Lucky Kiss

 

 

 


Author : Vii2Junshu_Kim

Cast :

Park Hyojin

Shim Changmin

Han Chaeyong

Go Jiho

 

Genre : Romance, Friendship

Leght : Oneshoot

Ps : hanya satu POV yakni Park Hyojin 🙂

HapRead  Readerssss ….

 

Aku melangkah kedalam kelasku, namun sebelum sampai kekelas, seperti biasa aku melewati koridor kakak tingkatku. Apalgi alasannya jika bukan untuk melihat Go Jiho Sunbae, aku menyukainya sangat. Dia tampan, baik, dan lagi dia mahir dalam hal mengiring bola oranye. Ya olah raga favoritnya adalah bermain basket, hobinya juga yang membuatnya populer hingga saat ini. Aku mulai menyukainya sejak dia menjadi kapten basket di bangku pertama aku sekolah.

Aku masih ingat dengan jelas, senyumnya saat ia mememaniku untuk duduk di halte bus menunggu bus selanjutnya berhenti. Lalu aku masih terekam jelas saat dirinya meminta maaf dengan muka bersalah saat bola yang digiringnya terkena kepalaku. Aku tersenyum sendiri.

Aish.. kenapa jatuh cinta itu sangat menyenangkan ??

Aku juga tak tahu. Aku berhenti tepat didepan kelasnya. Kulihat ia sedang menghapus papan tulis kelasnya. Ah ia, dia kan piket hari ini, kenapa aku lupa. Sambil tersenyum ‘lagi’ aku berjalan kearah kelasku. Tak sengaja pandanganku bertemu dengan Changmin sunbae. Ketua grup taekwondo disekolahku. Aku tersenyum padanya, dan apa balasannya ? cish, melihat kearahku saja tidak. Menyebalkan.

Aku duduk dengan manis dikelas, membuka buku sejarah, dan tersenyum lagi mengingatJiho sunbae. “kau kenapa lagi ? “ Chaeyong meletakkan tas punggungnya dimejaku. Lalu melihat intens diriku. Aku menggeleng tersenyum “anii.. tumben kau telat hari ini” aku bertanya balik padanya

“ada kemacetan saja tadi. Jadi bagaimana ? kau nanti lihat pertandingan Jiho Sunbae ?” Chaeyong bertanya padaku. Aku mengangguk tersenyum. “:kau  temani aku ya ?” aku melihatnya memohon.

Seperti biasa, ia hanya tersenyum mengiyakan ajakanku. Siang ini kami langsung bergegas ke lapangan, melihat pertandingan antar sekolah untuk memperebutkan gelas CL Cup. Karena pertandingan belum selesai,aku memutuskan untuk ke toilet sebentar.

“aku ke toilet dulu ya” aku pamit pada Chaeyong, dan segera berlari keluar lapangan. Diperjalanan aku bertemu dengan Changmin sunbae. Kelihatannya dia sedang kesal, mungkin sih.

Selesai dari toilet, aku mendengar suara keributan.

“aku tidak mau berhubungan denganmu lagi. Mulai saat ini kita putus” terdengar suara wanita itu dari balik pintu toilet. Perlahan aku buka pintu ini tanpa mengeluarkan suara apapun. Lalu berjalan mengendap melihat siapa yang ada dibalik pintu.

“Jiho sunbae ?” Gumamku tak percaya.dan wanita yang ada didepannya adalah Chaeyong ?

Kenapa semuanya seperti ini ? sebenarnya mereka ada hubungan apa ? pikirku lagi. Apa mungkin selama ini Chaeyong menjalin hubungan dengan Jiho Sunbae ? kalau memang ia kenapa dia tidak mengatakan itu dari awal ? agar aku tak lagi menyukai Jiho sunbae.

Tak terasa air  mataku mengalir dengan lirih. Kulihat mereka masih bertengkar disepanjang koridor kelas. Aku berjalan, berbeda arah dengan mereka –menurtku. Tapi saat aku hendak duduk dikelas kosong untuk menghilangkan semua ini, mataku kembali terbelalak. Aku melihat mereka tengah berciuman disana. Disudut kelas. Aku menahan tangisku yang mulai menjalar, dan mengeluarkan isakan.

Sebuah tangan menutupnya dengan cepat, membimbing aku meninggalkan kelas itu. Tangan itu menuntunku kesebuah taman dibelakangan sekolah. Disini terdengar hiruk-pikuk suara yel-yel yang dilontarkan pemain cheers.

Aku masih menangis, bahkan dalam pelukan orang yang aku tak tahu siapa dia. kemeja sekolahnya bahkan sudah basah dengan air mataku. Ia hanya mengelus kepalaku “menangislah” ucapnya lembut. Aku mengikuti sarannya hingga aku benar-benar menangis sejadinya.

Aku terdiam, mataku yang sembab sudah mulai membengkak. Ya Tuhan parah sekali diriku saat ini. “sudah selesai ?” ucap pria itu, aku mendongak melihat siapa yang ada didepanku. Eoh ? Changmin sunbae ? omo malunya diriku

“jadi kau patah hati ?” tanyanya saat kami berdua terduduk dibawah pohon rindang, beralaskan rumput hijau. Aku mengangguk masih memainkan dasiku.

“matamu sampai bengkak. Apa sesakit itu ya ?” tanyanya tak percaya. Dari tatapan matanya seperti mengejek. Dasar Changmin sunbae.

“kau belum merasakannya ya sunbae ?” tanyaku skeptis, pandangan mataku menyipit kearahnya. Dengan santainya ia berkata

“tidak pernah. Yang ada wanita yang aku buat patah hati” aku ternganga.

“mwo ? baiklah, akan aku doakan agar kau patah hati juga. Secepatnya” doaku dengan penuh harap. Ia melihat kearahku lalu tersenyum.

“hey, kau mengatakan itu, agar nanti jika aku patah hati kaukan yang akan menghiburku, lalu aku akan jatuh cinta padamu, ia kan ? ” godanya padaku, aku memutar mata jengah

 “cih, percaya sekali. Mana mungkin begitu” kataku lagi. Ia tergelak.

“oke baiklah. Lupakan pertengkaran konyol ini” katanya santai. Aku mengangguk menyetujui.

Kami terdiam.

Hanya suara yel-yel yang terdengar disini. Aku memandang Changmin subae yang menatap langit sambil tiduran diatas rumput hijau. Kedua tangannya digunakan untuk menumpukan kepalanya. Aku melihatnya dengan kagum. Ia memang tampan, dan pintar. Namun kedua kelebihannya tertutupi oleh sifat arogansi dirinya.

Aku jadi kesal sendiri melihatnya yang terkadang sok. Apalagi saat penerimaan piala murid terbaik dari sekolah, dalam pidatonya dia membanggakan kemampuannya, seolah mengatakan dirinya yang terbaik. Dasar.

“kalau kau terus melihatku, kau akan jatuh cinta, jadi kedipkan matamu”

“mwo ? yak dasar” aku memukul lengannya yang dapat ku gapai.

“habis kau melihatku seperti mau menelanku” ia beranjak dari tidurnya dan menatapku.

“berharapa sajalah” kataku lagi.

“kau mau pulang tidak ? aku sudah bosan disini” ia berdiri lalu membersihkan beberapa rumput yang menempel dipakaiannya. Aku mengangguk, lalu menjulurkan tanganku seperti biasa. Dengan tenang changmin sunbae membantuku.

***

Semejak saat itu, aku sangat menghindari Chaeyong. Aku sengaja datang hampir terlambat dan selalu pulang cepat agar aku tak bisa berbicara dengannya. Lalu saat istirahat aku sengaja menghampiri Changmin sunbae yang duduk tenang di kantin dengan membawa buku tebalnya. Hingga beberapa orang menggosipi aku mengejar dirinya.

Lalu masalah ektrakulikuler, aku memilih keluar dari klub basket,dan memilih mengambil kesibukan di buletin sekolah. Lumayan menguras tenanga dan pikiran. Apalagi saat aku harus menjadi anggota berita, harus mencari tahu beberapa berita dari sekolah lain, selain iti harus mencari bahan refrensi yang baru.

Untuk semetara ini perhatianku cukup teralihkan dari dunia patah hati.

“Jia, minggu siapa yang akan kita wawancara ?” aku bertanya pada seseorang disampingku yang asyik membaca astrologi dijejaring sosialnya.

“eung,coba lihat surat edaran dari ketua deh” sarannya, aku mengangguk dan berjalan kemeja seberang, disana ada surat edaran minggu ini. dan tada. Hasilnya aku harus mewawancarai si pembuat patah hatiku.

“siapa yang kita wawancarai ?” tanyanya

“ada beberapa orang, pertama Jiho sunbae, lalu Kiha hobae kita, dan terakhir pelatih basket sekolah kita. Kau pilih yang mana ?” tanyaku lagi

“aku memilih pak pelatih sajalah, sisanya kau tanyakan pada Naura” ucapnya. Aku mengangguk dan melipat surat edaran itu, meletakkan kembali ketempatnya. Lebih baik aku memilih kiha. Dari pada aku menangis didepan mereka berdua. Terlalu menyakitkan.

***

Aku meneguk jus buah pesananku. Aku kembali merenungi semua itu. Heh apa dengan terus menghindar aku semua masalah akan beres ? pikirku lagi.aku menghela nafas, mencoba berpikir secara dingin dan jernih, namun tetap saja rasa gelisah saat bertemu salah satu dari mereka membuatku tak nyaman.

“loh, masih disini Hyo ?” tanya Naura, aku mengangguk tersenyum, dia duduk disampingku

“bagaimana sudah baca surat edaran dari ketua kan ?” tanyanya aku mengangguk lagi

“aku sudah memutuskan untuk mewawancarai Kiha, Hyo” lanjutnya dengan senyum kelinci. Aku kaget, yah seperti itulah.

“kau wawancara Jiho sunbae saja ya. Lagipula kau kan pernah satu ekstra dengannya” ia memintaku dengan persaan memohon, bagaimana aku bisa menolak. Aku mengangguk dengan tersenyum yang memaksa.

“baiklah”

Naura tersenyum dan meninggalkan diriku. Setelah Naura pergi, aku mengutuk diriku sendiri. Kenapa bodoh sekali sih, kenapa aku harus mengiyakan ucapannya. Heh, kepalaku tertunduk lesu.

***

Besok adalah deadline. Jika aku belum mendapatkan bahan, matilah aku dimarahi oleh siketua yang juteknya amit-amit. Akhirnya aku putuskan untuk mengambil daftar pertanyaan minggu ini di tempatnya.

Ditengah koridor aku bertemu dengan Chaeyong yang sedang begelut dengan Jiho sunbae, aku mencoba mengacuhkan mereka, ternyata Chaeyong melihatku dan menegurku.

“Hyo-ah” ucapnya dengan senyuman, aku mengangguk lalu meninggalkan mereka. lalu tangan Chaeyong menahanku.

“kau marah padaku ?” ucapnya, aku menggeleng. Mogok berbicara.

“kalau tidak mengapa kau tidak pernah mau berbicara lagi denganku ? apa aku melakukan kesalahan padamu ?” tanyanya

“kau pikirkan sendiri, aku sedang sibuk permisi.”

Aku melangkah meninggalkan dirinya. Baiklah kau harus kuat kan Hyojin.

“kenapa terus menghindari mereka ?” aku membalikkan tubuhku, melihat changmin sunbae yang tengah berdiri diambang pintu ruangan buletin.

“apa maksudmu ?” tanyaku padanya

“maksudku ? baiklah” ia membuang nafasnya dengan gelisah “selesaikan semua urusanmu dengan sahabatmu. Melihat mu begini aku jadi ikutan gelisah tahu tidak.” Aku menggeleng. Dan dia jengkel, mendekatiku lalu mencengkeram lenganku, dan mendudukkanku disalah satu kursi, dia sendiri duduk dia meja.

“kenapa kau yang gelisah sunbae ?” tanyaku polos.

“bagaimana tak gelisah, kau datang padaku mengadu ini itu. Aku pikir aku tuli dan tidak berperasaan, melihatmu terus menekan semua perasaanmu. Kalau kau memang tak pernah sanggup untuk memendam apa yang kau tak suka, maka utarakan itu” ia berbicara dengan nafas memburu, suaranya juga tak bisa dibilang lirih, malah menggelegar seperti menghakimiku. Aku memandang matanya yang berkilat frustasi.

“baiklah, akan kucoba. Tapi tunggu waktu yang tepat” ucapku enteng, aku berdiri dari kursiku, lalu membelakanginya.

“waktu yang tepat ?” tanyanya, aku mengangguk “ aku rasa saat ini kau sedang menghindari masalahmu sendiri. Apa kau pikir dengan menghindari semua itu maka masalah akan selesai ?”. Aku membalikkan badanku, memandangnya sengit.

“ya!” ucapku kesal.

“sudahlah, kau mau mewawancarai mantan gebetanmu kan ? akan aku temani”

“dan jangan lupa, selesaikan semua itu hari ini juga”
putusnya dengan cepat, aku yang masih mencerna semua ucapannya hanya terdiam, dan mengikuti tarikan tangannya.

***

Kini aku duduk didepan dua orang yang sudah membuat perasaan ku kacau. Kacau sekali bahkan.”aku kemari untuk mewawancari Jiho sunbae” ucapku sedikit terbata, disebelahku changmin sunbae tengah memegang erat kedua tanganku. Menyalurkan semangat dirinya padaku.

“eoh, baiklah silahkan saja” ucap Jiho sunbae tersenyum, dan Chaeyong, diraut wajahnya tampak gusar dan sedikit merasa bersalah.

Aku membuka daftar pertanyaanku yang terselip dalam map kuning, menyiapkan tape recorder dan nota kecil untuk mencatat jawaban Jiho sunbae, tanganku yang tadinya di genggam oleh Changmin sunbae, kini terlepas,

Selesai melakukan sesi tanya jawab, aku meminta izin untuk mengambil fotonya, dengan tenang ia menjawab bersedia, dan setelah semua selesai, ia membuat satu pernyataan yang membuat aku dan Chaeyong menegang.

“boleh kan aku memuat disana, bahwa aku sudah memiliki kekasih ?” tanyanya padaku, aku menoleh pada Changmin sunbae, memintanya untuk menguatkan aku. ia mengangguk dengan pasti.

“tentu saja boleh” ucapku lalu memalingkan wajah kearahnya

Dia menceritakan bahwa ia memiliki kekasih, aku mencatat beberapa point yang aku anggap penting, pada baris akhirnya ia mencantumkan nama gadis itu. “Han Chaeyong” aku tertegun. Aku lalu aku tersenyum pada Chaeyong dan Jiho sunbae

“jadi kalian selama ini berpacaran diam-diam ?” aku bertanya denagn antusias, membuang segala keegoisanku. Chaeyong memandangku dengan muka bersalah.

Jiho sunbae mengangguk tersenyum “chukae” kataku. Setelah itu aku dan Changmin sunbae keluar dari ruangan.

“bagaimana perasaanmu saat ini?” tanyanya saat kami duduk di taman belakang, menghadap bunga flamboyan didepanku. Saat ini matahari sedang  bersembunyi dibalik awan.

“tenang, sedih, dan semuanya” kataku parau

“walaupun aku tak paham bagaimana perasaanmu, tapi aku berharap ini yang terbaik untukmu” ia berujar tulus, semua terlihat dari matanya. Aku mengangguk

“setelah aku pikir, kau benar. Aku memang tak berhak untuk lari dari masalah, dengan alibi menunggu waktu yang tepat” kataku terkekeh, aku menundukkan wajahku melihat rerumputan yang tengah aku duduki

“disaat aku sedang melakukan wawancara tadi, aku juga paham, bahwa semua itu berjalan tanpa kehendak Chaeyong, perasaan suka dan cinta itu tak dapat ditebak. Seperti sebuah angin, yang dapat datang tanpa sebab, lalu pergi lagi tanpa ada yang menyuruh”

“heh… dan mulai saat ini aku memutuskan untuk menerima segala kenyataan, dan kembali pada Hyojin yang dulu” ucapku tersenyum

Changmin sunbae tersenyum padaku, lalu mengacak pelan rambutku. “baguslah, kau sudah bisa berpikiran kedepan. Jangan pernah menggunakan perasaan dalam mengambil keputusan, tapi gunakan logikamu. Terkadang perasaan itu lebih menjurus pada sebuah tindakan egois”

Aku mengangguk. Ia dia benar, aku terlalu membesarkan perasaanku, perasaan sakitku. Aku tak pernah mencoba berpikir bagaimana jika aku berdiri pada posisi Chaeyong saat ini.

“sudah mau hujan, aku antar pulang saja ya” ia berdiri, lalu menjulurkan tangannya padaku. Membantuku berdiri.

“Changmin sunbae” kataku menghentikan langkahnya, ia menoleh kebelakang

“terima kasih” kataku lalu memeluknya. Pelukan yang tenang, hangan dan nyaman. Ia membalasnya dengan mengelus punggung ku.

***

Pagi ini aku kembali kekelas dengan perasaan lega, saat aku hendak duduk. Chaeyong datang menghampriku, menyampaikan segalanya, meminta maaf atas segala kesalahannya. Aku tersenyum, aku juga meminta maaf padanya karena terlalu egois dalam menyikapi ini semua.

“jika dicari mana yang salah, maka kita berdua sama-sama salah” kataku, aku mengamit tangannya “namun saat ini, bukan kesalahan yang aku cari, tapi sebuah kebersamaan diantara kita” aku tersenyum dan memeluknya.

Ia balas memelukku dengan erat.

Pada istirahat makan siang, aku kembali mengujungi kantin, mencari sosok Changmin sunbae. Ternyata dia tidak ada. Kemana dia ? tumben sekali,apa dia demam. Karena semalam kehujanan saat mengantarku ?

Aku berjalan kekelasnya disana aku bertemu dengan Kyuhun sunbae, teman sebangkunya Changmin sunbae “annyeong sunbae, boleh aku bertanya dimana Changmin sunbae ?” tanyaku

“eoh, dia sudah pindah ke Jepang.”

Aku melongo, Jepang ?  “kapan dia berangkat ?” tanyaku pada pria ber-gelar setan ini.

“setahuku jam 10 nanti.”

“begitu,terima kasih sunbae” aku pamit dan bergegas kekelas.

Dikelas, saat pelajaran pertama aku sama sekali tidak konsentrasi, pikrianku melayang pada sosok pria menyebalkan nan arogan yang selama ini dibelakangku, yang selalu memberikan kenyamanan dan ketenangan. Aku mengeluh sendiri. Chaeyong yang melihatku tak konsen, lalu menegurku. Menanyakan kenapa aku terlihat gelisah dan tak nyaman. Aku menceritakan bahwa Changmin sunbae akan meninggalkan Seoul dan berangkat ke Jepang jam 10 nanti.

Chaeyong paham, dan menyarankan agar aku pamit, dengan alasan tidak enak badan. Awalnya aku menolak, tapi setelah aku pikir-pikir lagi, dia benar. Dengan bantuan Chaeyong, aku dapat meninggalkan sekolah.

***

Sekarang aku tengah berlari diantara kerumunan penumpang yang ingin chek out. Aku masih mencari dimana sosok Changmin sunbae, aku berlari mencari terminal keberangkatan luar negri. Dengan nafas terengah, akhirnya aku menemukannya.

Disana.

Pira yang tengah memakai blazer ungu dengan kemeja putih dan celana putih tengah menjinjing ranselnya. Di berdiri didekat pintu masuk kedalam ruang tunggu penumpang.

Aku memanggilnya dari jauh, namun tak terdengar. Aku berlari sambil berteriak, beberapa orang melirikku. Masa bodoh, yang penting aku bisa bertemu dengannya.

“Changmin sunbae” teriakku dengan nafas tersengal, ia menoleh. Dan mendapatiku tengah mengatur nafas dipagar pembatas. Ia meminta izin sebentar pada penjaga, dan mendatangiku.

“kenapa malah kemari ? memangnya kau tidak sekolah ? kau membolos ?” tanyanya dengan beruntun, aku yang masih mengatur nafas, merasa jengkel

“Ya! Yang seharusnya marah itu aku. bukan kau. Kenapa ke Jepang tidak mengabariku ?” kataku kesal

“heh, anak ini. memangnya kau siapa ?”

“aku…” benar memangnya aku siapa ? kenapa sampai senekat ini. “aku…” ia menaikan alisnya menatapku dengan penasaran “aku kan…” haduh apa yang mesti aku katakan sih “ ung,,, kau itu adalah target ku setelah Jiho sunbar, jadi kau akan aku ikat dalam lingkaranku” kataku menahan malu.

Ia menggeleng lemah “baiklah, bisa aku terima. Tapi nanti saja mengikatku. Aku harus ke Jepang untuk melaksanakan perlombaan”

“he ? perlombaan ? bukannya kau mau pindah ke Jepang ya ?” tanyaku kaget.

“kau ditipu. Siapa yang bilang aku pindah ke Jepang ? aneh-aneh saja. Aku ke Jepang untuk mewakili kejuaraan Taekwondo antar pelajar internasional.” Jelasnya, aku jadi malu.

“ah sialan kau Kyuhyun sunbae” aku menutup mukaku malu.

“jadi Kyu yang mengatakan aku akan pindah ? ya Tuhan. Kau juga kenapa percaya saja”

“sudah jangan menyalahkan ku. Kau juga salah” hakimku keras. Dia ter kekeh geli.

“baiklah, aku pergi” ucapnya lirih

“hmm…” anggukku

“awas saja, nanti saat aku pulang kau menggaet target selain diriku.” Pesannya sebelum benar-benar meninggalkan aku

Aku tersenyum kecil “aku mengerti kok. Kau juga, awas saja tidak mendapatkan mendali emas, aku tidak akan mau lagi mengikatmu” ucapku padanya. Dia tersenyum

“dasar aneh. Aku pergi” ia memegang bahuku, lalu membalikkan badan hendak melangkah pergi. Sesaat kemudian aku cegah,dan menempelkan  bibirku pada bibirnya.

“lucky kiss” kataku malu, ia mengacak rambutku

“agresif sekali” kekehnya. Aku memukul pelan bahunya “hati-hati” kataku lagi “dan Hwaiting” aku menunjukkan ekspresi dengan kepalan tanganku diudara, ia mengangguk dan meninggalkan aku disini.

“aku akan menunggumu, sunbae menyebalkan” gumamku tersenyum, lalu meninggalkan bandara.

The End ^ ^

 

Hoayoooo….

Buat para remaja, jangan diambil yang jeleknya ya, ambil yang baiknya aja… hahaha

Sumpah ini FF bkin aku geli sendiri… 🙂

Aku nggak tahu deh, ini namanya oneshoot atau drable… yang penting nikmati aja ya ^ ^

squel nya bayangin sendirii aja yaa… haha

See u @ the next Fanfic…

Komennya di tunggu, saran dan kritiknya juga lhoooooo… XD

 

Iklan

21 thoughts on “Lucky Kiss

  1. qoyah cassie berkata:

    Hhahaha,so sweet eonn^^
    aduch aq jd pgn cubit pipix mimin,,hhaha…
    hyojin brntg bgt tuch,target keduax nerima!!!!huwa!!!!!
    hhaha..kyuhyun tega tp tak apalah..hhaha.,
    mimin!!!!

  2. AdheKJ berkata:

    Mauuu dong punya sunbae kayak changmin /plak haha.. Eh, itu si kyu ga sopan deh, bohongin hoobaenya sendiri, emang dasar evil. feelnya dapet banget eon~ seru deh ceritanya 😀 fighting eon ^^

      • AdheKJ berkata:

        iya setuju aku eon~ mereka duo evil 😀
        cheonma eon~ aku jadi suka dbsk nih~ gara-gara sering baca ff eon :Dkkk~

      • AdheKJ berkata:

        eonn sih yang nyebarin virus (?)nya kkk~
        aku jadi suka sama changmin, yunho, jae, yoochun, sama junsu dah /plak *semuanya itu mah* kkk~

      • AdheKJ berkata:

        tapi paling suka sama yoochun 😀 dia tanggal lahirnya sama kayak aku 😀 aaa~~ abang nchun :* (?)
        eonni~ aku boleh saran ga?? 😀

  3. Shamusuki berkata:

    whoa..
    di ff ini berasa banget karakter changminnya..
    suka deh.
    romancenya dapet, friendshipnya dapet, konfliknya juga ok, nggak terlalu berat, dan realistik.

    Ckckckckck ga kebayang kalo duo evil jadi temen sebangku, tu kelas bakal hingar-bingarnya kayak apa ya?? -___-

    Ditunggu ff Hyo-min lainnya ^^

  4. Hanifah Hilmi (@ida_hanifah) berkata:

    FF nya bagus kak, bahasa sama konfliknya ringan jadi enak dibacanya. Aku baca ff ini di kelas pas guru aku ngejelasin materi pelajaran dan waktu baca kalo Hyojin di bohongin, aku ketawa sendiri di kelas sampe guru aku nyuruh aku untuk berdiri di depan kelas Huft. *lohkokmalahcurhat*

    • Vii2junshu_kim berkata:

      wkwkwk.. aduh, saya nggak tanggung jawab ya :p
      baca FF nya istirahat aja, jadi klo ketawa ga bakal disuruh berdiri.. hoho xD

      siip.sipp.. makasii ya komennya.. *saya lagi pengen balesin komen ni, biasanya paling males*plak*dilemparin telor* wkwk

Your Comment become spirit for me ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s