan Yoochun, Hyera hanya bisa menghela napasnya.

“Semoga saja ibu, ayah dan abonim bisa datang” ucapnya lirih. lalu mencoba untuk memejamkan matanya lagi.

 

Hyera terlihat sedikit lesu, dan hal ini disadari oleh beberapa orang yang memang sering melihat Hyera menatap mereka tak bersemangat. Bagaimanapun Hyera sudah terbiasa terbangun dan melihat sosok Yoochun disampingnya, namun kini yang ada hanya aroma Yoochun yang melekat disamping tubuhnya.

“Selamat pagi” ucap Hyera lalu menaruh masakan Lee Ajjuma diatas meja makan. Tuan Park dan Yoohwan hanya tersenyum mengangguk. Yoohwan sendiri memilih diam, enggan untuk mengusuli kakak iparnya. Hal pertama karena sang suami tak ada.

“Lusa kau ada acara di kampus kan. Kalau tidak salah pelepasan mahasiswa ?” tanya Tuan Park sembari menyendokkan makanannya kemulut. Hyera mengangguk, hanya tersenyum kecil yang sangat dipaksa.

“Wah, kau dapat tempat magang dimana kakak ipar?” tanya Yoohwan santai

“Seoul Hospital” jawabnya singkat

“Sayang sekali hyung tak ada disini. coba kalau dia ada, pasti dia akan menghadiri acara kakak ipar” seru Yoohwan tanpa dosa. Hyera terdiam mengangguk

“Yoohwan selesaikan makananmu cepat. Bukankah kau ada rapat hari ini” ingat Tuan Park dengan nada menekan. Yoohwan mengangguk kaku, menyadari kesalahannya yang mengingatkan Yoochun.

“Abonim, Yoohwan, aku duluan ya. Hari ada beberapa berkas yang harus aku serahkan kekampus” Hyera beranjak dari tempatnya duduk.

“Hmm.. hati-hati ya” ucap Tuan Park lagi

Hyera mengangguk dan meninggalkan rumahnya.

***

Yoochun terbangun agak siang, mungkin karena kelelahan. Semalaman ia mengerjakan beberapa contoh proyek yang akan dijelaskannya pada bagian marketing dan creativ. Yoochun mengusap mukanya, lalu merenggangkan badannya. Merasa lebih baik, Yoochun memilih duduk sebentar diatas ranjangnya.

“Ah, melelahkan” ucapnya lalu memandang sejenak kearah samping tempat tidurnya. Tempat biasa Hyera sedang terlelap. Yoochun tersenyum geli “Kau semakin gila Park Yoochun” ucapnya lalu bangkit dari duduknya dan bergegas kekamar mandi.

Yoochun memasang dasinya di depan cermin. Perlahan kebiasaan Hyera yang suka membenarkan letak dasinya muncul dalam ingatannya. Lagi dan lagi Yoochun hanya tersenyum. Perasaan itu membuatnya agak risih dan gelisah. Walaupun itu memiliki sisi yang menyenangkan.

“Aku jadi tahu, bagaimana efek dirimu padaku” ucap Yoochun pelan, lalu mengambil jas kerjanya yang tersampir dikursi sampingnya.

Yoochun mengerjakan tugasnya kembali, menenggelamkan dirinya dalam kesibukannya.

Ponselnya berdering nyaring, membuatnya harus meletakkan berkas yang baru dibacanya, ternyata Yoohwan. Mau tak mau Yoochun menjawab deringan ponselnya.

***

Chaemi memandangi Hyera yang sedang duduk diruang pustaka, membaca beberapa jurnal kedokteran yang ada disana. Chaemi merasakan ada sesuatu yang aneh dalam diri temannya. Ya, aneh. Tidak biasanya Hyera gila belajar seperti, jika bukan karena kesal atau mungkin sedang dalam masalah. Chaemi mendekati Hyera.

“Kau sedang ada masalah ya ?” tanya Chaemi santai. Hyera menutup jurnalnya, lalu memandang Chaemi dengan tatapan kesal. Chaemi merutuki dirinya yang membangunkan sisi gila Hyera.

“Jangan memandangku seperti itu” titah Chaemi kesal.

“Jangan ganggu aku. aku sedang kesal” ucap Hyera pelan lalu melanjutkan aktivitasnya.

Chaemi diam sejenak, lalu memilih untuk meninggalkan Hyera, percuma juga kalau sekarang ia mengganggu Chaemi, anak itu jika diusik akan mengamuk lebih parah.

Chaemi berjalan melangkah kekelasnya, namun langkahnya terhenti saat melihat Jang Woo. Mukanya agak lebam dibagian hidung, membuat beberapa orang meliriknya dengan tatapan aneh.

“Apa sunbae dihajar suami Hyera ??”pikirnya sendiri.

Jang Woo menatap Chaemi, lalu mendengus kesal. Ia menghampiri Chaemi “Sahabatmu harus membayar semua ini dengan setimpal” ucap Jang Woo tajam. Chaemi terdiam sesaat, rasa gugup itu mendera dirinya

“Apa maksudmu sunbae ?” tanya Chaemi, berusaha menahan kegugupannya agar tak terlihat jelas didepan sunbae nya.

“Ini” ia menunjuk hidungnya “Ulah sahabatmu” ucapnya lalu meninggalkan Chaemi yang masih membatu, mencerna apa yang dimaksud Jang Woo. Ulah Hyera ? sejak kapan Hyera menjadi wanita anarki ? pikir Chaemi.

Didalam perpustakaan Hyera terdiam sejenak. lalu mengaktifkan ponselnya. Berharap Yoochun akan menghubunginya, walaupun kemungkinan itu tipis.

Untuk menghilangkan suntuknya, Hyera memilih meninggalkan perpustakaan, kakinya hendak melangkah ketaman belakang kampus, tapi melihat Jang Woo yang memandangnya sengit, Hyera menghentikan langkahnya.

Jang Woo tersenyum sinis kearah Hyera, Hyera hanya diam ditempat, melihat gerak-gerik Jang Woo yang mulai memuakkan.

“Kau wanita murahan” ucap Jang Woo dengan nada yang cukup membuat orang disekitar memandangi mereka. Hyera diam tak berkomentar. Emosi nya tadi malam saja belum sepenuhnya mereda, masalah pelepasan magangnya juga masih membuat kepalanya ingin pecah, dan sekarang Jang Wo ingin menambah masalah ?

“Kau, apa kau pikir kau berhak membuat hidungku seperti ini ? dengar ya, aku mendekatimu karena taruhan, dan kau jangan pernah merasa besar kepala, kau pikir aku menyukaimu ? cish” dia mendecih lalu meneruskan ucapnnya “Aku kasihan sekali dengan suamimu, mendapatkan isteri sepertimu, harusnya kau mengaca, kau itu tidak cantik, tidak feminim, dan satu hal yang penting, dalam dirimu tak ada yang menonjol, selain kepintaranmu” selesai mengucapkan itu Jang Wo meninggalkan Hyera.

Hyera diam-diam mencerna perkataan Jang Wo, dalam dirinya memang tidak ada yang menonjolkan kesempurnaan sebagai seorang wanita. Hyera memilih untuk meninggalkan tempatnya berdiri dan berlari ke toilet, entah kenapa perkataan Jang Wo sukses membuat hati terluka, membuat nya bertanya-tanya tentang kesetiaan dan sikap Yoochun selama ini.

Hyera menangis dalam diamnya, setelah puas menuangkan seluruh airmatanya, Hyera memilih untuk segera pulang kerumahnya, memilih untuk menenangkan dirinya, menenangkan perasaannya, menata hatinya.

Setelah pikirannya agak tenang, Hyera mencoba untuk menghubungi Yoochun. Tapi yang terdengar hanya nada penjawab operator. Hyera menghela napasnya pelan.

“Apa aku memang tak berarti untuknya ?” pikir Hyera dalam hatinya. Perlahan ia menahan sesak dalam hatinya.

 

***

Yoohwan melihat sikap aneh pada kakak iparnya, namun ia memilih untuk mendiamkannya. Mungkin dia sedang tidak enak badan atau bad mood. Yoohwan memilih memakan sarapannya.

“Yoohwan-a” Tuan Park memanggil anaknya, setelah melipat koran pagi ini.

Yoohwan menatap ayahnya “Ya Ayah ada apa ?” tanya Yoohwan setelah menyeruput air putihnya.

“Tadi malam Yoochun menghubungiku, proyek Jeju tolong kau siapkan lusa ya, dan minggu depan ada rapat dengan pihak Hilton Hotels” ucap Tuan Park. Tanpa mereka sadari Hyera bertanya bingung, Yoochun memiliki waktu untuk menghubungi ayahnya, sedangkan dirinya ?

‘Kau memang bodoh, Hyera’ rutuknya dalam hati. Hyera memakan makanannya yang terasa aneh dan tak enak dilidah, setelah itu ia meminum air mineral yang ada didepannya.

“Abonim, Yoohwan, aku berangkat dulu” setelah pamit dengan mereka berdua, Hyera lalu bergegas meninggalkan rumah.

Yoohwan dan Tuan Park kembali berpandangan.

“Ayah, kakak ipar sepertinya terkena penyakit rindu” ucap Yoohwan dengan muka usilnya. Tuan Park hanya tersenyum pelan.

“Biarkan saja dulu, ayah yakin, sebentar lagi hyungmu akan pulang” ucap Tuan Park yakin

“Kenapa ayah seyakin itu ? kemarin saja aku menghunginya, dan dia hanya mengatakan aku sibuk. Lalu dimatikannya” ucap Yoohwan kesal.

“Percayalah pada ayah, pengalaman ayah itu lebih banyak darimu” bangga Tuan Park. Yoohwan mencibir

“Ish, baiklah. kita lihat saja, apakah sulung Tuan Park akan kembali”

Tuan Park hanya tersenyum kecil mendengar ucapan anak bungsunya. Setelah menyelesaikan sarapannya, mereka bergegas kembali kekantor.

Diam-diam Yoohwan menghubungi hyungnya, entah kali ini akan dijawab atau tidak, dia hanya mencoba peruntungannya kali ini.

“Ya” ucap Yoochun akhirnya. Yoohwan tersenyum menang

“Hyung, apa pekerjaanmu masih banyak ?” tanya Yoohwan basa-basi. Yoochun menghela napasnya perlahan, lalu menggumam iya.

“Apa tidak bisa di cancel dulu ? Akhir-akhir ini kakak ipar seperti tidak ada semangat hidup” khawatirnya. Yoochun diam sejenak.

“Kenapa kau jadi khawatir melebihi aku?” ucapan Yoochun membuat Yoohwan agak kebingungan,

“Aku hanya membantumu memberi kabar tentang kakak ipar hyung. Jangan cemburu pada adik sendiri” jengkel Yoohwan kesal

“Terima kasih, nanti aku akan kabari dia” ucap Yoochun

Yoohwan mengangguk “Baiklah hyung, sepertinya aku mengganggumu” putus Yoohwan akhirnya.

“Hmm” komentar Yoochun pelan. Yoohwan hanya diam lalu memutuskan sambungan telpon antara dia dan kakaknya. Yoochun menghela napasnya, lalu meletakkan balpointnya diatas meja, dan mengambil sebuah foto dibalik laci meja kerjanya.

Yoochun tersenyum pelan.

 

***

Hyera memilih duduk disalah satu bangku taman, beberapa hari ini bangku itu mejadi teman kesendiriannya, temannya untuk berbagi kesedihan hatinya. Hyera ingin menangis, namun air matanya tak kunjung mengalir, jadi ia memilih untuk menenggelamkan dirinya dalam lamunan semu.

Perlahan ucapan Jang Woo merasuki alam bawah sadarnya. Hatinya seakan ditusuk oleh ribuan pisau, walaupun Yoochun tidak pernah sedikitpun mengatakan semua keburukannya, tapi Hyera merasakan kekurangannya.

“Apa aku seburuk itu menjadi seorang isteri ?” pikirnya, Hyera menghela napas gusar.

Entah berapa lama ia duduk berdiam disana, padahal seluruh siswa sudah mulai menyiapkan diri mereka untuk besok, dimana upacara pelepasan masa magang dengan dosen, biasanya acara itu dihadiri pihak keluarga dan anggota keluarga terdekat.  Dan setiap tahunnya selalu ada acara pemberian bunga. Dalam benaknya ia ingin sekali Yoochun memberikannya seikat bunga matahari, bunga kesukaannya.

Dan ia rasa semua itu hanya dalam khayalannya saja. Ia mencoba menerima kenyataan bahwa sekarang Yoochun sedang tak ada disampingnya, Yoochun tengah sibuk dengan berbagai berkas yang membuatnya pusing, dan kalaupun Hyera masih nekat untuk memintanya datang, sama saja dia memberikan beban yang lebih berat dari ini.

“Ah.. Kenapa rasanya kepalaku ingin pecah” racaunya pelan.

***

Menjelang siang, pelataran kampus dipenuhi oleh berbagai karangan bunga sebagai tanpa pelepasan beberapa mahasiswa yang ada di universitas itu.

Hyera tampak kusut dengan balutan kemeja yang dipakainya. Ia kini berada dibalik panggung bersama pengisi acara lainnya. Sudah menjadi kebiasaannya untuk mengisi acara diberbagai acara sekolah atau universitas. Baik itu sebagai murid berprestasi atau murid yang menampilkan keahliannya. Mengingat Hyera memiliki kemampuan dalam membaca puisi atau bermain gitar bersama Chaemi yang merangkap sebagai vocal.

“Kau terlihat gugup, Hye-a” ucap Chaemi melihat Hyera yang duduk disalah satu sofa didepan meja rias

“Tidak, aku hanya tak enak badan saja” ucap Hyera pelan

Chemi mengangguk, lalu duduk disamping Hyera “Kau tidak sedang” Chaemi lalu mulai berkespresi seperti ibu hamil yang sedang muntah. Hyera mendengus kesal. Lalu menggeleng

“Tidak, aku sama sekali tidak hamil. Dasar” cibir Hyera

“Lalu kenapa ? apa ini ada hubungannya dengan suamimu ?” tanya Chaemi pelan. Hyera mengangguk perlahan. Lalu memandang Chaemi dengan muka yang tampak kusut.

“Kalau kau tidak keberatan ayo ceritakan padaku” pujuk Chaemi pelan

“Kau tahu kan kalau dia itu super sibuk, ehm… yah semua itu karena pekerjaannya sebagai Direktur di perusahaan ayah mertuaku” ucap Hyera pelan

“Lalu ?”

“Yah, dia tak pernah punya waktu untukku, jangankan memperhatikanku, mungkin jika menghubungiku seperti beban baginya. aku.. entahlah apakah aku egois jika aku menginginkan perhatiannya ?” tanya Hyera parau. Chaemi menggeleng pelan, lalu tersenyum

“Tentu tidak, wajar saja. kau wanita dan terkadang wanita itu memang memiliki keinginan seperti anak-anak ingin diperhatikan, dan selalu ingin disayang. Itu normal menurutku, tapi ya, tergantung bagaimana sikap suamimu” ucap Chaemi

“Yah, itu dia  yang aku pusingkan, dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi dia sedang ada di Jepang. Ya Tuhan, bahkan aku ragu, apakah dia merindukanku seperti aku merindukannya ? apakah dia khawatir padaku. ah, dia memang selalu berhasil membuat aku tidak berpikir dengan benar” ucap Hyera terlihat frustasi.

Chaemi tersenyum melihat kegelisahan temannya. “Kenapa kau tidak bertanya atau mungkin kau harus bersikap lebih dahulu dari pada dia ?” saran Chaemi

“Apa maksudmu ?” tanya Hyera bingung

“Yah, menurutku kenapa tidak kau duluan saja yang menghubunginya, atau mungkin bersikap lebih agresif. Suamimu mungkin tipikal pria pasif”

Hyera tampak menimang sedikit “Apa kau yakin ? bagaimana kalau dia tidak mengangkatnya, atau malah mematikan sambungan telponku” ucap Hyera berpikir dua kali

Chaemi tertawa kecil “Dicoba saja belum, sudah berpikir yang tidak-tidak” Gelengnya, lalu menyentuh bahu Hyera.

“Kau harus mencobanya, agar kau tahu bagaimana hasilnya. Oke, aku sebentar lagi tampil. Pikirkan baik-baik ya” Chaemi langsung meninggalkan Hyera yang masih duduk terdiam disofa.

Memikir kembali saran sahabatnya, antara ia dan tidak ia merogoh tas selempangnya dan menghubungi nomor ponsel Yoochun yang tertera dilayar ponselnya. Hyera menghela napasnya sejenak, lalu menekan tombol hijau yang ada disamping kiri ponsel.

Terdengar nada tuut.. pertanda sambungannya berhasil, namun tak kunjung dijawab oleh pemiliknya. Hyera makin gelisah.

“Ya ?” Yoochun mengucapkan satu kata yang hampir membuat napasnya tak normal. Hyera terdiam sejenak. “Hye-a, kau disana ?” ucap Yoochun sedikit panik

“Ya” ucap Hyera pelan. Yoochun tersenyum “Aku tidak mengganggumu ‘kan ?” tanya Hyera pelan.

“Tentu tidak. ada apa ?” tanya Yoochun ramah

“Tidak ada, aku hanya ingin bertanya kabarmu” ucap Hyera. Yoochun tersenyum dibalik ponselnya,.

“Aku baik. kau sendiri bagaimana ? Ah iya, hari ini kau ada acara pelepasan masa magangmu bukan ?” tanya Yoochun pelan.

“Ya, hari ini” ucapnya tak bersemangat, terlihat terbebani.

“Kenapa kau terdengar tak bersemangat ?” tanya Yoochun

“Entahlah” ucap Hyera parau “Aku harus bergegas, sebentar lagi aku tampil. Sampai jumpa” ucap Hyera

“Hem… Hye-a. bolehkan aku meminta satu hal padamu ?” ucap Yoochun pelan. Hyera terdiam sejenak. lalu mengangguk

“Tentu”

“Jangan pernah ragu untuk mempercayaiku” ucapan Yoochun  terasa seperti panah yang menusuk ulu hatinya. Kenapa dia seperti ini. pikir Hyera

“Akan aku coba” ucapnya kecil

“Terima kasih, Jangan lupa tersenyum untuk acaramu ya” pesan Yoochun

Hyera tersenyum kecut. ‘Bagaimana bisa aku tersenyum, kalau hatiku menahan pertanyaan yang membuat kepala ku pusing’ ucap Hyera pelan.

***

Yoochun memandang ponselnya dengan tenang, perlahan ia mengusap wajahnya yang terlihat hampir frustasi. Disaat seperti ini ia tak ada disamping Hyera, dan hanya bisa memberikan semangat melalu telpon. Kadang ia berpikir kapan dia akan menjadi sumi yang baik untuk wanitanya ?

Ketukan pintu membuatnya tertarik kealam sadarnya. Yoochun memandang sosok pria yang ada didepannya. Lelaki itu membungkuk sebentar lalu memberikan laporan bulanan, setelah itu izin mengudundurkan diri.

“Tunggu” sela Yoochun akhirnya. Lelaki itu berbalik dan menatap Yoochun

“Ya, ada apa Pak ?” tanyanya

“Besok lakukan rapat direksi mendadak, ada hal yang ingin aku ubah.” Tegas Yoochun

Lelaki itu mengangguk “Baik Pak, segera saya laksanakan” lelaki meninggalkan ruangan Yoochun.

Yoochun menatap tumpukan berkas didepannya. “Ah, kembali menenggelamkan diri dalam ribuan kata ini” ucapnya agak frustasi. Yoochun.

“Park Yoochun semangat” ucapnya mendesis keras.

Malam harinya Yoochun menyibukkan diri dengan membuat denah sebuah rumah yang minimalis, namun sangat indah, didepannya ada sebuha taman kecil yang bisa digunakan anak-anaknya kelak untuk bermain, tak lupa ia menyelipkan kolam kecil sebagai pemanis didalam pekarangannya.

Yoochun menggerakkan mousenya, lalu mulai merancang beberapa hal yang sudah memenuhi memori otaknya. Terkadang senyum kecil terulas didirinya. Membayangkan bagaimana kelak dirinya dan Hyera berada dirumah itu. sungguh manis.

“Ah, iya. Aku belum mengambari Tuan Hong, kalau aku akan membeli tanahnya” ucap Yoochun kemudian.

Ia beranjak dari tempat duduknya, dan meraih ponselnya diatas tempat tidur. Lalu mulai mencari kontak nama Tuan Hong, pemilik tanah yang akan dibelinya.

“Haloo, Tuan Hong”

“Ah, Park Yoochun, apa kabar”

“Baik. Bagaimana dengan anda Tuan ?”

“Baik, Ah ada hal apa anda menghubungi saya ?”

“Begini, saya ingin membicarakan mengenai tanah yang anda tawarkan”

“Oh, ya baiklah. Jadi anda tertarik untuk menjadikan tanah itu sebuah karya yang indah ?”

Yoochun terkekeh sedikit “Sepertinya saya benar-benar tertarik. Bagaimana jika kita membicarakannya minggu depan ? saat saya kembali ke Seoul”

“Ah, saya yakin. Nantinya tanah itu akan menjadi karya yang luar biasa. Akan saya tunggu itu. Baiklah, saya akan menunggu kedatangan anda”

Yoochun tersenyum, pujian rekan bisnisnya terlalu berlebihan. “Baiklah. Terima Kasih Tuan Hong”

“Ya sama-sama”

 

Yoochun mematikan sambungan telponnya, dan memilih untuk kembali duduk dibalik meja kerjanya. Ia mulai mengotak-atik beberapa kotak-kotak kecil yang ada dihadapannya, kadang decakan kagum itu terdengar jelas dikamarnya.

“Semoga kau suka” ucap Yoochun pelan.

Yoochun mengambil ponselnya lagi, lalu menghubungi Hyera. terdengar nada sambung yang menggantikan nada Tutt.

“Hallo” ucap Hyera pelan

“Kau sudah tidur ?” tanya Yoochun lagi. Hyera menguap sejenak, lalu mengubah posisi tidurnya.

“Ya, aku sudah tertidur, hari ini melelahkan” ucap Hyera malas, lalu mulai mengucek matanya. Yoochun tersenyum kecil, lalu mengetukkan jari-jarinya diatas meja.

“Apa aku harus menghubungimu besok pagi ?” tanya Yoochun menawarkan. Hyera terdiam sejenak, lalu mulai menggeleng. Suara Yoochun disaat seperti ini, membuatnya tenang.

“Tidak, aku tidak ngantuk lagi kok” ucap Hyera

“Bagus kalau begitu”

“Kau sedang apa ?” tanya Hyera pelan.

“Sedang merencanakan masa depan” ucap Yoochun pelan. Hyera terdiam sejenak.

“Masa depan ?” ucap nya lirih

“Ya masa depan, kau dan aku. kenapa ?”

“Tidak ada. Apa yang kau rencanakan dimasa depan untuk.. emm.. kita ?” ucapnya malu. Yoochun terkekeh pelan

“Aku tidak akan memberitahumu. Biarkan itu menjadi kejutan untukmu dan seseorang yang akan lahir dimasa depan”

Hyera mau tak mau tersenyum kecil, pipinya bersemu merah, ia mengambil bantal Yoochun yang ada disampingnya, lalu mendekapnya pelan. Merasakan aroma sampo Yoochun yang masih melekat disana.

“Apa tidak terlalu dini ?” tanya Hyera

“Tidak, waktu itu akan bergulir cepat tanpa kita sadari”

“Tidak juga, kau akan merasakan waktu bergulir lamban saat orang yang kau sayang tak ada disampingmu” sungut Hyera dengan nada yang cukup bersemangat. Ia tak menyetujui pernyataan Yoochun. Yoochun tersenyum kecil.

Sejak bertemu dengannya, sikap Yoochun berubah, lebih malas berkerja dan memikirkan masa depannya, seperti saat ini. lebih suka tersenyum kecil kala mendengar protes atau sungutan khas Hyera. wanita itu benar-benar membuat warna baru dalam hidupnya.

“Benarkah ? kenapa aku tak mengalami itu ya” godanya semakin semangat

“Yak. berarti aku tak menyangiku” ucapnya polos. Yoochun tertawa

“Aku menyangimu. Dan perlu kau tahu, walaupun aku tak pernah mengatakannya, dan jarang menghubungimu, bukan berarti aku tak menyangimu. Begini, aku beri kau sebuah rahasia. Pernahkan kau merasakan apa yang ada didalam hatiku saat aku tak melihatmu dipagi hari ? bagaimana kerja otakku saat tak melihat senyummu, bagaimana rasanya aku kehilangan saat disini ?”

Hyera diam, dia hanya ingin mendengar ucapan Yoochun.

“Mungkin, kalau aku tak mengatakan ini padamu. Aku yakin pikiranmu akan selalu dihantui oleh hal-hal negatif. Hubungan kita memang berbeda dengan hubungan rumah tangga orang lain. Aku tahu itu, aku memahami setiap kekurangku saat menjadi suamimu, aku memahami banyak hal. Kau perlahan mengajarkan aku bagaimana cara untuk saling menyayangi, mengajarkan aku untuk bisa memaafkan kesalahan orang lain. Dan banyak hal lagi…”

 

“Setiap kekuranganku selalu kau lengkapi, begitupula sebaliknya. Atau bingung bagaimana mengungkapkan padamu, jika kita berhadapan. Aku seperti orang bodoh, yang hanya bisa diam menanggapimu. Tapi satu hal yang perlu kau tahu, aku sangat menyangimu. Bila kau meragukan semua ucapanku tadi, aku rela kau membelah tubuhku, hanya untuk melihat jantungku yang berdegup tak karuan” ocehnya panjang.

Hyera hanya bisa terdiam, lama ia mulai terisak. Perlahan seluruh keraguannya memudar. Ia menyesali sikapnya yang kadang suka berpikir sendiri, menilai sendiri, dan memutuskan setiap perasaan Yoochun dengan sikap dan tingkahnya sendiri.

“Kau menangis ?” tanya Yoochun hati-hati

Hyera mengusap airmatanya, “Tidak kok”

“Jangan bepura-pura nyonya Park” kekeh Yoochun “Aku tahu, kau terharukan ?”ucapnya bangga

“Hiks.. Yoochun-a. maaf selama kau di Osak, aku selalu meragukan dirimu” ucapnya seperti anak kecil yang ketahuan mencuri oleh orang tuanya

“Tidak apa-apa itu wajar, apalagi kita masih beradaptasi dengan status kita, dan juga jarak antara Seoul-Osaka”

“Hem.. aku menyesal, sungguh” ucap Hyera lalu terisak lagi. Yoochun jadi panik sendiri mendengar isakan isterinya yang makin kencang

“Sudah jangan menangis lagi. Hapus air matamu, lalu cuci muka dan kembali tidur. Oke ?” saran Yoochun

“Baiklah, tapi bolehkan aku bertanya ?”

“Ya, apa yang ingin kau tanyakan ?”

“Kau.. ehem.. kau, apa kau tidak malu mempunya isteri sepertiku ? kau itukan lelaki yang tampan dan juga memiliki materi yang berlimpah. Tapi kenapa kau malah menyukaiku ? tidak menyukai wanita lain yang lebih segalanya dariku” Yoochun diam.

“Kenapa aku harus malu ? sudahlah semakin lama bicaramu melantur. Sekarang tidur” titah Yoochun

“Baiklah Park Yoochun” ucap Hyera kesal “Kau benar-benar tidak malu kan mempunyai isteri sepertiku” ucap Hyera pelan, dan memastikan

“Engg.. bagaimana ya” pikirnya pelan

“Ya! Ucapan yang sudah dikelurkan tidak bisa ditarik” sungut Hyera cepat.

“Iya. Aku tidak malu kok. Tapi…”

“Tapi apa ?”

“Tapi bisakah kau memanggilku dengan sebutan ‘Oppa’ ?” tanya Yoochun malu. Hyera terkekeh kecil

“Tentu saja uri nampyeon” ucapnya melebihkan

“Kenapa terasa menggelikan ya ?” tanya Yoochun heran

“Aish, sudahlah. Aku mau tidur, besok aku harus magang, selamat malam Tuan Yoochun yang terhormat”

“Malam”

***

Hyera memegang dadanya yang mulai bergemuruh. Senyuman lebar kini mulai menghiasi wajahnya, ia menenggelamkan wajahnya dibalik bantal yang biasa dipakai suaminya. Aroma sampo Yoochun benar-benar membuat wajah Hyera semakin memerah.

“Kau, benar-benar membuatku gila” bisik Hyera pelan. Matanya melihat jam kecil yang ada disamping tempat tidur. “Sudah jam dua belas, waktunya tidur Hyera” gumamnya lalu masuk kedalam balutan selimut berwarna cream. Hyera masih memegang bantal milik Yoochun dengan erat. Senyumnya kini mengantarkan Hyera kedalam alam mimpinya.

 

 

Cahaya mentari mulai menaiki tahtanya, Hyera bersenandung merdu sembari membenahi dirinya didepan cermin datar yang menampilkan sebagian besar postur tubuhnya. Hyera tampak anggun dengan balutan kemeja dan celana panjang kain yang membalut tubuhnya, rambutnya ia kuncir agar tak mengganggu aktivitasnya nanti. Hyera tersenyum didepan cermin.

Matanya menangkap foto pernikahannya dengan Yoochun beberapa bulan lalu. Hyera tersenyum lagi. Entah berapa kali ia tersenyum manis, mood nya pagi ini benar-benar baik.

Hyera menggapai ponselnya yang ada dimeja rias. Lalu memencet panggilan internasional hanya untuk mendengar suara serak milik suaminya.

“Enggg…” Erang Yoochun pelan, lalu mulai menggeliat pelan.

“Selamat pagi” ucap Hyera riang, tak menghiraukan suara malas milik Yoochun.

Yoochun yang baru bangun hanya menggumam mengiyakan. Lalu beranjak duduk disandarannya ranjang “Ohayu” ucapnya pelan, lalu mengusap matanya “Ada apa ?” tanya Yoochun.

“Hanya ingin membangunkan mu yang sedang malas. Hari ini adalah hari pertamaku magang, doakan aku ya” ucap Hyera bersemangat. Hyera mengambil tas selempangnya dan berjalan keluar kamar

“Hmm.. hati-hati dijalan. Jangan naik bus lagi, bukankah tempat magangmu jauh ? minta Yoohwan mengantarmu” titah Yoochun panjang,

Hyera tersenyum kecil, lalu melangkah kedapur membatu Lee Ajjuma yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga Park. “Tidak apa-apa aku berangkat sendiri saja. lagipula dia sudah cukup stres menggantikanmu disini” kekeh Hyera pelan. Yoochun tersenyum membayang adiknya yang mengeluh. Jemarinya bermain-main dengan selimut tebalnya.

“Kalau begitu minta ayah mertuamu mencarikan sopir”

“Jangan bercanda. aku hanya mahasiswa, kenapa harus pakai sopir sih. Aku sedang membuat kopi, kau mau ?” tawar Hyera

“Ya sudah, tapi berhati-hati. Tahu sendiri didalam bus itu bagaimana. Boleh, bawakan kemari ya” kekehnya pelan.

Hyera mendengus sebentar, lalu menyedu kopi panas. “Baiklah, nanti aku antar Tuan. Sudah dulu ya, aku harus cepat berangkat kesana. Nanti kau telpon aku. oke”

“Hmm.. hati-hati”

 

TBC

 

SEBELOM NYA SAYA MINTA MAAF YA, BELUM BISA MENYELESAIKAN FF INI*BOW*
AKHIR-AKHIR INI ADA BEBERAPA KESIBUKAN, DAN NGGAK BISA MEGANG KOMPI 😦

 

TERIMA KASIH BUAT YANG UDAH NUNGGUIN FF INI, SAYA SANGAT BERTERIMA KASIH ^ ^ KELANJUTANNYA AKAN SEGERA SAYA TULIS. MOHON MENUNGGU.. WKWKWKWKWK

 

TERAKHIR, MINAL AIDZIN WAL FAIZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN, SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H. ^ ^

 

 NB. kemungkinan ini bakalan aku hapus dihari ketiga lebaran, dan aku repost lagi seminggu setelah nya 🙂 *kalau saya tidak sibuk* author bener2 minta digantung sama readers* hoho…

Iklan

23 thoughts on “Always Be Mine step 10

  1. qoyah cassie berkata:

    Aq g bisa berkmntar apa2 lagi, sumpah sepanjang aq baca ni ff aq mlah senyum gaje.. hhaha, kcuali yg hyera di hina jang woo-_-

    oya eonn ini stgh dr 20 page yg eonn mksud atau udh 20page ??

    yah, jgn dihpus donk eonn… nnti aja kalo udh mau di publish yg bru, bru dech dhpus… aq kan suka bgt bca ff ni brkali2 klo lg kgen.. please ya eonn…

  2. YANTY berkata:

    minal aizin walfaizin juga…
    mkin smangat buat nunggu part sljutnya…
    eonni buat hyera punya anak biar yoonchun tambah perhatian,dan jgan buat konflik lagi ya…
    semangat buat part selanjutnya…:-)

  3. yan-yan berkata:

    Wuah ff nya nambah seru dd.. Masi ada beberapa typo trus ada kalimat yg kurang kata2nya tapi gpp kan ini masi draft.. ☺◦°◦ƗƗɑƗƗɑ (′▽`) ƗƗɑƗƗɑ◦°◦☺..

    Yoochun bnr2 workaholic yg menomorsatukan pekerjaan dan menomorduakan istri ampe gak kbarin istrinya sndiri klo sdh nyampe di Jpg.. Hhaha..Uda gtu ga sopan masa nyebut istrinya ‘dy’ sih didpn adiknya, y walaupun istrinya jg sama nyebut ‘dy’ jg bwt Yoochun.. Tapi gpp Yoochun sdh mulai bisa ngegombal dah di part ini..(っˆヮˆ)っ нё헤нё헤нё헤нё헤 ټ•°˚°•

    Mau jg donk dipanggil ama Yoohwan dgn sbutan kakak ipar.. *ngarep mode on*.. So sweet dpt adik ipar yg bawel n usilnya minta ampun kyk gtu walaupun terkadang suka kelepasan ngomongnya, ga liat sikonnya..hahaha..

    Wuah baru beberapa hri pisah sudah mau gila y Yoochun ama Hyeranya?? Jgn dibuat gila donk dd.. Wkkwkwk kasian yg baca..

    Maaf kpnjangan komennya.. (っˆヮˆ)っ нa헤нa헤нa헤нa헤 ټ•°˚°•.

  4. Astii berkata:

    Ceritanya makin seruuu!!
    Mereka berdua udah gak malu2 lgi ngungkapin perasaan mereka..yoochun pulanglah!!kasihan hyera..hhi

  5. Erviana Chubby berkata:

    haii viivii salam kenal.makasih dah kirim email ke aku.aq dah nunggu lama ni h cerpen kamu yang always be mine,btw apa passwordnya nih mau aq baca tulisan kamu itu?.thx ya

    ________________________________

  6. naranara15 berkata:

    Ahhh senyamsenyum sndri bcanya…
    Gak rela ni ff tamat..huaa adegan cembokur.y bkin envy ihhhhh…mereka ngegemesin sumpahh…mkin cinta sm bang chun hihi….pokok.y ni ff sllu jd favoriteku …udh dlu komen.y,,gk tau mau ngomong apa lgi hehe

  7. Ikakyu's wife berkata:

    Vivi…tanggung jawab yh gegara ff ini aq jdi selingkuh am yoochun *digorokkyu* :D..
    Dr part 1 smape part yg ini aq senyum gaje..feel.a dpet banget berasa aq istri.a beneran wakakak..
    Ku doain semoga vivi dpet ilham dr tuhan YME cepet2 lajutin ff ne..
    BM juga yh jgn lupa di lanjutin..keke

  8. purple281000 berkata:

    Lama ga jalan” ksini trnyata ini ud d publish (屮゚Д゚)屮
    Ngeliat hyera yg makin deket sama yoochun jadi gmna gtu.. :$

Your Comment become spirit for me ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s