Cinta Itu Nggak Satu {Cerpen}

Kalista Pov

Terpaan angin itu kembali mengembangkan rambutku  kebelakang, membuat aku harus menyisirkan lagi dengan jari-jariku. Aku masih berjalan diantara pepohonan yang berdiri kokoh dipinggir jalanan. Menerawangi apa yang terjadi selama beberapa hari ini.

Keputusannya membuat aku harus menelan kekecewan, kepahitan dan kesakitan. Aku yang telah percaya padanya kini harus terkhianati oleh sikap nya yang tak tegas. Sejujurnya aku ingin sekali membuat mukanya yang tampan itu tercabik oleh kuku-kuku –ku atau mungkin dengan garpu yang kamarin aku pegang. Tapi aku menahanannya. Aku tak ingin menodai tanganku dengan kekerasan. Percuma aku menggunakan kekerasa padanya, pada akhirnya ia akan meninggalkan diriku.

Aku menghela nafas, memandang trotoar yang semakin lama semakin menarik –menurutku. Apa lagi yang akan aku lakukan saat ini, kehidupan ku seperti berhenti berputar. Matahari juga sepertinya enggan menerangi langkahku. Semuanya seperti kelam, seperti ruangan yang tak mendapatkan cahaya. seperti itulah mungkin hatiku saat ini. mencoba tersenyum kembalipun susah, dan menghasilkan senyum hambar yang terkesan acuh.

Perubahan sikap ku sudah dirasakan oleh orang – orang di sekitarku, itulah yang membuatku makin tak nyaman. “apa kau ingin terus berdiri disini nona ?” panggilan itu membuat diriku tertarik kealam sadar. Aku memandang seorang lelaki yang berdiri disampingku.

“lampunya sudah merah, anda ingin menyebrang bukan ?” aku ingat. Aku berdiri dimana sekarang. Ya Tuhan otakku sepertinya sudah berhenti bekerja. Hingga aku berdiri dimana saat ini pun aku masih ling-lung.

Aku mengangguk, menanggapi ucapan pria itu. lalu mengikuti jejak langkahnya yang melewati zebra cross. Sampailah aku diseberang. Dan sekarang aku harus berjalan lagi menuju tempat kerjaku sebagai seorang publik relation diperusahaan berbasis Teknologi.

***

“kau seperti mayat hidup sekarang” celetukan itu membuat aku menoleh pada teman sekantorku. Ia menatapku dengan ‘horor’ itu menurutku sih. “seberapa besar dia mempengaruhimu ? hingga sekarang kau terlihat seperti hantu saja” komentarnya. Aku tak menjawab. Malas sekali membahas lelaki itu.

“lihatkan, kau memang sudah seperti manusia yang hidup segan mati tak mau. apa perlu aku menghancurkan lelaki itu. agar kau kembali seperti dulu ?”

Kali ini aku memandangnya. Lalu menggeleng, aku mengambil ballpointku lalu menuliskan kontak masuk hari ini, untuk dilaporkan pada manajer.

“tidak perlu bersusah payah. Karena nantinya itu akan sia-sia.” Ucapku

Dia mencibir “benarkah ?” tanyanya dengan nada sinis. Aku mengangguk. Lalu mengambil papan ketik yang tak jauh dari jangkauanku. Mengisi password untuk membuka akses jaringan dari komputer yang berjaringan paralel.

“hmm…” kataku lagi

“baiklah terserah padamu” ia membalikkan badannya, lalu meninggalkan mejaku.

Satu langkah

Dua langkah

Lalu berbalik padaku lagi. “kau ingin bertemu dengan idola mu kan ?” aku memandangnya. Idolaku siapa ? pikirku mengernyit.

“bahkan idolamu saja lupa.” Cibirnya “Hariyanto Arbi” tegasnya. Aku ber-oh ria. Tanpa suara,

“memangnya kau kenal ?” akhirnya aku berkomentar. Ia mengangguk.

“bukan aku, pacarku yang mengenalnya. Kau lupa kalau pacarku adalah atlet nasional William Ardian ?” tanyanya skiptis. Aku menyengir. Anak ini sukses sekali membuat aku terpengaruh pada obrolannya.

“ya Tuhan. Sebenarnya lelaki itu memberi mu racun apasih ? hingga kau lupa akan hal sekitarmu ?” keluhnya dengan malas. Aku menggeleng

“entahlah. Kekecewaan itu merenggut seluruh matahariku” ucapku akhirnya

“makanya, jangan pernah menaruh bibit-bibit cintamu dalam satu pot yang sama. Berilah bibit itu pada masing-masing pot. Mana yang akan menjadi bibit sempurna maka itulah pilihan dan ketetapan hatimu” nasihatnya.

Tapi kenyataanya, tidak bisa seperti itu. cinta itu bukan bibit yang bisa ditebar kemana-mana. cinta itu hanya bisa menebarkan satu bibit pada satu pot. Bukan seluruh bibit pada seluruh pot, lalu memilih mana yang bagus. Itu namanya serakah.

“kalau aku bersikap seperti itu sama saja murahan” kataku akhirnya

“murahan ?” ulanganya. Aku mengangguk. Aku jadi tertarik membahas ini padanya.

“kalau prinsipku seperti itu, sama saja aku mengobral cintaku. Lalu aku memilih mana yang menurutku baik. Apakah itu tidak menyakitkan orang lain ?” kataku lagi.

“kau ada benarnya” untung saja kali ini ia tidak men-debatku dengan percakapan yang cukup memusingkan. “jadi bagaimana ? mau bertemu dengan ‘Hariyanto Arbi ‘ ? ulangnya dengan tanda kutip melalu jari telunjuk dan jari tengahnya.

Aku mengangguk. Untung-untung membuang sial dan melakukan refresing kepala. Siapa tahu dengan melihat sosok Hariyanto Arbi bisa membuatku tersenyum. Walaupun umurnya sudah kepala 4 sih.

***

Seperti yang telah dijanjikan, Karenina. Teman kantor ku sekaligus sahabat ku membawaku kesalah satu gor dimana para pemain platnas digembleng. Sejujurnya aku malas untuk datang kemari, tapi karena sudah janji apa boleh buat. Aku memakai celana jeans model pensil dan kaos oblong berwarna abu-abu dilengkapi dengan blazer hitam panjang. Lalu aku padukan dengan high heels 7 centi ku.

Aku sedang tak ingin berolah raga makanya aku memilih untuk memakai heels. Dari pada memakai sepatu kets. Semua sudah terpadu tinggal mengikat rambutku seperti sekor kuda. Lengkap, hanya tinggal memoles bedak dan make up tipis.

Bel apartemenku berbunyi nyaring. Mungkin itu Nina. Aku langsung bergegas mengambil tas selempangku di atas bipet kecil disamping pintu kamar.

***

“emang kalau datang kemari nggak mengganggu jalannya latihan Nin ?” aku bertanya saat kami tidan digerbang pintu latihan. Nina menggeleng. Lalu kepalanya celingukan mencari seseorang yang sudah dapat ditebak. Siapalagi kalau buka William. Atlet profesional tunggal putra selama 2 tahun berturut-turut.

Nina lalu mebimbingku masuk kedalam gor, disana banyak sekali penggemar pemain yang datang menonton. Aku kira kami saja yang menonton “udah lama yang ?” tanya Willi pada Nina. Nina menggeleng

“nggak kok. Eoh ia ini Kalista. Teman kantor aku. dia nge-fans sama Hariyanto Arbi dan Lim Swie King.” Ucap Nina promosi.

aku sih menanggapinya cuek. Karena itu memang kenyataanya. Sejauh ini aku belum pernah berkenalan dengan Willi, karena Nina dan Willi baru berpacaran selama 6 bulan. Itu juga kebanyakan long distance. Willi sibuk meraih mendali-mendali untuk mengharumkan nama bangsa.

“hay, Willliam” ia menjulurkan tangannya padaku.

“Kalista” kataku pendek. Willi ber-oh ria.

“ayo masuk, aku kenalin sama yang lain. Kebetulan kita lagi ngumpul-ngumpul” dia membimbing Nina dengan mengamit tangan sahabatku. Dan aku hanya mengekori kedua sejoli itu.

Eoh, aku jadi teringat lagi. Masalalu ku dengan lelaki itu. benar-benar membuat tenaga dan pikiranku terkuras untuk itu. aku tak tahan, sebenarnya aku ingin kepsikiater untuk bertanya masalah ini. namun itu ku urungkan. Masa hanya karena persoalan cinta aku sampai ke psikiater. Ini bodoh namanya.

Jeduk…

Sialan, siapa sih yang naroh pintu disini. kepalaku jadi kejeduk. Mungkin beberapa menit lagi akan membenjol “ini anak.” Nina menarikku. Tanpa aku sadari aku menjadi pusat perhatian mata-mata atlet terbaik nasional. Aku jadi malu.

Cinta sialan. Pekikku.

“ngelamunin apa mbak, sampai pintu segede itu disosor” seorang mengomentari sikap ku itu. ini menyebalkan.

“maaf… lagi banyak pikiran dianya” kata Nina dengan nada melas. Lalu memandangku dengan muka yang ganas. Sialan ini anak.

“Kal, ini Mas Hary” sela Willi sebelum aku sempat menyemprot kekasihnya.

“ah, selamat sore mas” kataku gugup. Aku tidak tahu, entah keberuntangan dari mana, aku dapat melihat seorang Hariyanto Arbi dari dekat. Dia sungguh mempesona dan berkharisma.

“eoh, jadi ini yang nge-fans sama saya ?” tanya Mas Hary takjub. Ternyata dia masih berlogat jawa – banget….

“ia mas” kataku malu.

“duduk disana aja mbak. Biar enak ngobrolnya, masa mau ngobrol ditengah jalan” ungkap Mas Hary pada kami.

Aku mengangguk mengikuti langkah Mas Hary yang memilih tempat kosong dan nyaman untuk berbincang. Selama beberapa menit aku duduk mendengarkan cerita Mas Hary tentang pengalamannya yang mengesankan. Aku memandangnya takjub. Baru kali ini aku menemui sosok lelaki yang berkharisma dan ramah. Dia bukan tipikal lelaki yang aneh- aneh. Dia juga selalu berbicara sopan. Aku kagum padanya. Beruntunglah wanita yang dapat mencuri hati Mas Hary. Karena lelaki dihadapanku ini adalah lelaki yang mampu mempertanggung jawabkan apa yang diperbuatnya. Itu semua ternilai dari cara dan sosoknya selama aku duduk didepannya.

“waduh saya ada urusan nih mbak. Ditemani sama Alvent Kurniawan nggak apa-apa kan ? dia juga jago Jumping smash kok. Nggak kalah sama saya” kekehnya. Aku juga ikut tertawa mendengar sarannya. Jadilah aku mengangguk saja. Dari pada aku melihat pasangan disampingku yang sibuk dengan urusan percintaan mereka.

Lebih baik aku mencari teman yang dapat bertukar pikiran seperti Mas Hary tadi. Mas Hary lalu memanggil Alvent.

Alvent datang memenuhi panggilan dari Mas Hary dan menemaniku untuk berbicara. Sejanak obrolan kami terasa sangat canggung, dikarenakan memang aku tak tahu siapa dirinya. Sejujurnya aku menyukai badminton hanya karena papahku yang terobsesi menjadi atlet. Tapi sayang impiannya hanya sampai pada tingkat kecamatan.

Atlet badminton yang aku kenal hanya beberapa, dan yang kukagumi juga hanya dapat dihitung dengan jari.

“sudah berapa lama suka sama badminton ?” tanya Alvent memecah kesunyian. Aku memandangnya yang sedang memperbaiki letak senar raket.

“nggak mendalami. Tapi cukup tahu. Dan itu sekitar 10 tahunan lah” ungkapku dengan nada lirih. Alvent mengangguk.

“eoh” kami terdiam lagi. Sunyi sekali. Yang terdengar hanyalah suara sambaran kok yang dilempar dari kanan ke kekiri, dan dari kini kekanan. Atau terdengar decitan sepatu yang bergesek dengan lantai.

“spesialisasi kamu apa ?” tanyaku mencoba berunding sedikit dengannya. Ia memandangku setelah dia menyibukkan diri dengan raket biru ditangannya.

“kalau boleh mengakui aku bisa melakukan Drop shoot silang, backhand, atau mungkin Jumping smash” katanya dengan nada yang cukup datar. Aku jadi penasaran sendiri siapa sebenarnya Alvent. Serasaku nama ini sudah tak asing, kalaupun ia pemain baru juga pasti tak banyak orang yang melirik kami saat kami tengah mengobrol seperti ini.

“wow, Jumping smash dan backhand adalah bakat yang tak ternilai” pujiku padanya. Ia menanggapinya dengan senyuman miring yang dianggap sinis

“tidak juga, bakat itu adalah dasar. Tapi dalam kenyataannya kau tak bisa bertahan karena bakat saja. Kau juga harus berlatih agar kemampuanmu mempuni.” Ia lalu menghela nafas sesaat, membuat aku sedikit ter-gugah untuk menatapnya lebih dalam. Garis rahangnya keras, menyiratkan sosok manly dalam dirinya. “dan orang tanpa bakat juga bisa menjadi atlet dengan kemampuan seperti ku. Asal mereka mau belajar. Seperti sebuah batu yang bila ter-tetesi air  hujan lama kelamaan akan mengikis” ungkapnya lagi.

Kali ini dia benar. Aku memandang lapangan didepanku. Disana para atlet-atlet nasional mulai mempertontonkan keahlian mereka lagi. Aku jadi teringat satu hal

“kau, bermain di bidang apa ? tunggal atau ganda ?” kataku polos. Ia memandangku dengan tatapan lebih meng-hakimi. Satu alisnya terangkat naik. Matanya tajam memandangku.

“kau tak tahu aku ?” ucapnya parau. Aku mengangguk.

Ia menghela nafas. Lalu berbisik sendiri “aku Tunggal putra. Sama seperti Willi” katanya. Aku hanya ber-oh ria,.

“kau BWF berapa ?” saat pertanyaa ini meluncur, sinar  matanya seperti mau membunuhku. Memangny aku salah ya ?

“carii saja sendiri. Setelah kau dapat kau bisa menghubungiku. Ini nomer ponselku” katanya dengan wajah tak enak sekali dilihat. Ia memberikan secarik kertas yang berisi nomor ponselnya.

Aku jadi kaget sendiri.

***

“jadi semalam kau dan alvent membicarakan apa ? kalian terlihat serius” kata Nina dengan santai. Kami sekarang sedang duduk manis di meja makan, karena jam makan siang. Aku menyesap teh botolku dan memandang Nina.

“nggak ada yang menarik” kataku acuh. Nina mengangguk ber-oh ria. Lalu  membuka air mineral yang ada dimeja.

“eoh, Alvent itu pemain tunggal ya ? BWF berapa ?” tanyaku lagi. Nina tersedak. Lalu menjitak kepalaku

“kau. Ya Tuhan” keluhnya dengan nada frustasi

“kau ini, apa lelaki itu yang membuatmu buta akan informasi hingga tak tahu seorang ALVENT ?” pekiknya setengah kencang. Membuat aku meringsi mendengar ucapannya. Bodoh telinga aku sakit.

“memangnya penting ya ?” kataku lagi. Ia mendengus

“kau tahu Alvent adalah atlet tunggal putra yang masuk dalam jajaran 5 atlet terbesar di BWF.” Aku ber-oh saja. Hanya 5 besar kan ? bukan satu kan ? ya sudah apa peduliku. Haryanto Arbi yang menjadi juara dunia tahun  1995 saja tak angkuh seperti Alvent.

“kau ini. pantas alvent sepertinya sakit hati padamu”

Aku tak menanggapinya. Masalah buat ku ? toh aku tak-akan-bertemu dengan alvent lagi.

***

Kalimatku seminggu yang lalu tenatang aku tak-akan-bertemu dengan alvent lagi, adalah kata bualan. Ternyata aku bertemu dengannya saat aku menghadiri acara pernikahan saudara sepupuku. Sungguh malu. Kal. Mukamu mau ditaruh dimana ?

Kenapa mereka mengundang Alvent sih. Rutukku.

“masih ingat denganku ?” tanya Alvent dingin. Aku meng-angguk saja. Tak mau melihat matanya yang terlalu tajam dan dingin.

“sudah tahu BWF ku berapa ?”tekannya. aku hanya bisa meng-angguk lagi.

“baguslah” katanya pendek.

“loh udah kenal sama nak Alvent ?” tanya pamanku. Sang empunya hajatan. Mentri olah raga dan pemuda. Randi Suratman.

“baguslah, kamu memang harus melupakan Dion” nama lelaki bajingan lagi yang disebut. Menyebalkan. “lebih baik kamu sama nak Alvent dari pada sama Dion” hah ?

Patah hatiku belum sembuh paman. Tolong berhentilah untuk kalian menjodohkan ku dengan siapapun. Aku dan Alvent tak berkomentar banyak, kami diam dalam kericuhan pesta nan megah ini.

***

Hari ini pertandingan Djarum super open. Dan aku dipaksa oleh Nina untuk menemani –nya melihat aksi sang kekasih. Nina. Kau memang temanku paling menyebalkan dalam hidup. Aku memalingkan wajahku asal. Dan pemandangan tak sedap itu datang. Dia lelaki itu. datang dengan kekasihnya yang menggelayut mesra dilengannya.

Secepat itukah dia melupakan aku ? tanyaku dalam hati.

Bodoh untuk apa aku bertanya lagi, pada nyatanya dia memang semudah itu melupakanmu. Dan itu pertanda untuk mu Kalista. Musnakan dia dari dalam memori otakmu. Hancurkan semua kenangan nya. Buang semua sisa rasa itu. kau terlalu bodoh memikirkan sakit hatimu pada lelaki seperti dia. B.O.D.O.H.

“aku kekamar mandi” kataku dengan Nina tanpa menoleh. Nina mengangguk padaku.

Disini aku, melihat bayanganku yang menyedihkan. Tatapan mataku tak bernyawa, hatiku yang kelam, dan kesakitan hati yang tergores karena lelaki itu. jangan salahkan aku untuk membencinya, karena dia yang membuat aku seperti ini.

Aku membasuh mukamu dengan air kran. Sebagai tanda penghapusan memory tentang  dirinya. Lalu keluar dari toilet.

“kau mengikutiku ?” aku tersentak saat mendengar ucapan lelaki yang bernama Dion

“mengikutimu ? cish jangan harap” ketusku. Ia tertawa dengan remeh

“aku tau Kal. Kamu nggak bisa lepas dari aku.  makanya kamu ngikutin aku sampai sini”

“bermimpi sajalah kau Dion. Karena sesungguhnya aku sudah memiliki kekasih”bohongku. Dion makin memperlebar tawanya. Lalu memandangku

“yakin ?”

“im sure” kataku dengan penuh penekanan dan emosi.

“apa pacarmu disini ?” pancingnya. “tadi aku melihat kau dengan Nina” ucap nya sinis

Sial. Apa yang akan aku lakukan. Pandanganku terhenti pada sosok lelaki yang memakai kaos merah blaster hitam dengan celana pendek Hitam

“dia ada dibelakangmu” kataku. Dion menoleh, mendapati Alvent yang mebetulkan kerah bajunya.

“eoh Alvent. Ternyata kau yang menjadi kekasih wanita bodoh seperti Kalista” wanita bodoh. Kau yang bodoh meninggalkan aku karena wanita itu.

Alvent terdiam sebentar, ia sama sekali tak membaca situasi. Dengan tatapan tajamnya Alvent memandangku. Apa yang akan aku lakukan. Mukaku benar-benar pasrah. Dion memandangku dan Alvent  bergantian.

“aku rasa kau yang bodoh. Meninggalkan gadis seprti Kal. Aku rasa Kal adalah orang yang unik. Ayo sayang pertandingan mau dimulai” ajak Alvent padaku.

Syukurlah. Alvent you are my hero. Untuk saat ini saja.

“thanks” kataku pada Alvent. Alvent menoleh

“cish, nggak segampang itu.” ucapnya dengan bisikan ditelingaku. Benar-benar membuatku merinding.

***

Hari ini adalah Final Djarum super open. Dimana tunggal putra asal indonesia  Alvent Kurniawan  akan berhadapan dengan tunggal putra asal Korea Kim Dae Seong. Dan aku harus menontonnya. Karena balas budiku padanya. Semenjak kejadian itu, aku dan Alvent sedikit lebih dekat. Walaupun hanya via telpon dan bukan dengan ungkapan-ungkapan yang romantis.

Alvent adalah sosok yang aneh menurutku. Kata-kata nya ketus, dan pendek. Tapi selalu benar jika ditalar. Tak pernah menunjukkan perhatiannya secara langsung, bahkan lebih ke cenderung seperti memerintah.

Aku duduk dibangku VIP. Tiket kali ini dibelikan oleh Alvent sendiri.

Aku memegang stik gembung yang permerek YONEX ditanganku. Anggap saja aku sedang baik padamu alvent, hari ini aku mendukungmu.

Pertandingan hendak dimulai. Alvent dan lawannya mulai memasuki lapangan. Sejenak ia melirikku, lalu melontarkan senyumnya. Aku membalasnya dengan senyuman juga. suara gemuruh di istora gelora bungkarno membuat aku menutup telinga.

Game pertama, Alvent menguasai pertandingan. Walaupun perolehan angka cukup ketat, ternyata alvent mampu mempertahankan staminannya. Hingga Game ini direbut olenya.

Game Kedua, Alvent mengalami beberapa kendala. Sepertinya cedera kakinya membuatnya agak susah untuk melueskan diri berlari dilapangan miliknya, perolah angka masih ketat seperti game pertama. Namun kali ini terjadi just, sehingga kedua pemain menjadi grogi. Smash tajam dari Dae Seong tak bisa dikembalikan Alvent sehingga game ke dua ini rebut olehnya dengan skor 23-25.

Game 3. Adalah game penentuan. Kedua pemain sepertinya ber-ambisi untuk merail gelar juara ini. apalagi  Alvent. Terlihat jelas dari sorot matanya. Aku harap alvent tak melakukan tindakan bodoh karena ambisinya.

“udah nyampe aja” itu suara Nina. Aku menolehkan kepalaku mentap gadis manis yang duduk disampingku. Lalu nyengir

“ciee.. yang udah deket sama Alvent. Selamat ya, semoga kali ini jodoh deh, kamu sama Alvent” kekehnya. Apaan tu.

Sama Alvent ? yang ada aku yang di KDRT-in selamanya sama tu orang. Aku malas membalas guyonan Nina. Jadi aku putuskan untuk melihat ke-lapangan.

Semua pemain bersiap, mereka berasa di lapangan milik mereka masing-masing. Memanaskan diri, dari tempat ku duduk, aku bisa medengar suara gemuruh penonton yang memekakkan telinga.

Game ke tiga dimulai. Sattle kok di gulirkan oleh Dae Seong. Lalu dipantulkan lagi oleh Alvent melalui backhand-nya. Karena bola berada disisi kirinya, otomatis ia harus memakai itu. ternyata alvent memiliki backhand yang kuat, seperti taufik hidayat. Beberapa menit kemudian, alvent memperoleh angka. Dan di susul oleh Dae Seong. Benar-benar pertandingan yang mendebarkan.

11-10 untuk alvent. Alvent tengah berkonsentrasi untuk menggulirkan sattle koknya pada daerah lawan. Permainan semakin memanas, ditambah lagi keriuh-an para supporter yang meneriaki nama alvent yang menggema. Atau terkadang mereka menyanyikan lagu indonesia raya. Nina seolah tahu kecemasaan yang datang tiba-tiba pada diriku. Ia lalu menjulurkan tangannya, untuk menenangkan-ku

“santai aja, Alvent pasti bisa kok. Dia aja nggak gemeteran masa kamu yang gemeteran” aku jadi terkikik.

Bunyi gulir-an suttle kok itu membuat jantungku semakin berdetak kencang. Sorakan penonton juga berubah menjadi huuuu—haaaa… ya Tuhan, selamatkan jantungku. Aku yang melihatnya sudah merinding, bagaimana Alvent yang disana.

Daeseong memberikan umpan yang tanggung dari bibir net, sehingga membuat Alvent memudahkan aksinya untuk menggunakan drop shot silang dengan smash nya yang tak bisa dibilang biasa.

Dan gelar juara pertama Tunggal putra di rebut oleh ALVENT Kurniawan. Pemain asal Kudus Jawa tengah. Aku tersenyum bahagia melihat akselerasi yang dilakukannya.

Melepar raket dan berteriak. Persis seperti orang gila. Aku berdiri memberikan tepuk-tangan pada nya.

***

Siang ini aku dikejutkan oleh pemberitaan media mengenai kekasih dari Alvent. Dan parahnya orang yang mereka tunjuk itu adalah aku. hay, aku bukan kekasih Alvent. Pahamkanlah itu. rutukku dengan kesal.

Aku dan Alvent hanya teman, kalau bisa disebut seperti itu.

Aku mengemas kertas kerjaku yang berserakan di meja, lalu membuka data-data konsumen untuk ditindak lanjuti. Serta membuat laporan tahunan untuk diberikan kepada kepala keungan di kantor ini. melelahkan.

Entah kenapa semenjak kejadian ditelevisi yang menyebutkan aku kekasih dari Alvent mereka memandangiku dengan tatapan yang aneh, tatapan yang membuat aku tak nyaman dan risih. Sungguh aku dan Alvent bahkan tak bisa disebut sebagai teman. Melihat sikapnya yang selalu suka memerintah.

“kenapa lagi ?” Nina bertanya padaku. saat aku mengantarkan laporan itu keruangan divisi pusat.

“gosip itu membuatku tak nyaman” kataku pelan

Nina meng-angguk. “telpon saja Alvent minta dia menjelaskan pada media”

“nggak segampang itu” kataku kesal “mana mau dia memikirkan tentang media. Mungkin menurutnya lebih baik dia mengikuti pelatihan dari pada mengurusi hal-hal gak penting seperti ini” rutukku lalu duduk diseberangnya.. Nina terkekeh

“paham sekali dengan sifat Alvent”

“dia mudah ditebak, tempramen yang tinggi, dan suka mengatur” lanjutku

“okelah, tapi masalahnya Alvent ingin menjelaskan sesuatu padamu. Dan dia memintaku untuk mengatakan siang ini dia mengajakmu ‘lunch’ “

Gila. Dia mau memperburuk keadaan ? pekikku dalam hati. Alvent tolong jangan bawa aku kedalam kehidupanmu lagi. Kesalku. Aku menghela nafasku dengan gusar “nggak mau” kataku langsung

Nina mengernyit “kenapa ? bukanya mau minta penjelasan dari Alvent ?”

“ogah. Nggak jadi deh” kataku lansung ngacir.

Sekarang cara terbaik adalah menghindari Alvent dan media. Enak saja, aku sudah nggak mau lagi dipermainkan seperti ini. apalagi sekarang hatiku sudah mendapati rasa aneh setiap melihat Alvent, baik itu di televisi internet atau dimajalan olah raga yang sering lalu lalang di meja ku.

“jangan menghindar Kal” suara Nina lagi. Tolong Nina aku udah nggak mau merasakan indahnya jatuhnya, lalu sakitnya saat terkhianati

“nggak semua kali lelaki itu seperti Dion” Nina seperti tahu apa yang aku pikirkan. Ia kemudian mengoceh “temui Alvent, aku udah nggak mau lagi dengerin ocehan Alvent kalau dia nggak bisa menghubungi kamu” perintah Nina.

Enggak males. Aku udah nggak mau berhubungan dengan lelaki manapun. Untuk saat ini. aku masih ingin menata hatiku dan karir ku saat ini. no man. Kataku teguh.

Tapi ternyata perkataanku barusan tidak seimbang, didepan lobi kantorku, Alvent berdiri dengan celana jeans dan kaos hitam oblong. Aku jadi kaget melihatnya.

“aku sibuk”kataku langsung.

“sesibuk apa ? inikan sudah jam pulang” kata Alvent. Aku mengeluh sendiri.

“ya sudah mau bicara apa ?” kataku lagi.

Alvent menarikku kedalam mobilnya. Meninggalkan motor ku yang terpakir di parkiran. Aku sempat memprotesnya, tapi dijawab dengan nada sombong khas ala alvent. ‘Nanti Nina yang bawa motor kamu’

Disinilah kami sekarang, di pantai. Deruan ombak yang mengantam daratan dan bebatuan membuat suara gemericik yang mengalun idah. Terpaan angin laut membuat rambut kami terbang, sejak 5 menit yang lalu Alvent masih diam seribu bahasa.

“apa yang ingin kau bicarakan ?” aku memecah kesuyian antara diriku dan Alvent

“kau marah masalah pemberitaan itu ?” dia berbicara tanpa menoleh.

“tidak”

“lalu kenapa meng-hindariku ?” aku mengernyit.

“tidak meng-hindarimu. Perasaanmu saja”

“aku tak percaya” katanya ngotot, kali ini ia memandangku, lengkap dengan tatapan mata tajamnya. Garis rahang nya yang keras membuat nya semakin terlihat tampan dibawah sinar matahari yang berwarna oranye. Berhenti memujinya saat ini Kal.

“terserah mulah” aku membuang muka. Ia tersenyum.

“inilah yang membuatku tak pernah mau mengatakan cinta padamu. Mendengar gosip kita pacaran saja kau langsung menghindar. Bagaimana nanti jika aku benar-benar mengatakan aku mencitaimu ?” tanyanya dengan nada jauh lebih ramah. Aku menghela nafas.

“aku yakin kau akan menghindar dari ku. Mungkin tak pernah mau mengenalku lagi” katanya. Hening kembali, yang terdengar hanyalah deburan ombak yang masih saling mengejar dan saling menghentam daratan pantai.

“aku hanya takut” kataku lirih. Alvent memandangku

“takut apa ? takut dikecewakan ?”

Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Mataku sudah tak sanggup melihat wajahnya. Jadi aku hanya menunduk memandangi pasir-pasir pantai.

“aku rasa kau bukan anak kecil lagi,kau sudah tahu konsekuensi dalam hal asmara. Apa perlu aku ajarkan lagi ?” tanya Alvent.

Aku  tersenyum kecut “aku tak tahu, Al” ucapku.

Alvent mengangkat daguku “dengar, kalau kau seperti ini. maka selamanya kau akan dalam bayangan masalalumu. Lihatlah dunia disekitarmu, dan syukuri saja apa yang terjadi pada saat ini” ucap Alvent padaku. aku memandang manik matanya yang kecoklatan

“jangan pernah membandingkan kisah cinta masalalu mu dengan kisah cinta mu saat ini. karena itu akan berbeda. Kau menjalani kisah itu dengan orang-orang yang berbeda juga Kal. Kalau sikap mu seperti ini bagaimana kau bisa berkembang ? bagaimana bisa kau memahami setiap karakter lelaki yang berbeda pula ?” setelah menyelesaikan kalimatnya Alvent  menurunkan tangannya.

Aku masih diam. Mencerna apa yang Alvent katakan, mungkin Alvent benar. Setiap karakter lelaki berbeda, otomatis kisah cinta itu akan berbeda jalurnya.

Terima kasih atas pencerahanmu.

“maukah kau membantuku untuk menata kisah kita dimasa depan ?” kata itu meluncur dari bibirku setelah kesunyian antara aku dan Alvent. Alvent memandangku dengan senyum

“as u wish” ucapnya tenang.

***

Aku hampir lupa. Bagaimana cara mencintai yang benar, bagaimana  cara untuk bangkit dari keterpurukan, bagaimana cara untuk bersikap rasional. Patah hati membuat aku menjadi rapuh, menjadikan matahariku meng-hilang dari edarannya. Membuat siang menjadi kelam tanpa cahaya, dan malam bagai sebuah terowongan yang tak berujung.

Dan saat matahari itu datang menghampiri diriku, aku malah menjauh. Aku malah berlari entah kemana. Saat aku menemukan ujung terowongan yang gelap, aku malah ketakutan. Satu pencerahan itu datang, memberiku petunjuk. Kehidupan memiliki alur yang berbeda dan akhir yang berbeda pula. Seperti itulah cinta, memiliki kisah yang berbeda dengan ujung dan pangkal yang berbeda. Cinta itu nggak satu. Cinta itu seribu, cinta itu datang tanpa dirasakan, tanpa dipahami, tapi langsung menusuk pada ulu hati yang membuat kita nyaman.

Mungkin saat ini aku harus berterima kasih pada Dion karena telah mengkhianatiku. Kalau bukan karena dirinya yang membuat aku patah hati, aku tak yakin akan merasakan kebahagiannya sebagai kekasih atlet internasional seperti Alvent Kurniawan.

The End

Komeennn…. 🙂 gimana karya ku yang ini ??? hahaha

Kalo ancuur langsung ngomong ya temen-temen ^ ^ soalnya aku butuh masukan untuk lebih memperhalus bahasaku dalam menulis…  ceritanya datar dan mungkin udah biasa, tapi aku rasa semua kehidupan cinta juga seperti itu. putus-patah hati-lalu menemukan kisah yang baru dengan orang yang baru…

Okelah dari pada ngomong ngalur-ngidul nggak jelas, silahkan di kritik dan di komenn yah 🙂 Thanks….

Satu lagii lupa.. OM HARIYANTO ARBI, SMASH MU MENGGERTAKAN HATIKU.. HAHAHA XD…..

Iklan

2 thoughts on “Cinta Itu Nggak Satu {Cerpen}

Your Comment become spirit for me ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s