Broken Married [6-b]

 

 

 

Author : Vii2junshu_kim/Ny. Kims

Cre. Poster : http://landoffanfiction.wordpress.com

 

Hay.. Im back*plak* aku bawa part B nya.. disini aku memakai nama Tatto D acak-acakkan, kadang Myungjae, atau Kim Jungho.

Boleh numpang curhat dikit nggak ?*nggak bole*lempar duit*


sebenarnya aku nggak terlalu yakin untuk uplod part ini, lalu meneruskan ke part selanjutnya. Aku yang nulis aja, berasa banget,kalau alur cerita ku terlalu rumit, dan agak susah dijelaskan. Konfliknya yang menumpuk menjadi satu, tanpa diatur dimana letaknya. Walupun konflik utamanya adalah Tatto D dan Jaejoong.


Sebenarnya ada niat untuk me-Revisi, tapi mengingat aku nggak punya banyak kesempatan*karena mulai kerja* jadi aku tetep lanjutin dengan alur/plot yang kacau alias nggak beraturan dan terkesan memaksa keadaan. Aku mohon maaf atas itu, maklumlah aku masih belajar untuk menempatkan suatu kejadian dalam cerita :), menggunakan EYD yang baik, dan masiih banyak lagi yang harus aku gali…

Satu lagi, kemarin malam tepatnya tanggal 21 Juli*waktu Indonesia* KIM JAEJOONG mengalami musibah, yakni jatuh dari lantai lima ke lantai tiga dilokasi syuting film Jackal*kalau tidak salah*, Saya harap teman2 berkanan untuk mendoakan Jaejoong agar dia cepat sembuh dan tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.

Karena uda selesai curhaaattt, silahkan dibaca yoo 🙂 *jangan lupa Komen nyaa hehe*

Author POV

Mereka berdua kini tengah duduk diruang pemeriksaan, Yunho dan Jaejoong terlihat santai dan tak ambil pusing, mereka telah menyiapkan dokumen pendukung untuk melakukan semua ini. termasuk dalam penyelidikan kasus Kim Limbo dan Kim Jinho.

“tunggu sebentar, seharusnya kami mempunyai hak untuk melakukan pembelaan. Tapi kenapa sepertinya kalian memojokkan kami ?”cela Jaejoong saat mereka hendak memberikan beberapa pertanyaan lagi. Salah satu penyedik mendengus, dan meletakkan berkas yang dipegangnya diatas meja. Dahi pria itu tampak berkerut, lalu mengambil ganggang telpon dan menelpon salah satu atasannya, meminta izin untuk  dua orang didepannya melakukan pembelaan.

“baiklah, kalian boleh memberikan pembelaan di Divisi Lima, nanti kalian akan bertemu dengan Go Enjo, dia yang akan menangani masalah pembelaan” setelah mengucapkan itu, Pria bername-tag  Shin Tae Hwan, meninggalkan ruangan.

Yunho dan Jaejoong tampak menghela nafas. “sebaiknya kita hubungi Gyuni” saran Jaejoong, Yunho hanya mengangguk. Beranjak dari tempat nya, dan menghubungi teman satu Timnya. rasa cemas sekarang menghampiri nya.

“Gyuni, bisakah kau membawa berkas yang Jaejoong titipkan padamu kemarin ?”

“…”

“Bagaimana bisa hilang ? kenapa kau teledor ??” pekik Yunho frustasi, Jaejoong sedikit kaget melihat Yunho yang biasanya tenang dan santai, sekarang sangat mencemaskan. Jaejoong bangkit menghampiri Yunho yang menutup sambungan sepihak dengan Gyuni.

“Kau tampak kacau” canda Jaejoong, Yunho terdiam sejenak. Menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya. Itulah cara seorang Jung Yunho menenangkan diri. Setelah merasa baikkan, barulah dia menatap Jaejoong.

“Jadi ? ada apa ?” Jaejoong bertanya

“Gyuni menghilangkan berkas yang kau titipkan” kalimat itu sukses membuat Jaejoong terdiam. Pantas saja Yunho seperti orang kebakaran jenggot. Pikir nya

“Satu-satunya jalan adalah, menghubungi Kim Taeho” ucap Yunho dengan lirih. menurutnya saat tidak mungkin mendatangkan seorang Kim Taeho yang kini tengah berada di Amerika. Mustahil.

Walaupun pada kenyataanya, kini Taeho sedang berada di Seoul.

“Ah baiklah, sudahlah jangan memasang tampang seperti itu, kau terlihat 10 tahun lebih tua dari umurmu. Ayo kita ke Coffee shop dulu. masalah ini aku yang tangani” ucapan Jaejoong membuat Yunho agak tenang, jadi mereka memutuskan untuk meninggalkan ruangan penyelidikan.

Inilah Yunho dan Jaejoong jika sudah diterpa masalah. Mereka tidak akan pernah mau menerima aturan yang ada, mereka akan melakukan semuanya dengan caranya sendiri. Padahal jadwal sebenarnya adalah melakukan pembelaan di Divisi lima, tapi karena dokumennya tidak ada, apa boleh buat.

“Kau pesanlah sesuatu, aku mau menghubungi seseorang” ucap Jaejoong sembari memegang pundak Yunho. Yunho mengangguk.  Jaejoong beranjak dari tempat duduknya, berjalan keluar coffee shop dan mengeluarkan ponselnya.

“Dadd, Daddy dimana ?” tanya Jaejoong langsung, setelah sambungan telponnya dijawab oleh Taeho

“Aku diperjalan ke gedung, ada apa ?”

“Bisakah kau memutar arah ke gedung penyelidikan? kami membutuhkan bantuanmu.” Ucapnya lirih.

Taeho tersenyum. Tumben sekali anak ini meminta bantuannya, biasanya dia enggan meminta bantuannya. “Baiklah, tunggu aku sepuluh menit lagi” katanya.

Jaejoong mengangguk “Oke, aku tunggu. Terima kasih”

 

 

Other Place

Rumah itu tak cukup besar, namun terbilang luas jika hanya ditempati oleh seseorang. Semua fasilitasnya lengkap, tak ada yang kurang satupun. Hanya saja, rumah ini tampak sepi dan kusam.

Hyuni menutup ganggang telponnya, sekelebat bayangan itu seperti bayangan suaminya. Seseorang yang menyelamatkannya dari sebuah insiden penculikan. Dia tahu aroma suaminya, dia juga tahu seperti apa gerak-gerik suaminya. Apakah suaminya masih hidup ?

Inilah yang kini Hyuni pikirkan. Tapi bagaimana mungkin Myungjae masih hidup ? padahal dia melihat sendiri mayat suaminya, yang tak berbentuk. Yang hangus dimakan oleh si jago merah. Hyuni duduk bersender diruang depan.

Ingatannya kembali pada kejadian dimana ia disekap, lalu pria misterius itu menyelamatkannya.

Gudang tua dengan penerangan seadanya. Seorang wanita paruh baya duduk ditengah ruanga, tepat dibawah sinaran lampu yang menerangi gudang itu. tangan dan kaki diikat menjadi bagian dari sebuah kursi kayu yang kokoh. Beberapa orang berdiri tegap didepan wanita itu, melihat pergerakan yang dilakukan wanita itu.

Kadang teriakan dan juga umpatan lahir dari bibir kecil Hyuni. Karena merasa dirinya diperlakukan tak layak membuatnya berang.

“Diamlah Ajjuma, jangan mencari keributan. Atau kau akan aku buat tidak bisa bicara selamanya” ancaman itu sukses membuat Hyuni terdiam. Dirinya tidak boleh gegabah. Mau tak mau Hyuni diam, lalu menuruti perintah si penculik.

Hyuni tak habis pikir untuk apa mereka menculiknya. Kenapa mereka melakukan itu padanya. Ponsel pria berbadan tegap—yang menyekapnya—berbunyi, samar ia mendengar mereka menyebutkan sudah menculik Hyuni.

“baiklah Nyonya, kami akan menghabisinya. Tepat saat persidangan, sesuai dengan permintaan Nyonya”

Setelah itu sambungan telpon diantara keduanya berhenti. Hyuni tampak memucat. Siapa mereka.

“Kenapa kalian menculikku ?” tanya Hyuni tak tahan. Pria itu mendecih, lalu memandang tajam pada Hyuni.

“Kau ingin tahu ?” pria itu membentak Hyuni dengan keras. Hyuni mengangguk lemah

“Gara-gara Kim Jaejoong, pimpinan kami harus mendekam dipenjara. Kim Jinho. Dia, puteramu telah berani menyeret pimpinan kami kedalam penjara. Jadi, jangan salahkan kami”

Hyuni mulai membaca sedikit demi sedikit situasi, jadi mereka ingin balas dendam ? begitukah. Pikir Hyuni. Tapi kenapa mereka bisa tahu dia ibunya. Siapa yang membocorkannya.

 

Prancis

“Kau pikir kau hebat Kim Jaejoong. Apa kau kira hanya agen pemerintah saja yang bisa melihat data seorang seperti kau ? aku juga bisa Kim Jaejoong” desis wanita itu dengan tajam. Matanya menyiratkan kebencian yang mendalam.

Sebelumnya ia tak mengetahui siapa jati diri Jaejoong. Namun dirinya tak mau menyerah, wanita itu ibu dari Kim Jinho, menyewa seorang lelaki untuk menjadi penguntit bertugas mengawasi situasi disana lalu memberikan informasi padanya. Dari informasi tersebut, wanita tahu kalau Hyuni adalah salah satu penghuni apartemen Jaejoong. Menandakan bahwa wanita itu amat sangat penting bagi Jaejoong. Wanita itu tersenyum sini, matanya menatap tajam kearah jendela. Kau harus licik jika ingin memenangkan sesuatu. Itulah cara yang dilakukan wanita itu

“Tenang sayang, ibu tak akan pernah meninggalkanmu. Dan kau Myunghan, aku bersyukur karena kau telah mati terlebih dahulu. Jadi aku tidak perlu merepotkan diri” bibir tipisnya membentuk seringai tajam. Aura kemarahan dan kebencian kini menyelimutinya.

Diluar gedung hotel, beberapa pria dengan jas khusus tengah bersiap untuk menjemput paksa wanita bermarga Cho itu. wanita cantik keturunan bangsawan namun berhati iblis. Surat penangkapan dan pemidahan kuasa atas dirinya telah disiapkan. Takut kalau-kalau wanita itu mangkir lagi, seperti yang sudah-sudah.

 

Tatto D place

Lelaki itu terdiam. Entah apa yang apa yang kini ia rasakan. Sesak dan sakit hanya itulah yang mendominasi. Beberapa bawahannya sudah dikerahkan untuk mencarari tahu dimana keberadaan istrinya. Sejenak matanya terpejam. Merasakan deru angin yang menerpa wajahnya melalui jendela kamarnya. Tatto D berangsek dari tempat semulanya—duduk diatas ranjang—dan berjalan kearah meja kerjanya. Mengambil sebuah foto yang bebingkai coklat, matanya mulai berkaca.

Ini bukan kali petamanya ia menangis karena wanita itu, wanita yang mampu menggetarkan jiwanya, hatinya dan juga mampu membuat seluruh organ tubuhnya berbuat bodoh. Dalam lelehan airmatanya, Tatto D tersenyum. Karena Tuhan telah berbaik hati kepadanya, memberikan dirinya kesempatan untuk dapat bertemu kembali dengan keluarganya.

Deringan ponselnya membuat Tatto D tersadar dari lamunannya.

“Bagaimana ?”

“Tuan, kami sudah menemukan dimana orang yang anda cari. Saya akan kirimkan alamatnya. Dan anda yakin ingin bergerak sendiri ?” tanya kaki tangan Tatto D was-was. Wajar saja dia merasakan kecemasan, karena sudah lama Tatto D tidak terjun kelapangan untuk berkelahi. Apalagi umurnya yang sudah menginjak awal enampuluhan.

“ya aku yakin. Kirimkan segera” perintahnya

 

Gedung Penyelidikan

Jaejoong dan Yunho tampak memasuki gedung bercat putih yang membumbung tinggi, semua siasat telah diaturnya, walaupun ia tampak tak yakin dengan apa yang ia rencanakan. Jaejoong menghela nafasnya. Menetralisir perasaan tak nyaman dan gelisahnya. Jantungkan sudah berdegup kencang, dan keringat dingin kini mulai mengalir didahinya. Pertanda bahwa dirinya sedang dalam kebimbangan.

“Kenapa masalah kita banyak sekali ya ? padahal kita hanya mengukap keadilan.” tanya Yunho saat mereka memasuki lobi utama. Jaejoong tampak tersenyum kecil

“Ya, itu rintangan. Kita harus bisa menghadapinya kan ?”

Yunho mengangguk “Jadi bagaimana ? apa kita akan menghubungi Kim Taeho ?” tanya Yunho lagi.

“hmm. Tadi aku sudah menghubunginya, dan dia akan sampai sebentar lagi” ucapnya setelah melirik jam tangan hitam miliknya. “Kita duduk disana saja, sambil menunggu Kim Taeho”

“Hah ? bukannya Kim Taeho berada di Amerika ya ?” ucap Yunho tak percaya, Jaejoong tampak tersenyum kecil, lalu menggeleng

“Dia di Korea. Ada urusan penting sepertinya, makanya dia kembali”

“Oh”

Tak lama setelah mereka terdiam, Taeho muncul di lobi utama, seperti biasa lelaki itu tampak berwibawa dan gagah. Taeho menghampiri puteranya dan Yunho. Senyumnya mengembang, namun Jaejoong tak mau mengambil pusing.

“Agen Jung Yunho Tim Pertama Divisi Rajawali”

“Agen Kim Jaejoong Tim Pertama Divisi Rajawali”

Hormat mereka, Taeho tampak terkekeh sebentar, “Sudahlah, jangan terlalu formal padaku. karena ini bukan medan perang, jadi santai saja. Oke” canda Taeho lalu menepuk bahu Yunho dan Jaejoong secara bergantian

“Jadi, ada yang bisa menjelaskan kepadaku, kenapa kalian membutuhkan bantuanku ?” tanya Taeho

Jaejoong mengangguk, “Sebaiknya kita duduk dulu, aku akan menjelaskannya Pak” ucap Jaejoong dengan hormat. Taeho mengangguk, akhirnya mereka bertiga duduk dikursi tunggu dilobi. Jaejoong menjelaskan prihal kenapa mereka ada di gedung penyelidikan, dan kasus yang mereka tangani

 

Sandara Apartemen

Hyuna dan Sandara duduk gelisah diruang tengah, menunggu kabar selanjutnya. Tak lama telpon rumah mereka berdering. Sandara segera bangkit dari duduknya, yang ada dipikirannya hanya satu, secepatnya menyambar ganggang telpon itu. siapa tahu penculik itu menghubunginya.

“Halo”

“Sandara, ini aku” ucap seorang wanita dengan nada yang agak cemas.

“Hyuni, kau dimana ?” ucap Sandara tak kalah cemas. Hyuna duduk disamping ibu mertuanya, ikut mendengarkan pembicaraan mereka.

“Aku, entahlah aku tak tahu aku dimana. Tapi yang pasti, aku baik-baik saja. Seseorang menyelamatkan aku dari penculik itu.”

“Syukurlah” Sandara menghela nafasnya sebentar “Sebaiknya kau pulang Hyuni. Kami disini cemas menantimu”

“Yah, aku belum bisa pulang sekarang. Aku ingin mencari tahu siapa pria yang menyelamatkan aku. dia, sosoknya seperto Myungjae” Ucap Hyuni lirih. Sandara menghela nafasnya lagi.

“Aku tahu kau tak bisa melupakannya Hyuni, tapi tolong hentikan imajinasimu tentang dirinya. Suamimu sudah tenang disana Hyuni”

“Tidak, aku yakin itu dia. Insting seorang istri itu tidak akan salah. Percayalah” Hyuni mencoba membujuk Sandara, agar dia sependapat dengannya.

Sandara memandang Hyuna sebentar,  lalu meneruskan ucapannya “Baiklah, jika ada apa-apa hubungi aku, aku akan selalu ada untukmu”

“Hem” angguk Hyuni “Satu lagi, jangan pernah mengatakan aku menghubungimu termasuk pada Jaejoong dan Taeho. Aku mohon. Mereka tak akan pernah mengerti penantian seorang wanita” serak Hyuni

“Baik aku mengerti. Kau jaga kesehatanmu ya”

“Ia, kau juga. Tolong jaga menantu dan anakku. aku titipkan mereka padamu”

Sambungan terputus. Sandara menatap nanar telpon rumahnya.

“Mommy bagaimana ?” tanya Hyuna dengan nada cemas

“Dia baik-baik saja. Kau jangan terlalu cemas, dia akan pulang setelah keadaan membaik.” Sandara tersenyum miris pada Hyuna

“Maksud Mommy ? aku bingung” ucap Hyuna.

Sandara tersenyum, dia tak mau membuka kejadian yang sebenarnya. Terpaksa dia harus berbohong. “Dia hanya ingin menenangkan dirinya, jangan khawatir. Ah satu lagi, jangan pernah mengatakan pada siapapun, termasuk suami mu. Jika Hyuni menghubungi kita. Biarkan Hyuni nanti yang menjelaskan semuanya” ucap Sandara sambil mengelus tangan menantunya.

“Baiklah” Hyuna mengangguk seadanya.

 

***

Jaejoong, Taeho, dan Yunho memasuki ruang Divisi Lima, ruang dimana pihak yang bersalah akan memberikan pembelaan. Walaupun mereka tidak bersalah—dimata mereka—tetap saja mereka harus mengikuti prosedur yang diajukan oleh pihak pernertiban.

“Selamat siang” Taeho membuka pembicaraa terlebih dahulu, Go Enjo tersenyum menatap seorang Taeho. Mantan agen Rahasia terbaik milik KII yang kini ditugaskan di Amerika.

“Selamat siang, Pak” Angguknya lalu mempersilahkan merek bertiga duduk

“Ada yang bisa saya bantu Pak ?” tanya nya, Taeho mengangguk, memberikan jeda dan tanda pada Jaejoong untuk menjelasakn biduk masalahnya.

“Kami kemari untuk memberikan pembelaan mengenai masalah pelanggaran peraturan yang dituduhkan kepada kami.”

“Ah, ya saya sudah mendengar itu, jadi apa kalian membawa bukti ?” tanya Go Enjo. Jaejoong mengangguk. Lalu memandang Taeho

“Saya yang memberikan izin pada mereka. bukti tertulis ada dalam E-mail  resmi milik saya, dan tembusannya sudah saya berikan kepada Ketua KII. Mungkin beliau bisa melihatnya kembali. Selain itu, mereka hanya melakukan revisi tentang kasus perdana mentri Kim Limbo”

Go Enjo mengangguk paham, “Baiklah, jika begitu, kami akan memproses ini secepatnya. Kami harap anda berkenan menjadi saksi disidang keanggotaan senin mendatang” lalu menyodorkan beberapa berkas untuk ditanda tangi oleh Taeho.

“Baik saya bersedia.”

***

Hyuni meletakkan ganggang telpon ditempatnya. Ia melihat kesekelilingnya, siapa tahu ada petunjuk tentang siapa yang menolongnya. Perlahan dirinya meninggalkan ruang tengah yang cukup luas itu, berjalan menuju kamar tidur yang letaknya tak jauh dari sana. Membukanya perlahan, melihat sekilas seluruh penjuru ruangan.

“Tidak ada yang aneh” pikirnya lalu meninggalkan ruangan itu.

Bunyi derit pintu terbuka membuatnya agak terkejut, dengan cepat ia melangkah menuju pintu utama rumah tersebut. Seorang wanita dan seorang pria, dari wajahnya mereka keliahatan berumur akhir duapuluhan. Memakai seragam resmi seperti suaminya dulu.

“Kalian siapa ?” tanya Hyuni dengan nada agak bergetar

Salah seorang mereka maju kedepan lalu tersenyum “Perkenalkan, saya Im Ji an. saya di utus seseorang untuk mengawasi anda beberapa hari ini. dan pria ini” tunjuknya pada sosok pria yang tampak tegas “Dia, Kwon Haedong, dia bertugas untuk mengamankan daerah ini. anda tak perlu khawatir nyonya. Keselamatan anda adalah tugas utama kami” senyumnya ramah. Hyuni mengangguk

“Bisakah saya bertemu dengan atasan kalian. ada beberapa hal yang ingin saya katakan padanya”

Ji an memandang wajah Haedong, memberi kode untuk berdiskusi sebentar. Mereka berdua berbisik, saling mengutarakan pendapat. “Baiklah nyonya. Kami akan menghubungi Sajangnim dahulu.”

Haedong bersiap keluar dari rumah, untuk menghubungi Tatto D

“Baiklah Pak saya mengerti. Baik, seperti yang tuan perintahkan”

Haedong kembali masuk kedalam rumah. “Baiklah, atasan kami sudah menyetujuinya nyonya. Silahkan anda mengikuti kami”

 

Dua orang bawahan Tatto D membawa Hyuni kesebuah apartemen yang memang baru dibelinya. Hyuni merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Detak jantungnya kini berpacu lebih cepat, keringat dingin juga mulai membanjiri tubuhnya.

Didalam hatinya, Hyuni berharap. Pria itu memang suaminya. Seorang pria yang mengisi relung hatinya, jiwanya, dan kehidupannya.

“Kita sudah sampai nyonya. Silahkan” Ji an membuka pintu belakang mobil, mempersilahkan Hyuni keluar dari mobil dan membawanya kedalam apartemen Tatto D.

“Silahkan. Tuan sudah menunggu anda didalam”

Hyuni mengangguk dengan kaku.

***

Tatto D tersenyum. Dan ini cukup membuat beberapa bawahannya saling memandang. Ada apa dengan gerangan. Pria yang terbiasa menyeringai, kini tersenyum, senyum tulus yang tidak pernah diperlihatkannya pada siapapun.

“Aku ada perlu sebentar. Tolong kau pantau keadaan sekitar, dan lagi jangan lupa untuk memimpin rapat jam empat. Berikan laporannya padaku” ucapnya pada seorang pria yang memakai jas hitam, setelah itu, Tatto D memandang seorang pria yang hanya memakai kemeja putih

“Berikan nama-nama investor kita yang ada di Thailand. Ah aku lupa. Kau selidiki siapa saja orang-orang kita yang mencoba memberontak padaku”

Mereka berdua mengangguk, lalu mengundurkan diri. Tatto D bergegas mengambil jasnya dan keluar dari ruangannya.

 

Disinilah dirinya, diruangan putih yang remang. Ruangan itu hanya diterangi oleh cahaya lampu neon yang tak lebih dari sepuluh watt. Letaknya disudut ruangan. Hal yang sengaja dilakukan olehnya. Alasannya klise, agar Hyuni tak mengenalinya.

Pintu terbuka.

Jantung pria itu bergedub, matanya terpejam sesaat mengambil oksigen yang ada untuk mengisi paru-parunya.

“Selamat siang tuan” sapa Hyuni dengan nada bergetar. Tatto D tersenyum, walaupun kini matanya sudah berkaca-kaca. Entahlah, rasanya seluruh kerinduaan yang ada didirnya kini membucah.

“Siang” ucapnya dengan nada yang tegas. “Aku tak memiliki banyak waktu. Jadi katakan apa yang ingin kau katakan”

Hyuni mengangguk kaku, perlahan kakinya berjalan kedepan. Melihat sosok Tatto D yang memang tak asing baginya. “Aku ingin mengucapkan terima kasih, karena anda telah menolongku”. Hyuni masih berjalan perlahan, tapi langkahnya terhenti kala suara berat itu menginstrupsinya

“Berhenti. Cukup sampai disana saja kau berdiri”

‘Sial’ rutuk Hyuni. Ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk mengungkap siapa dirinya. Hyuni kau harus bisa.

“Akh.. Perutku” Erang Hyuni, membuat Tatto D panik seketika.

“Kau tidak apa-apa ?” Tatto yang kalut langsung menemui istrinya, dan melihat keadaan Hyuni yang sudah terduduk dilantai.

“Perutku… s..akk..it..”

“baiklah kita kerumah sakit”

“Akh.. tidak perlu, cukup.. belikan aku obat saja”

Tatto D hanya mengangguk, lalu membopong Hyuni ke kamar apartemennya. Menidurkannya disana, dan bergegas keluar dari kamar itu. disana, Hyuni terdiam. Mata dan aroma nya memang sama persis. Dan wajah itu…

“Kim JungHo ?” gumam Hyuni

Setelah beberapa menit, Tatto D membawakan roti isi dan air mineral beserta beberapa obat yang dibeli oleh bawahannya diapotek terdekat. Tatto D sendiri tidak sadar atas apa yang dilakukannya, kecemasaan nya pada wanita ini membuatnya tak berpikir dengan jernih. Membuyarkan semua rencana yang sudah disusunnya secara matang.

“Kau Kim Jungho kan ? kenapa kau ada disini ? kenapa kau bisa menyelamatkanku ? kenapa ?” semua pertanyaan Hyuni membuat Tatto D tersadar akan tindakannya beberapa menit ini. sial.

“Aku hanya membantumu dan Jaejoong. Tidak lebih” ucapnya dingin. Lalu membuka beberapa obat dan roti isi dari bungkusnya. Hyuni terdiam, matanya masin meneliti secara detail wajah pria dihadapannya. Mata, gerak bibirnya.

“Myungjae” gumamnya lirih,

TBC

Diperbolehkan marah2 deh. kalo nggak merasa puas dengan chapter ini*pundung*

Iklan

20 thoughts on “Broken Married [6-b]

  1. qoyah cassie berkata:

    Di ijinkan marah2 ya?ok , aq akn marah…
    huwaaa !!!!!!!
    eonnie knp g ad bgian hyuna n jeje sma sekali ??
    wkwkk, peran suamiku msh dprthnkan kelucuanx.,hhaha
    owh, ibu nya jinho toh yg nyulik ??ckckk..
    lanjut eonn !!!!

  2. ayumi berkata:

    Masih bingung*blum baca part sbelumnya*, aku baru tau kabar jaejong kcelakaan, parah gak keadaannya…,
    Oia d tunggu part slanjutnya and part ABMnya kangen ma yoochun 🙂

  3. purple281000 berkata:

    Crtanya cepet banget TBC nya (‘-’ ) (._. ) ( ._.) ( ‘-’) (‘-’ ) (._. ) ( ._.) ( ‘-’)
    At least crtanya keren kok (ง’̀⌣’́)ง

  4. Chori Puspita Sari berkata:

    eonnieee mian baru sempet coment sekarang, soalnya lagi persiapan buat pkl 😦
    eonnie kok part jaejong sama hyunnanya engga ada? padaha aku nungguin banget kisah mereka 😦
    tapi engga papa eon keren kok
    makin penasaran sama lanjutannya. itu eommanya jae udah tau kalo itu tatto d. terus gimana sama jaenya kalo dia tau juga? apa di bakal nerima eon?
    aaaaaa pokoknya penasaran eon
    FIGHTING EON \^.^/

  5. jung12dea berkata:

    Wk ternyata udah ada-_- syedihhhh gaada jaejoong-hyuna moment di part ini:( Semoga next part dibanyakin yahhhh…. FIGHTINGGG!!!

  6. hwa yoon berkata:

    Huaaaaaaaaaaa singkat bangetttttttttttttttttt…….lanjutinnnnn sampe abis ya thor…cepet! *digebukin author* SIM lanjutin yahhhhh…gomawo

Your Comment become spirit for me ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s