FF Always Be Mine ‘Step 07’

Author : Ny. Kims/Vii2junshu_kim

Cast :

Park Yoochun

Kwon Hyera

Genre : Married Life,Romance, AU

Leght : on going(Chapter)

 

 

Ctt :

Alur nya aku percepat, dan maaf kalo ada TYPO…anekan mboknya TYPO*plak

HapRed… XD

 

Author’s Pov

Hyera tersenyum manis “arrayo, aku juga baru pertama. Tapi aku rasa ini menyenangkan. Nikmati saja, bagaimana ?” Hyera menyalurkan semangat positif nya untuk Yoochun, mau tak mau Yoochun mengangguk.

Mereka memulai tugas mereka sebagai orang tua baru sehari untuk Jaehwan. Hyera tersenyum mengandeng anak lelaki itu. Yoochun mengikuti langkah mereka yang berjalan cepat kearah pintu luar stadion, Paman Kim sudah menunggu mereka disana.

sesampainya di mobil, Yoochun menerima telpon bahwa si kembar akan merayakan keberhasilannya di Cafe Jaejoong bersama timnya. ia menghela nafas lalu berkata ya. Dan menghampiri Hyera yang sedari tadi asyik bergelut dengan Jaehwan.

“maaf mengunggu, Jiyoung dan Jeong akan pergi dengan tim nya untuk merayakan keberhasilan mereka, jadi bagaimana ?” ucapnya, Hyera mencerna perkataan suaminya, lalu tersenyum “tak apa, bagaimana jika minggu depan saja ?”saran Hyera. Yoochun hanya menganggukkan kepalanya.

“Yoochun-a. Kau sibuk tidak ?” ucap Hyera lirih, Yoochun yang tadinya sibuk dengan galaxy tabnya, langsung memandang istrinya “ne ? tidak, aku tak sibuk kenapa ?” tanya Yoochun lagi

“bagaimana jika kita mengajak Jaehwan ke Lotte World ?” tanya Hyera semangat, matanya bersinar seperti Jaehwan yang sedang diberi permen olehnya.

“baiklah, Pak Kim kita ke lotte world” Pak Kim mengangguk, dan menjalankan kemudinya ke arah dunia anak. Lotte World adalah  kompleks rekreasi sangat terkenal dan popular di Seoul, Korea Selatan. Tempat ini terdiri dari taman bermain didalam ruangan (indoor) terbesar di dunia (hingga masuk dalam Guinness World Record). Lotte World ini terbuka sepanjang tahun, selain taman bermain indoor juga terdapat taman bermain di luar ruangan (outdoor) taman hiburan tersebut disebut dengan sebutan”Magic Island”, sebuah pulau buatan di tengah-tengah danau yang dihubungkan dengan jalur monorail. Hal ini yang membuat Lotte World semakin dikenal.

Sesampainya di Lotte World, Jaehwan dan Hyera segera memasuki gerbang utama, Jaehwan menunjuk beberapa wahana yang ingin dinaikinya, dengan semangat Hyera menyanggupi permintaan lelaki kecil yang sudah mengalihkan dunianya, dari sang suami. “bibi aku mau naik itu” tunjuk Jaehwan, Hyera memandang wahana yang ditunjuk Jaehwan. Dengan senyum ia mengangguk, “sebentar ya bibi mau membeli tiket dulu” ucapnya, Jaehwan mengangguk. “kau mau kemana ?” tanya Yoochun. “mau membeli tiket. Kenapa ?” tanya Hyera

“biar aku saja, kau disini menjaga Hwan” ucap Yoochun santai. Hyera terbengong

“ani… kalau tanganmu luka bagaimana ?” tanya Hyera khawatir

“tak akan terluka, lagi pula tidak  mengantrikan. Tunggu disini sebentar” Yoochun segera pergi meninggalkan istrinya dan Jaehwan, menghampiri loket pembelian tiket, dan membeli 3 tiket. Lalu mampir sebentar kesalah satu stand makanan. Membelikan mereka air mineral untuk menghilangkan dahaga. “ini bermainlah” katanya lalu memberikan tiket kepada mereka. “kau tak ikut ?” tanya Hyera, Yoochun menggeleng. “wae ?” alisnya terangkat, dari nada suaranya ada terselip rasa kecewa “aku tak bisa, kalian naik dengan paman Kim saja bagaimana ?” katanya lalu tersenyum, paman Kim hanya menurut saja setiap majikannya memberikan instruksi.

“arrayo” katanya Hyera. Mereka lalu bergegas untuk menaiki wahana tersebut.

Dalam diam Yoochun mengamati mereka bertiga. Rasanya ia tak pernah lagi ke lotte world dengan senyum seperti ini. Perasaan hangat yang mengalir didarahnya, dan degup jantungnya saat bersama dengan sang istri. Benar-benar terasa sangat menyenangkan. Ia membuka galaxi tab nya lagi, menyiapkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Proyek di Gyejedo membuat nya harus bisa membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Ini adalah hal pertama baginya membagi konsentrasi yang duluan hanyalah pekerjaan, sekarang harus terbagi menjadi beberapa aspek lagi. Seperti keluarga kecilnya, istrinya, dan beberapa hal tak terduga lainnya.

“pamaannn” suara cepreng Jaehwan membuatnya tersadar dari dunia kerja nya. “nee. Bagaimana seruu ?” tanya Yoochun semangat

“sangattt.. paman sih tidak ikut” ucapnya sambil memberenggut, Yoochun tersenyum, lalu mentap istrinya yang hanya diam menatapa mereka berdua “bagaimana menyenangkan ?”

“hemm” angguknya. Setelah seharian bermain dengan wahana yang menyenangkan, Jaehwan tertidur pulas di pangkuan istrinya “sepertinya dia kelelahan” Hyera mengelus rambut Jehwan yang hitam. Yoochun mengangguk “ah iya, tadi Yue eoni menghubungiku, katanya dia sudah ada dirumah” Yoochun  mengangguk, lalu mereka beranjak dari Lotte World

Mereka menghantarkan Jaehwan kerumah orang tuanya, sesampainya disana,. Yue sudah menunggu mereka  didepan rumah “aa.. anak ibu kenapa merepotkan” gumamnya, lalu mengambil alih Jaehwan dari gendongan Hyera

“mian merepotkan Hyera-a” ucapnya

“ne tak apa eoni” Hyera tersenyum, Yue mengangguk. Lalu memandang Yoochun sedikit terkejut “kau dan Chunie ? ada hubungan apa ?” tanya Yue terkaget

“dia istriku Yue” ucap Yoochun datar

“mwo ?? kau dan Hyera menikah ?”

“ne eoni. Kenapa ?”

“ania” geleng Yue “ah aku ingat jadi undangan dan gosip saat kau mau menikah. Ternyata benar. Aku kira hanya kabar burung”

Yoochun menganguk “ah maaf ya aku tak bisa menghadiri pernikahan kalian” ucapnya tersenyum

“ne tak apa eoni” ucap Hyera

“kenapa kau mau dengan Yoochun sih ? kau tahu tidak Yoochun itu mengerikan jika mengamuk “ bisik Yue pelan di telinga hobae nya. Hyera hanya terkikik kecil, seperti ibu-ibu penggosip lalu merek memandang Yoochun sinis

“sudah menggosipnya ? aku harus pulang” kata Yoochun malas

“ne pulanglah, terima kasih sudah menjaga putraku Tuan muda” ledek Yue.

“ne.. nanti bon nya aku kirim. Anakmu hobi sekali berbelanja seperti ayah dan ibunya” sahut Yoochun dan langsung pergi meninggalkan istri temannya.

“ne arra, dasar pengusaha pelit”

“baiklah kalau begitu aku pamit dulu ya eoni” pamit Hyera lalu membungkuk dan mengikuti langkah Yoochun.

Beberapa minggu setelah pernikahan mereka, Yoochun disibukkan dengan kegiatan perusahaan yang menguras waktunya. Bahkan untuk sekedar sarapan bersama saja ia tak memiliki waktu. Hyera mencoba mengerti dengan kesibukan suaminya, namun terkadang ia tak habis pikir mengenai kesehatan Yoochun.

Siang ini sepulang kuliah Hyera berinisiatif untuk mengantarkan makan siang untuk suaminya. Setengah jam berkutat didapur, akhirnya makan siang yang ia buat selesai juga.

Setibanya di lobi, Hyera langsung bergegas keruangan Yoochun, namun langkahnya terhenti saat sekretaris Yoochun mengistrupsi nya agar ia tidak masuk kedalam.

Dengan berat hati Hyera melangkah meninggalkan ruang kerja suaminya, dan bergegas kekantin bawah, namun saat dikoridor ia bertemu dengan ayah mertuanya “ah, abonim, Annyeong” sapanya ramah. Tuan Park tersenyum

“Annyeong Hyera. Kau dari mana ?” ia melirik tentengan plastik yang dipegang Hyera

“ah hanya mengantar makan siang Yoochun” ucapnya. Malu. Tuan Park tersenyum.

“arrayo, Yoochun sedang rapat bagaimana jika kau menunggunya diruanganku ?” tanya Tuan park. Hyera langsung menyetujuinya.

Mereka duduk santai didalam, ditemani dengan secangkir kopi diatas meja. Hyera tak tampak grogi lagi. “bagaimana apa kau nyaman dirumah ?” tanya Tuan park hangat

“ne.. tapi apa aku boleh bertanya ?” ucap Hyera ragu

“ne silahkan”

“eum, abonim dan Yoochun terlihat tidak baik. Apa ada masalah ?” Hyera tampak ragu untuk mengatakannya , walaupun statusnya adalah sebagai seorang istri dan menantu, ia merasa takut untuk mencampuri urusan keluarga suaminya. Tuan Park tersenyum menanggapi pertanyaan Hyera “ne benar”

Kaget. Atau mungkin syok. Oke keduanya mungkin. Mata Hyera membulat sempurna “kenapa bisa ?” hanya itulah kata-kata yang bisa terucap dari bibirnya

“yah, hanya salah paham Hyera-a. kau mau aku cerita ?” Hyera mengangguk, seprti anak kecil yang diajak berdongeng “kau yakin ?”Tuan park memastikan

“ne Yakin” ucapnya mantap.

 

“yeobo bagaimana jika kita memberikan kejutan untuk Yoochun ?” tanya sang istri. Tuan Par hanya tersenyum menanggapi permintaan istrinya

“kejutan bagaimana ? kau tahukan kita masih di Busan” ucap Tuan Park mengingatkan

“ayolaa.. kita pulang dulu nanti kemari lagi. Besok ulang tahun nya yang ke  20. Ya..”pinta istrinya

“baiklah” Tuan Park menghela nafas panjang. Ucapan Tuan park membuat istrinya tersenyum lebar, hadiah pelukan eratpun kini mendarat ditubuh sang suami.

Pagi sekali Ny. Park menyiapkan berbagai keperluaan nya. ,menyiapkan kue tart kesukaan putranya. Lalu sup rumput laut yang dibuatnya sejak subuh tadi.

“akhirnya, sekarang tinggal membangunkan si pemalas” ia melangkah kekamrnya membangunkan Tuan Park. Setelah mereka menyiapkan semuanya mereka bergegas untuk melakukan perjalanan pulang.

Dalam perjalanan, istrinya terus tersenyum, tak ada firasat atau pikiran buruk dalam benaknya. Saat dirinya membelokkan mobil kearah kanan, ternyata ada truk besar yang berkecepatan laju didepannya. Dan semuanya terjadi begitu saja. Tuan Park sendiri sudah berusaha, membebaskan istri yang terjebak dadalam. Sempat tertolong, ia pun membawa istrinya kerumah sakit dibantu oleh warga setempat. Namun jika takdir mengatakan jika ini adalah jalannya Tuan Park hanya bisa menerima.

Istrinya meninggal dihari, dimana Yoochun lahir. Ini membuat Yoochun terpukul entah karena dia syok, atau mungkin terlalu larut dalam sedihnya, ia menyalahkan Tuan park yang tak berhati-hati dalam membawa mobil. Menyalahkan ayah nya yang menuruti permintaan ibunya begitu saja. Tapi semua umpatan itu hanya dilakukan Yoochun dalam hatinya ia tak ingin menguarkan satu katapun untu ayahnya.

Yoohwan sendiri, sudah melakuakn tindakan frontal yang menyakiti dirinya. Memukul sak tinju untuk menghilangkan rasa amarahnya. Menangis dan diam. Keduanya melakukan hal yang sama.

Hingga saat mereka beranjak dewasa, semua berubah. Yoochun menjadi pribadi yang aneh, dan Yoohwan yang lebih menyukai membolos sekolah.

Tuan Park mengerti. Semua ini memang takdir dan suratan yang harus ia jalani.

Hyera tersenyum miris saat perkataan Tuan park yang terakhir, menurutnya takdir ini terlalu sulit untuk dihadapi Tuan Park.

“bagaimana hubunganmu dengan Yoochun ? apakah baik-baik saja ?” tanya Tuan Park serak. Hyera mengangguk.

“Ne baik abonim. Ah ia bagaimana jika minggu ini kita makan malam bersama ? sepertinya akan seru” Hyera berujar pelan

“baiklah. Kau atur saja Hyea-a. abonim akan mengikutinya” Hyera tersenyum. “ah apakah itu untuk Yoochun ?” goda Tuan Park. Muka Hyera bersemu merah.

“ne..”

“ya sudah, aku rasa rapatnya sudah selesai, coba kau menghubunginya” saran Tuan Park. Hyera tersenyum, lalu mengambil ponselnya didalam tas. Mendail nomor ponsel yang telah di hapalnya diluar kepala nada sambung pengganti Tutt terdengar.

“yoboseo”

“ne, yoboseo. Yoochun-a kau dimana ?”

“aku sedang dikantor, kalau kau ingin berbicara nanti saja Hyera-a. aku sedang sibuk” dan tuut… sambungan telpon terputus begitu saja. Bahkan Hyera belum sempat untuk mengatakan keinginannya.

Mukanya menyiratkan kesidihan, Tuan Park yang memerhatikan menantunya hanya tersenyum “kenapa ?” tanyanya

“ani, Yoochun sedang sibuk abonim” Hyera mencoba tersenyum, walaupun terlihat sangat dipaksakan

“eoh.. bagaimana jika makanan ini kita makan bersama-sama. Kau pasti juga belum makan kan ?” Tuan Park mencoba memberikan solusi, agar menantunya tak bersedih lagi. Hyera tersenyum tak enak

“ne, tapi apa tidak apa-apa abonim ?” ucap Hyera merasa tak enak

“tak apa. Lagi pula aku juga beulm makan. Sebentar aku akan memanggil office boy untu mengambilkan peralatan makan”

Hyera menganguk. Tuan Park memencet nomor ekstensi ruang pentri. “tolong antarkan peralatan makan ke ruanganku ya.”

“…”

“3 set saja. Baiklah, aku tunggu.”

Tak lama kemudian, pintu terketuk munculah seorang pria dengan membawa peralatan makan yang dipesan Tuan Park. Sedikit terjkejut mendapati Nona muda disana. Namun ia tak mengambil pusing. Setelah meletakkan nya di meja, ia lalu permisi.

Hyera menyiapkan makanan itu dalam sebuah piring dan memberikannya pada Tuan Park. Lalu mencicipinya “eum, mashita. Kau bisa masak ternyata ?” seloroh Tuan Park

“ne. ibu yang mengajariku.” Hyera tersenyum,

“eoh, beruntung sekali Yoochun. Ayo kau juga ikut makan” Tuan Park mengingatkan Hyera. Hyera mengangguk dan mengambil makanannya. Mereka makan, namun bukan dalam keadaan dirumah. Yang diam dan sunyi. Makan siang ini terasa jauh lebih hangat dan terbuka. Terselit rasa bersyukur karena Yoochun sibuk. Paling tidak Hyera bisa mencoba beradaptasi dan mencoba untuk mengenal mertuanya.

“kau tahu tidak. Dulu ibunya Yoochun tidak bisa memasak. Lalu ia mengambil kursus masak.” Kenang Tuan Park. Hyera mendengarkan dengan antusias. Melihat semangat dan  keceriaan yang tertuang di manik mata Tuan Park

“tapi setelah seminggu pertama selesai ia mengeluh. Katanya memasak itu terlalu sulit, susah, dna banyak lagi”

Ketukan pintu, lagi-lagi mengistrupsi kegiatan makan mereka. Jungmo masuk kedalam ruangan sang direktur dengan segan  karena telah mengehentikan aktivitasnya. “ada apa ?” tanya Tuan Park

“begini sajangnim, ada beberapa berkas yang belum anda baca dan tanda tangan. Lalu mengenai proyek pembangunan sekolah sosial itu mengalami kendala” Tuan Park meletakkan piring makannya dimeja. Lalu melihat dokumen bermap yang diberikan Jungmo. Ia menimbang beberapa keputusan untuk mencari solusi terbaik.

“apa Yoochun sudah membicarakan ini pada pihak investor ?” Tuan Park memandang Jungmo yang berdiri disisi sofa

“sudah, ada beberapa tanggapan dari investor asing Tuan, sebentar” Jungmon mencoba mengambil kertas bermap lain yang disebut sebagai surat balasan dari para investor asing, namun nihil, tak ada map lain yang ia bawa. Apa tertinggal pikirnya.

“maaf sajangnim. Sepertinya map itu tertinggal diruang rapat” ia membungkuk meminta maaf

“tak apa, nanti saja kau ambil. Ah iya, cobalah ini masakan menantuku” bangga Tuan Park membuat Hyera tersedak, lalu meminum air putih yang ada didepannya

Jungmo tersenyum “tidak usah sajangnim” tolaknya halus, bukannya tidak mau sebenarnya hanya terlalu segan untuk ikut dalam makan siang Tuan Besarnya,. Tuan park menggeleng

“ayolah, sekali-sekali kau makan siang denganku” Tuan park menarik Jungmo untuk duduk disisinya, lalu mengambilkan lempengan putih yang disebut piring pada Jungmo. “terima kasih sajangnim”

“ne.”

Jungmo mencicipi masakan Hyera “ah mashita. Ternyata Hyera ssi bisa memasak” pujinya Tulus

“ani biasa saja. Kemampuanku bahkan jauh dari chef”

Mereka tersenyum lagi.

Diluar ruangan. Yoochun berjalan cepat keruang ayahnya, membawa map biru berlabel surat masuk hari ini. Jungmo meninggalkan balasan surat dari investor asing diruang kerjanya.

Ia mengetuk pintu lalu masuk kedalam, terkejut. Melihat pemandangan yang ada didalam. Hyera, ayahnya, dan Jungmo sedang memakan makan siang.

“maaf menganggu sajangnim” Yoochun lalu menghampiri Tuan Park tanpa menoleh pada istrinya dan Jungmo. Tampang Yoochun cukup membuat mereka mengekerut, apalagi Hyera. Yang kaget dengan reaksi suaminya.

“ini surat balasan dari investor” ia memberikan map itu dengan cepat. “saya permisi” membungkuk lalu pergi meninggalkan ruangan.

Yoochun mendengus setelah melihat pemandangan barusan. “kenapa ia tak menghubungiku dulu, jika mau kemari ?” ia meninggalkan ruangan itu dengan kesal. Entahlah. Hatinya tak dapat ditebak sekarang.

Didalam ruangan, Tuan Park dan Jungmo tak mengambil pusing dengan sikap Yoochun yang terlihat seperti manusia tanpa hati. Itu sudah sifatnya dari dulu, mereka hanya menanggapinya sekesar, tak terlalu pusing. Dan Hyera. Cukup syok. Melihat bagaimana sikap Yoochun yang terlihat seperti itu. Tak melihatnya, bahkan tak menyapanya walau hanya basa-basi. Sakit.

Hyera pamit keluar ruangan. Berlari menuju toilet dan membasuh mukanya. Saat keluar dari toilet ia kembali bertemu dengan Yoochun dikoridor yan terlihat sepi

“Yoochun-a” Hyera mencoba memanggil Yoochun yang sibuk melihat dokumennya sambil berjalan. Yoochun mendongak melihat siapa yang memanggil namanya

“ne ?” Yoochun berucap enggan.

“apa nanti malam kau pulang cepat ?” Hyera bertanya

“tidak tahu. Aku rasa akan pulang larut. Jangan menungguku” Hyera mengangguk. “ada lagi ? aku sibuk” Hyera menggeleng, lalu tersenyum

“arrayo, hati-hati dalam bekerja. Sampai jumpa dirumah” Hyera tersenyum lagi, namun kali ini ditanggapi dingin oleh Yoochun. Hyera menghela nafas dan pergi memilih untuk ketempat mertuanya.

Pulang dari perusahaan, Hyera memilih untuk membasuh dirinya, dan menyiapkan beberapa tugas kuliahnya. 2 bulan lagi ia harus melakukan uji praktek dirumah sakit. Itu membutuhkan perjuangan yang besar. Menyiapkan proposal, dan beberapa materi yang belum sempat dikejarnya.

Yoochun’s  Pov

Aku menerangkan beberapa persoalan yang dihadapi pekerja di Kangnam-gu. Itu membuat pikiranku hanya terfokus pada proyek sekolah sosial.

“ ada beberapa solusi yang dapat kita ambil. Salah satunya dengan cara membeli lahan tambahan untuk membuat lapangan olahraga dan beberapa fasilitas yang belum terpenuhi” ucapku. Mereka mengangguk. Salah satu mengacungkan tangan, memberika sanggahan.

“bagaimana jika warga tak mau ? lahan yang kemarin kita beli saja sudah sangat sulit untuk mendapatkannya” aku tersenyum

“itu hanya terkendala oleh sosialisasi yang tak berjalan secara baik. Jika hanya itu masalahnya aku bisa mengatasinya” kataku. Mereka mengangguk. Rapat selesai.

Hasil akhir adalah membeli beberapa meter lahan lagi. Aku memanggil Jungmo untuk melakukan negosiasi dengan perwakilan penduduk.

“kau yakin Yoochun ingin membeli lahan itu ?” ia berucap tak percaya

“hmm.. bagaimanapun, sekolah sosial itu harus berbasis pada tingkat internasional. Aku tak mau memberikan sesuatu dengan setengah saja. Jika aku bisa memberikan yang terbaik” ucapku. Ia mengangguk.

Kami duduk diruanganku, “ah sudah hampir jam 9 malam, kau tak pulang ?”

“nanti saja, masih ada yang belum aku siapkan. Kalau mau pulang duluan saja”

“baiklah. Aku hampir lupa. Masakan istrimu enak” aku tersenyum getir. Melihat kearahnya yang sedang menggodaku “aku pulang sajangnim” aku mengangguk lagi.

Hyera’s  Pov

Ah lelah sekali. Aku merenggangkan tubuhku yang terasa kaku karena selesai mengerjakan tugas didepan komputer. Merapikan tempat tidurku yang sudah menjadi pulau buku. Beberapa kertas berserakan di ranjang, membuatku harus merapikannya lagi.

Kebiasaanku saat belajar memang begini. Terkadang aku malah tertidur dimeja belajar dan tak sempat membereskan bukuku.

Pintu kamar terbuka kulihat sosok Yoochun masuk dengan tampang kusut. Aku mengernyit heran padanya. “jam 11.00” aku menggumam sendiri.

“mau aku siapkan air panas ?” tanyaku mengambil tas kerjanya

“tak perlu, kau tidur saja” ia meninggalkan ku sendirian, dan pergi kekamar mandi. Aku mengangguk acuh.

Kembali pada aktivitasku semula. Membereskan buku-buku.

Setelah selesai, aku membaringkan diriku di ranjang. Menatap langit-langit kamar. Kenapa sifatnya akhir-akhir ini berubah ? aku mengernyit. Pintu kamar mandi terbuka, kulihat ia sedang mengeringkan rambutnya yang basah. Lalu duduk ditepi ranjang. Aku ikut duduk.

“Yoochun-a. bisakah kita berbicara ?” tanyaku

“apa yang ingin kau bicarakan ?” ia membalikkan badannya, setelah melempar handuk itu kekeranjang pakaian kotor

“apa dari dulu kau tak pernah memiliki waktu bersama keluargamu ?” tanyaku

“kenapa bertanya seperti itu ?”

“aku hanya ingin tahu. Apa tidak boleh ?”

“tidurlah. Aku lelah. Nanti saja kita membahasnya” ia membaringkan tubuhnya disebelahku. Mengacuhkanku lagi. Aku menggeleng lemah melihatnya.

“Yoochun-a” kataku lirih. Ia menggumam pelan. “selamat malam” kataku akhirnya. Tak baik bukan jika tengah malam kami bahkan bertengkar mulut.

Yoochun’s  Pov

Hari ini aku berangkat lebih awal dari biasanya. Aku takut saja jika nanti ada rasa canggung diantara aku, ayah dan Hyera. Bagaimanapun ia pasti akan curiga mengenai hubungan kami yang tak terlihat baik.

Aku memasang seltbelt dan segera memacukan mobilku menuju perusahaan.

Hyera’s  Pov

Benarkan lagi-lagi ia menghindar. Pantas saja semua masalah ini berlarut panjang. Dirinya saja yang tak pernah mau berdamai, atau tak mau menyelsaikannya. Kasihan Abonim. Harus jadi sasaran dia untuk menumpahkan segela kekesalannya.

Aku menutup tirai jendela setelah melihat mobil porsche hitam milik Yoochun melaju keluar pekarangan rumah. Aku menghela nafas.  Mengambil handuk dan membasuh diriku dikamar mandi.

Setelah selesai membereskan kamar, aku menuju dapur untuk membantu Lee Ajjuma sebelum berangkat kuliah.

“Annyeong…” sapaku lembut, kulihat ia tengah memotong beberapa daging yang akan dicampur kedalam panci kuah berwarna oranye. Ia ternyum setelah menyelesaikan masakannya.

“bagaimana ? sudah mulai terbiasa dengan rumah ini ?” tanyanya padaku

“sedikit. Ada yang bisa kubantu ?” ucapku lagi, lalu mengambil mangkuk dan piring kecil sebagai alasnya

“tidak ada nona. Lebih baik anda bersiap untuk sarapan”

Aku memutar mata. “sarapan ya ? rasanya sepi sekali jika sarapan hanya berdua dengan Abonim” ucapku. Lee Ajjuma terkekeh.

“kenapa ? seperti makan dengan patung ya ?” candanya. Aku ikutan tertawa geli

“tidak juga. Dia orang yang hangat. Tapi penuh beban” aku menaruh mangkuk itu di salah satu meja yang kosong.

“begitulah. Anak dan ayah memang mirip sekali.” Kami kembali berkutat dengan masakan dapur. Sampai suara bass berat seseorang membuat kami menghentikan aktivitas memasak

“eh, ada Hyera. maaf Abonim tidak bisa menemani kau makan. Abonim harus mengikuti rapat direksi pagi ini” aku tersenyum hambar. Lalu mengangguk.

“Lee-a. tolong nanti makanan itu kau antar ketempat pekerja ya.” Lee Ajjums tersenyum lalu meneruskan aktivitasnya.

“kenapa aku seperti terkurung dalam kastil sepi” aku menggumam lalu membantu Lee Ajjuma.

“anda harus lebih bersabar nona muda. Lambat laun susana dirumah ini akan mencair”

“semoga. Baiklah Ajjuma, aku harus ke kampus” aku mengecup pipi  Lee Ajjuma kilat. Tampak keterkejutan di matanya “maaf, aku sudah terbiasa mecium pipi ibuku. Jadi Lee Ajjuma nikmati saja ya” Lee Ajjuma menggeleng lemah melihat sikapku. Lalu mengangguk “hati-hati dijalan” serunya.

Yoochun’s  Pov

Rapat direksi kali ini membahas beberapa saham yang anjlok. Masalah kenaikan dolar yang membuat kami cukup kerepotan. Mataku masih terfokus pada layar yang menampilkan omzet kami tahun ini. Cukup memuaskan. Tapi harus ditingkatkan.

“baiklah, dalam rapat ini kami ingin mengumumkan bahwa akan ada perencanaan untuk melakukan kerjasama dengan beberapa perusahaan asing, seperti MC Clinton, dan Hilton Hotel. Lalu ada juga pembangunan proyek yang memiliki prospek baik, seperti pembangunan tempat rekreasi dan Mall.” Salah satu bawahanku menjelaskan dengan seksama, lalu asistennya meggerakkan mouse untuk menampilkan slide contoh pembangunan yang sudah aku rancang.

Seseorang memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan lebih detail tentang masalah ini. Aku maju kedepan, dan menjelaskan contoh bangunan, dan alasan kenapa aku menerima proyek yang dapat dikatakan cukup menguras kantong.

Rapat diakhiri dengan keputusan pengambilan proyek tersebut. Ah leganya. Akhirnya aku bisa mengambil proyek yang aku inginkan. Mendekorasi semuanya dengan baik. Sebaikanya aku menyiapkan beberapa bahan yang akan menjadi referensi ku nanti.

Aku duduk dikursiku, tumpukan berkas juga sudah menantiku. Aku menghela nafas dan mengambil ballpoint untuk menandatanganinya. Namun aku teringat Hyera, saat melihat cincin perak ini.

Ya Tuhan. Aku masih belum bisa untuk membuatnya mengerti dengan keadaanku. Mungkin ia juga merasa bahwa aku terkesan menghindar dari dirinya.

Hyera’s  Pov

Dosen menyebalkan. Apa tidak bisa membebaskan kami dari yang namanya penelitian ? ikh. Aku menghempaskan buku-bukuku dalam loker. Argg,,,

Chaemi cekikikan melihatku yang sedang tersulut emosi. “apa ?” kataku marah

“dasar ibu-ibu rumah tangga. Ingat urusan dalam rumahmu tidak boleh terbawa sampai kekampus”

Aku mengangguk, lalu menghela nafas pelan “yah. Aku tahu.” Aku lalu tersenyum pada sahabat karibku. “bagaimana rasanya menjadi seorang istri ?”

“entahlah. Sama saja menurutku.” Ucapku lagi.

“mana mungkin”

“tak percaya. Makanya kau menikah saja kalau mau bukti” ia menjitak kepalaku

“sialan” kami berjalan beriringan mencari bahan untuk penelitian

Sore hari aku  saat pulang dari kampus, aku memutuskan untuk pulang kerumah ibu dan ayah. Jika aku kembali kerumahpun mereka pasti juga belum pulang. Eksekutiv muda yang sibuk. Benar-benar membuat geram.

Kulihat toko sedang sepi, aku langsung masuk kedalam. “aku pulang” jeritku.

“wah Noona” kulihat Jeong datang menghampiri dengan seragam bolanya.

“hm.. bagaimana kabarmu ?” tanyaku

“baik Noona. Eh sudah 3 minggu noona tak pulang. Aku jadi merindukan noona” ia memelukku erat

“ne aku juga. Jiyoung mana ?” tanyaku, ia merenggangkan pelukanku

“mandi. “

Eoh aku mengangguk mengerti “ayah dan ibu ?”

“biasa, mereka pergi kerumah sakit. Yung-ah  melahirkan” eoh. Aku baru ingat kalau Yung-Ah-tetanggaku ternyata masa hamilnya sudah lebih dari 9 bulan. Aku tersenyum lagi “sudah makan ?” tanyaku. Ia menggeleng.

“baiklah, bagaimana kalau aku yang memasakkannya ?” ia tersenyum

“ne. kalau noona tak keberatan”

Aku kembali kedapur dan memasak makan malam untuk mereka, hal yang beberapa minggu ini tak pernah aku lakukan lagi. Kami makan malam diruang tengah, ayah dan ibu belum pulang. Mungkin jam sembilan. Suasana disini sangat nyaman,  berbeda sekali dengan dirumah besar yang aku tinggali saat ini. aku menghela nafas “noona kenapa ?” Jiyoung bertanya padaku, aku meletakkan sumpit makan ku dan tersenyum kearahnya “tidak ada.” Kataku

“eum.. apa kau bahagia noona ?” Jeong kali ini menimpali, apa anak kembar selalu seperti ini ya ?

“tentu saja, hyung kalian memperlakukanku dengan baik. Ah ia, sudah 2 minggu aku belum menepati janji semenjak kalian memenangkan pertandingan. Lusa kan malam minggu bagaimana jika kita makan malam ?” aku mencoba mengalihkan perhatian mereka. Jeong yang paling mudah terpengaruh hanya tersenyum

“baiklah. Eoh aku juga ingin mengenalkan pacarku noona. Namanya Hwang Minjae” ucapnya cepat. Jiyoung hanya memutar mata lemah

“arrayo, bawa saja. Kalian mau makan dimana ?” tanyaku lagi

“eum, ada cafe yang baru buka noona, Jae’s family, langganan kita. Bagaimana jika kesana ?” ucapnya cepat, aku tersenyum. Dasar Jeong kalau soal makan selalu up to date.

“okey” kataku

Author’s  Pov

Hyera sampai didepan rumah suaminya, dan segera masuk kedalam.

“dari mana saja ?” Yoochun bertanya saat mereka berpapasan di depan pintu rumah. Hyera menghela nafas, mentralkan suhu badannya. “dari rumah ibu” ucapnya santai

Yoochun mengernyit, “dari rumah eomonim ? kenapa tak meminta izin ?” tanya Yoochun

Mereka masih tetap berdebat didepan pintu. Hyera menatap tajam Yoochun. “haruskah ?” tantangnya. Dalam dada Hyera sudah menggebu, ingin marah namun ditahannya.

“tentu saja, aku suamimu” Yoochun masuk kedalam rumah, diikuti Hyera dengan tatapan tak menyenangkan.

“terserah padamu, aku lelah” Hyera bergegas mendahului Yoochun, lalu membanting pintu kamar, hingga bedebam keras.

“wanita marah mengerikan” ia bergumam sendiri, lalu berjalan kekamarnya.

“kau marah ?” Yoochun mencoba berdamai dengan istrinya. Ia tersenyum geli saat melihat Hyera yang tengah berbaring memunggunginya.

“kau pikir ?” Hyera masih berujar ketus

“hey, tadi aku Cuma bertanya kenapa kau tak meminta izinku dulu. Bagaimanapun aku suamimu kan ?” Yoochun menjelaskan dengan santai dan tenang. Ia lalu membaca barisan kata yang ada dibuku dalam genggamannya

“benarkah ? tapi kenapa kau tak bisa terbuka padaku ?” tanya Hyera, Yoochun diam, menutup bukunya.

“beri aku waktu.” Ia menghela nafas panjang. Lalu membaringkan dirinya, menatap langit-langit kamarnya.

“baiklah, terserah padamu saja” ucap Hyera.

Yoochun’s  Pov

Baiklah setelah perdebatan antara aku dan Hyera kemarin cukup membuat kami hubungan kami merenggang. Hari minggu aku terpaksa berdiam diri dirumah, dan tak melakukan aktivitas biasaku-berkunjung kerumah Jaejoong hyung. Kulihat dia sedang sibuk dengan peralatan dapur, kata Lee Ajjuma dia sedang membuat cake. Aku hanya tersenyum simpul.

Aku berjalan mendekat kearahnya. “woah sepertinya enak. Apa aku boleh mencicipinya ?” tanyaku iseng. Dari warna dan bentuknya saja sudah membuat aku tergoda untuk memakannya. Dia menatap tajam kearahku. Oke semenjak perdebatan itu ‘lagi’ dia masih menyatakan dirinya ngambek. Dan tak mau berbicara padaku. Kalaupun mau hanya untuk menjawab pertanyaanku yang memang penting, jika tidak jangan harap.

“baiklah” aku berbalik, dan meninggalkannya sendirian disana.

Ah lebih baik aku keruang kerja saja, membuat maket untuk proyek dengan pihak Hilton Hotel. Aku membuka notebook dan mulai merancang, tidak lupa kertas gambar dan alat-alat yang aku perlukan.

Baiklah, aku rasa cukup ini dulu yang aku kerjakan. Badanku sudah pegal-pegal, aku merenggangkan dan semua tulangku berbungi kreek. Setelah puas, aku keluar kamar dan menemukan cake pink bernuansa lucu. Apakah ini cake yang dia buat ?

Ah cicipi sedikit.

Aku mencuil sedikit cakenya. Hmm rasanya enak. Tanpa sadar aku hampir saja menghabiskan setengah dari bentuk petak yang dicetaknya. Gawat kalau sampai ketahuan. Bisa-bisa aku di habisi olehnya. “Ya Tuhan” aku berjengit dari tempat dudukku, dan malah tersedak cake pink itu. Aish. Hyera menyodorkan air putih untuk diriku. Aku mengambilnya dan meminumnya. Tatapan itu masih seperti tadi. Aish. Demi ibu yang ada disurga, tolong bantu anakmu.

“hmm” ia menatapku meminta penjelasan. Aku mengusap tengkukku, bagaimana ini ? tenang Yoochun. Aku menghela nafas dan mulai menjelaskannya “tadinya aku hanya ingin menyicipi sedikit, tapi karena enak, jadinya tinggal segini ?”

“kau itu tega sekali sih” keluhnya cemas, aku jadi serba salah.

“ia maaf, salah mu sendiri kenapa membuat cake enak” aku mendekatinya yang sedang memasang tampang tak sedap, “alasan macam apa itu ?” pekiknya sambil mencubiti lengaku, aku menariknya dalam pelukanku “arrayo, maaf, aku benar-benar tak sengaja” kataku

Ia terisak ? aish, hanya cake Hyera sayang, kenapa sampai menangis sih ? sayang ? kau gila Yoochun. Aku merutuki diriku sendiri. “kau sih, kau benar-benar menyebalkan. Belum puas melihatku seperti orang bodoh yang tak tahu menahu tentang latar belakang suaminya, tentang masalah suaminya, apa yang dia suka. Ck.. kau, sudahlah” setelah berteriak dan membentakku, ia menghentakkan kakinya kekamar. Dan aku terdiam melihatnya seperti itu.

Oke mungkin aku memang salah. Tak memberitahukan apa yang aku rasakan, apa yang aku inginkan, bagaimana perasaan hatiku. Apa kehidupanku sudah baik. Aku bukan menutup dirinya, bukan tak mau melibatkan dirinya dalam kehidupanku. Aku hanya tak terbiasa dengan semua ini. semua butuh proses kan ? heh. Aku menghela nafas dan pergi kedapur. “Ajjuma” sapaku pada Lee Ajjuma yang sedang membuat salad buah.

Ia melihatku dan tersenyum “baru kali ini aku melihat Nona Muda seperti itu” aku mengangguk

“benar, mengerikan” kataku bergidik

“wajar saja Tuan Muda. Ah kau tahu sebenarnya dia sudah menyiapkan cake coklat untuk anda, tapi anda malah memakan cake milik Tuan Besar” kekeh Lee Ajjuma. Aish. Kenapa malah cake ayah yang aku makan sih.

“pantas dia sampai ngambek” kataku.

“Tuan sih, tidak mau bersabar.”

“hmm…”

Aku berbalik. Rasa bersalah tiba-tiba datang menyusup dalam hatiku. Heh. Aku melangkah meninggalkan dapur, beranjak kekamar dengan jantung berdegup.

Aku mengetuk pintu kamar, yang ada hanya isakan kecil. Dia menangis ?. Aku membuka knop pintu yang memang tak dikunci olehnya dari dalam. Kulihat ia duduk di sofa merah panjang. Aku tersenyum duduk disebelahnya “aku minta maaf” ucapku tulus

Ia masih menutup wajahnya dengan lutut yang tertekuk, aku mengelus rambut hitam panjangnya. Nafasnya masih terdengar sesunggukkan. “baiklah aku minta maaf” Yoochun mengelus rambut panjang milik Hyera.

“kau maukan memaafkan aku ? aku tahu sikap ku beberapa hari ini membuatmu tak nyaman” Hyera masih terdiam, mendengarkan penuturan lelaki disampingnya.

“lusa aku harus pergi karena perjalanan bisnis. Aku tak mau kita masih bertengkar saat aku pergi, jadi aku minta maaf”

“bisakah kau tinggalkan aku sendiri ?” Hyera mengucapkan itu dengan suara yang lirih dan serak

Yoochun mengangguk “baiklah” Yoochun menghela nafas, lalu berjalan kearah pintu kamar.

Blam.

Pintu tertutup sempurna Hyera menyeka air matanya. “kenapa aku harus menangis dihadapannya sih?” rutuknya sendiri.

Di ruang kerja Tuan Park

Lee Ajjuma melaporkan perihal pertengkaran antara Yoochun dan Hyera, Tuan Park hanya tersenyum, wajar mereka bertengkar, melihat bagaimana sikap Yoochun yang tergolong sibuk menyendiri, sedangkan Hyera adalah tipikan wanita yang perhatian.

“jadi apakah Yoochun mengatakan sesuatu padamu ?” tanya Tuan Park

“hanya mengeluh saja, seperti tidak tahu Chunie” ucap Lee Ajjuma

Tuan Park mengangguk “yah, kebiasaan ibunya” kekehnya.

“benar, tidak jauh beda dengan Nyonya.”

“tolong kau nasehati dia, agar tidak terlalu egois dengan dirinya” Lee Ajjuma mengangguk, lalu tersenyum.

Yoochun’s  Pov

Setelah seharian keluar untuk menenangkan pikiran akhirnya aku putuskan untuk pulang kerumah, aku rasa saat ini ia sudah tidur.

Aku membuka knop pintu kamar, dan benar ia tengah tertidur dengan pulas disana, matanya terpejam sempurna dengan bantal sebagai penyanggah untuk dipeluknya. Aku membasuh diriku kemar mandi lebih dahulu baru akan berbaring untuk mengistirahatkan tubuhku.

Pagi sekali kulihat Hyera sedang membantu Lee Ajjuma menyirami tanaman dihalaman. Mungkin karena hari ini adalah weekend. Semenjak pertengkaran kemarin kami lebih memilih diam.

Aku turun kebawah memilih untuk membuat susu coklat sebagai sarapanku, biasanya sebelum kami bertengkar Hyera yang membuatkan roti panggang dan susu coklat. Tapi sekarang, hidupku seperti duda, membuatnya sendiri.

Lee Ajjuma ? seperti biasa ia lebih memilih membela Hyera. malangnya nasibku. Aku mengambil kotak susu di dalam kulkas dan menuangkannya kedalam gelas kaca transparan.

Saat aku akan meneguk susu coklatku, Hyera masuk kedalam, lalu membasuh tangannya, ia menghampiri “Aku meminta izin untuk pergi makan malam dengan kedua adikku” ia berkata cepat, sehingga aku harus mencerna setiap ucapan yang keluar dari bibir mungilnya.

“eoh, kalian makan malam dimana ?” tanyaku lagi.

“di tempat Jaejoong Oppa”

“Oppa ?” gumamku lagi “aku ikut” kataku lagi, ia mendongak. Aku menatap matanya “kenapa ?” tanyaku lagi

“kau yakin ?” tanyanya, aku mengangguk

“baiklah terserah padamu sajalah.” Ia lalu meninggalkan diriku didapur. Aku mengendikkan bahuku lalu kembali keruang kerjaku. Mengerjakan tugas kantor.

Hyera’s  Pov

Sebelum berangkat untuk makan malam, aku menjemput kedua adikku. Kulihat Yoochun sedang memakai kemeja hitamnya, dan mengambil jaket kulit yang tersampir didalam lemarinya.

“aku sudah siap” ucapnya.

Aku mendongak melihatnya, kalau aku dan dia tidak dalam keadaan bertengkar mungkin aku akan memujinya tampan.

Aku melangkah mendahui dirinya, oke mungkin aku terlalu berlebihan hanya gara-gara sebuah cake yang dimakannya secara tak sengaja. Tapi tetap saja aku masih kesal dengannya. Aku paham jika dia memang belum mau menceritakan segalanya padaku, tapi paling tidak dia harus membuka dirinya, jangan tertutup seperti itu. Pantas saja dia tak pernah punya pacar.

Aku membuka pintu mobilnya dengan kasar. Dan menutup nya keras, hingga berbunyi debaman yang cukup keras, ia tersentak dan mengelus dadanya.

“ya Tuhan,mobilku bisa lecet” ia bergumam saat masuk kedalam mobil. Lalu memasang sabuk pengaman dan kami pergi kerumah ibuku.

Sesampainya disana, aku masih menggunakan jurus ampuh, yakni diam. Semoga saja dia bisa mengoreksi kesalahannya. Jiyoung dan Jeong menyambut kedatanganku dengan Yoochun. Aku berusaha menyembunyikan kekesalanku pada kedua adikku

“Noona… aku kangen” mereka langsung memelukku dengan erat, aku tersenyum pada mereka

“maaf ya, makan malam nya telat” Yoochun membuka suara, mereka lalu melepaskan pelukkanku, dan memandang Yoochun

“ne Hyung santai saja. Kami mengerti kok, yang namanya pengantin baru pasti sibuk terus” Jiyoung berkata seenaknya, aku jitak kepalanya. Ia mengaduh kesakitan

“Noona, ya Tuhan” ucapnya dengan mimik aneh, aku hanya mencibir. Dasar selalu saja seperti itu.

“ibu mana ? aku mau pamit dengannya” kataku lagi

“ada didalam sedang merangkai bunga untuk pelanggan”

Aku meninggalkan Yoochun yang sedang bercengkrama dengan Jeong, aku masuk kedalam disana aku melihat ibu dan ayah. Aku langsung menghambur memeluk mereka.

“bogoshipo” ucapku. Mereka tersenyum dan mengelus punggungku sayang.

“arraseo, mana menantu kami ?” tanya ayah jahil, aku mengerucutkan bibirku, mendecak kesal

“ada didepan, sedang ngobrol dengan si kembar” kataku lagi

“kalian bertengkar ?” tanya ibu. Pas. Sudah kuduga, pasti hanya ibu yang bisa membaca ekspresi wajahku

“ne, dia menyebalkan” sungutku langsung. Ibu dan ayah hanya terkekeh

“kalian ini, kalian kan sudah menikah. Belajarlah untu memahami satu sama lain” ucap ibu sambil mengelus rambutku

“ibu, seharusnya yang ibu ceramahi bukan aku. tapi menantu kesayangan ibu”

“arrayo, nanti akan ibu ceramahi. Memangnya kalian bertengkar masalah apa ?” tanya ibu lagi.

“hany masalah sepele eomonim” suara itu. Sudah kuduga pasti dia menyusul.

“eoh, selesaikanlah baik-baik. Ibu dan ayah tak mau ikut campur” kata ibu acuh

Aku memandangnya sengit, seolah tak terjadi apa-apa, dia hanya merangkul bahuku “arrayo eomonim, aku akan menyelesaikannya dengan Hyera” ia tersenyum.

Aish, kenapa dari samping ia terlihat tampan ya ?

Bodoh, kalian sedang bertengkar Hyera, jangan pernah memujinya lagi.

Aku berjalan mendahuluinya, lalu masuk kedalam mobil, diikuti tatapan aneh dari kedua kembaranku. Kenapa melirikku seperti ini sih.

Aku pura-pura menyibukkan diri dengan membuka ponsel dan bermain games.

Yoochun masuk lalu memasang selt beltnya.

“Hyung, kita kerumah temanku sebentar ya, ini alamatnya” Jeong memberikan kertas kecil pada Yoochun, Yoochun mengambilnya lalu tersenyum.

“hmm.. teman wanita kah ?” isengnya, bola mata nya mengerling nakal menggoda Jeong yang sudah salah tingkah. Jiyoung dan aku mau tak mau tertawa melihatnya, mukanya sekarang sudah dikategorikan memalukan…

Yoochun mengalihkan pandangannya padaku, lalu tersenyum lagi. Ia menstarter mobilnya dan bergerak kealamat yang tertera dikertas.

Setelah menjemput Yeoja Chingu Jeong, kami langsung pergi ke Jae’s Cafe. Yoochun langsung memilih tempat  indoor katanya lebih menarik, disana juga ada penyanyi panggung yang membawakan lagu romantis, penghangat suasana.

“kalian mau pesan apa ?” tanya Yoochun pada kami, kulirik meja kami, tak ada list menu bagaimana bisa memilih ? aku memutar mata padanya

“tak ada listnya Yoochun” kataku, ia hanya nyengir kuda

“ah lupa, sebentar yaa” ia langsung melesat kedalam. Jeong yang heran melihatnya bertanya padaku

“Hyung sepertinya sudah hapal keadaan disini ya Noona” ucapnya, aku mengangguk asal, bagaimana tak hapal, disinikan daerah kekuasaaannya plus dengan 4 anggota lainnya.

“ah, ini daftarnya.”Yoochun menyodorkan list menu pada kami. Aku memilih makanan yang ringan saja ditambah Orange Juice, Jeong dan Jiyoung memilih daging asap dan cola.

“hyung, kenapa kau bertingkah seperti pelayan ?” Jiyoung mengeluarkan suaranya

“perasaanmu saja, sebentar ya, aku ambilkan menu kalian” Yoochun langsung pergi dari hadapan kami.

Yoochun’s  Pov

Aku hanya tersenyum melihat tatapan Hyera yang benar-benar tak bersahabat. Oke mungkin ia masih kesal denganku. Aku menarik nafas dan memberikan catatan pesanan pada pelayan Jaejoong hyung. “tolong ya, nanti biar aku saja yang mengantarkan makanannya” ucapku, ia hanya mengangguk.

“Hyung” seseorang menepuk pundakku, aku menoleh mencari siapa pelakunya. Ternyata Changmin.

“ada apa ?” tanyaku padanya, ia hanya nyengir kuda

“dengan kakak ipar ya hyung ?” tanyanya

Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. “ah kalau begitu, aku boleh bergabung tidak ? aku dan Junsu Hyung sendiria, seperti pria singel yang ditinggal kekasih” gerutunya

“bukankah kalian memang pria singel” ledekku, Changmin mendengus kesal

“hahaha… arrayo, mereka disana, langsung saja kesana” ucapku, lalu menunjuk bangku nomor 08. Changmin mengangguk dan pergi dari hadapanku

“maaf sajangnim, ini pesanannya” aku mengambil nampan yang tadinya dipegang oleh pelayan. Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih. “ah, Jaejoong hyung mana ?” tanyaku

“eoh, Jaejoong sajangnim sedang bersiap.”

“bersiap untuk ?”

“dia mau perform, katanya edisi khusus” aku terkekeh saja mendengar penuturan pelayan itu. Aku langsung pamit, menuju kemeja Hyera

Aku meletakkan makanan-makanan itu dimeja.

“Changmin-a, Jaejoong hyung tadi malam mimpi apa, sampai dia ingin perform disini ?” tanyaku

“molla, kami berdua juga bingung. Katanya dia mau menyatakan perasaanya malam ini” aku hanya terkekeh

“memalukan saja”

“hyung, demi cinta tak ada kata memalukan” Jeong mulai membuka suara, aku menatapnya tak percaya.  Hyera mengulum senyum. Apa masih marah ?

“benar, Jeong-a. dalam kamus percintaan itu hal memalukan adalah hal yang romantis” Junsu menimpali, sambil melihat stage yang tak jauh dari kami. Disana ada Jaejoong Hyung yang sedang mengatur nada. Kulihat ia sedikit gugup disana. Aku hanya tersenyum.

“Jika aku diberi pilihan dalam kehidupan antara cinta atau ambisiku, aku akan memilih ambisiku. Tapi sayang itu dulu. Dulu sebelum kau terlalu jauh masuk kedalam kehidupanku, memporak – porandakan seluruh pertahan hatiku.” Ia memberikan jeda, tak sengaja mataku manatap Hyera yang sepertinya menganggumi cara Jaejoong hyung menyampaikan perasaannya.

Aku menunduk. Apa aku seburuk itu sebagai suami. Sekalipun aku tak pernah melihat dirinya memandang kagum padaku.

Aku menghela nafas.

Terlalu buruk. Mungkin juga. Aku menoleh lagi, melihat Jaejoong hyung yang melanjutkan ucapannya.

“Jika aku katakan kau yang terbaik untuk disisiku, apakah kau akan menerima setiap bagian dari diriku ?” matanya tajam memperhatikan wanita yang tengah berdiri dengan dress putih, rambutnya terurai sepunggung. Dari samping ia terlihat anggun.

“Sebelum aku bertemu denganmu, aku pernah merasakan jantung ini berdetak, menandakan aku mencintai dia. namun saat aku bertemu denganmu, aku merasakan hal yang jauh lebih parah, bukan hanya sekedar berdetak. Seluruh organku malah tak pernah berfungsi sebagai mana mestinya. Atau bahkan lebih parah. Kau ingat saat kau menarik tanganku dan aku malah membentakmu ? sungguh itu hanya kecelakaan karena aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Lidahku terlalu kelu untuk berbicara lembut, jantungku sudah berpacu dengan denyut nadiku.”

Jaejoong Hyung menunduk,

Petikan gitar yang dilakukan oleh Yunho hyung menggema,

From the moment I met you I just knew you’d be mine

You touched my hand and I knew that this was gonna be our time

I dont ever wanna lose this feeling,

I don’t wanna spend a moment apart

‘Cos you bring out the best in me,

like no-one else can do

That’s why I’m by your side,

that’s why I love you

Petikan gitar itu terhenti.

“aku berdiri disini, bukan tanpa rasa takut dan pesimis. Aku bahkan merasa, aku terlalu lemah, untuk mengatakan bahwa aku menyukaimu. Aku terlalu takut, jika ternyata rasaku bertepuk sebelah tangan. Tapi mereka, sahabatku, teman, dan keluargaku memberikan aku sugesti. Bahwa cintu diibaratkan dengan judi. Ya, Menjudikan perasaan, jika kau diterima maka kau menang, tapi jika tidak, maka kau harus menerima semuanya dengan lapang dada, bersikap selayaknya lelaki”

Jaejoong hyung melangkah mendekati wanita itu, semua mata tertuju pada mereka berdua. Mata pengunjung berbinar terang, melihat sikap Jaejoong hyung yang tergolong sangat berani, menyatakan segalanya didepan umum. Kalau aku jadi dia mungkin aku akan memutar otak selama beratus kali. Ditolak didepan umum itu terlalu beresiko.

“so, could you be mine ?” tanya Jaejoong Hyung.

Wanita itu hanya terdiam. Memandang Jaejoong hyung yang berlutut membawa bunga putih-aku tak tahu namanya.

Wanita itu mengangguk. Tepuk tangan riuh kembali menggema diluar dan didalam ruangan. Aku yang menyaksikannya ikut lega.

Tak lama, kembang api bertebaran diatas langit. Seperti perayaan tahun baru, mereka semua melihat kembang api warna-warni yang mencolok dilangit, mengalahkan cahaya bintang.

Aku berdiri, diikuti Changmin, Junsu memberikan selamat pada Jaejoong hyung “aku tunggu udangan pernikahan nya hyung” kekehku, lalu menyalami wanita yang membuat Jaejoong menjudikan martabatnya.

“chukae” kataku padanya, ia mengangguk dengan senyum merekah sempurna.

Hyera juga mengikuti gerakan kami, setelah kembali ketempat duduk asal kami, kulihat Hyera tertawa dan berbicara cukup serius dengan Jaejoong hyung.

Tak lama Jaejoong hyung langsung melesat kedepan, mengambil microfon

“hmm… baiklah, jika tadi aku berjudi untuk mendapatkan hati wanita yang sekarang menjadi kekasihku. Maka sekarang aku akan menantang sahabatku untuk memberikan sebuah lagu kepada istrinya” aku menoleh kesana kemari. Siapa. Aku ?

“Park Yoochun, Managing Director Park Interior kemarilah.” Ia mengerlingkan matanya padaku.

Sialan.

Kenapa aku juga kena getahnya sih ?

Menyebalkan.

Kulirik Hyera yang tengah berdiri disamping wanita itu. “Hyung, ayoo hyung aku ingin mendengra suaramu” Jiyoung menyenggol lenganku. Sungguh sekarang aku gugup.

Aish. Lebih baik aku menjelaskan proposal kerjaan dari pada harus menyanyi didepan semua orang.

Aku memandang kikuk Hyera yang tengah tersenyum sinis padaku. Hyera tega sekali sih dirimu. Aku berjalan melewati Hyera, kudengar ia membisikan sesuatu padaku

“kalau kau bisa membuatku terpukau, aku akan memaafkanmu. Tapi sepertinya kau sudah demam panggung. Jadi kemungkinan aku memaafkanmu 99% terancam gagal”

Aku mendengus “kau benar-benar ya.” Ia hanya tertawa lirih.

Sesampainya didepan panggung, aku bingung sendiri. Aku mau menyanyikan lagu apa ? pikirku dalam hati. Aku mendekati piano yang terletak disudut.

Aku mulai menekan tuts piano, dan menyanyikan liriknya

For all this time
I’ve been lovin’ you girl
Oh yes I have
And ever since the day
You left me here alone
I’ve been trying to find
A reason why

So if I did something wrong please tell me
I wanna understand
‘Cos I don’t want this love to ever end

And I swear
If you come back in my life
I’ll be there ’til the end of time
(Back to me, back to me, back into my life)
And I swear
I’ll keep you right by my side
‘Cos baby you’re the one I want
(Back to me, back to me, back into my life)
Oh yes you are

I watched you go
Takin’ my heart with you
Oh yes you did
Every time I try to reach you on the phone
Baby you’re never there
Girl you’re never home

So if I did something wrong please tell me
I wanna understand
‘Cos I don’t want this love to ever end
No, no, no, no

And I swear
If you come back in my life
I’ll be there ’til the end of time
(Back to me, back to me, back into my life)
And I swear
I’ll keep you right by my side
‘Cos baby you’re the one I want
(Back to me, back to me, back into my life)
Oh yes you are

Maybe I didn’t know how to show it
(How to show it)
Maybe I didn’t know what to say
(What to say)
This time I won’t disguise
(Won’t disguise)
Then we can build our lives
And we can be as one (be as one)

I swear
If you come back in my life
I’ll be there ’til the end of time
(Back to me, back to me, back into my life)
Oh yeah
And I swear
I’ll keep you right by my side
(By my side)
‘Cos baby you’re the one I want
(Back to me, back to me, baby come back)
Oh yes you are, by my side

And I swear
If you come back in my life
I’ll be there ’til the end of time
(Back to me, back to me, back into my life)
Oh yeah
And I swear
I’ll keep you right by my side…

Selesai menyanyikan lagu ini, aku mengambil microfonku. Aku coba mengatakan apa yang ada dalam lirik lagu ini “jika aku membuatmuu kecewa, walaupun itu hanya sekali. Aku minta maaf, dan jika aku belum menyadari hal yang membuatmu kecewa padaku. Aku mohon beritahu aku. karena aku bukan tipikal lelaki perasa seperti wanita. Aku tahu perbedaan cara pandang kita sangat menguras emosimu. Jadi berikan aku kesempatan untuk lebih memahamimu, kesempatan untuk menjagamu, hingga aku telah tiada”

Aku membungkuk memberikan tanda hormat. Semuanya bertepuk tangan padaku. Kulayangkan pandanganku padanya. Ia hanya tersenyum. Dan mengacungkan jempolnya padaku.

Aku mengusap mukaku malu. Ya Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan. Aku hanya tertawa dalam hati. Menyenangkan, dan menegangkan sekali.

“suaramu bagus Hyung. Untuk tidak memalukan kami semua” Jiyoung mengoceh didepanku. Aku tergelak meninju kecil bahunya

“Gumawo.” Kataku lalu merangkul bahunya

“ah, tadi noona menangis lho hyung.” Bocor Jiyoung

“ah benarkah ? bagus kalau begitu” kataku lagi. Jiyoung mengangguk.

Kami duduk ketempat kami kembali, kulihat mereka- Jaejoong hyung,Yunho hyung, Hyera dan kekasih Jaejoong hyung mendekat.

“woah makan-makan” kata Changmin sambil menatap makanan yang tersaji didepan kami

“hyung, kaukan baru jadian, jadi harus ada pajak  Jadiannya, maka beri aku diskon 100% untuk menu spesial malam ini. dan kau hyung” Changmin menunjuk kearahku “kau juga baru berbaikan dengan kakak ipar, jadi bungkuskan aku makanan yang banyak malam ini. sungguh aku kelaparan saat mendengar kalian mengoceh didepan” gerutu Changmin. Aku mengglengkan kepalaku.

“dasar tukan makan” seru kami berempat

Ia melihat kami dengan tatapan horor “yang penting aku hidup dan tak sengsara kerena cinta” ia lalu memakan spageti buatan Jaejoong hyung.

“lakukan sesukamu sajalah” Yunho Hyung diikuti yang lain duduk di tempat kami, Hyera memilih duduk disebelah Jeong dan pacarnya.

Paling tidak usahaku untuk meminta maaf padanya sudah tercapai.

TBC….

Hah…*lapkeringetsuami*lirikjunsu*

Huaa… maaf yaa telat banget bwat publis nii chapter, otak mentok banget-banget-banget….

BTW, sebenarnya aku udah mau ambil keputusan buat nggak ngelanjutin nii cerita… aku aja nulisnya ampe bosaaaan, abis alurnya lambat banget, bertele-tele, dan belum nyampe klimaks, takutnya readers pada ngamuk sama aku.. -__-‘’

Eya…. aku uda slesai UN nii…*tebarbunga7rupa*

Tapi masih belum tahu gima hasilnya, semoga baik*aminyarab*

Dan untuk Broken Married, aku bingung sendiri, konfliknya banyak banget, dan harus kita*kita ???* selesaikan satu-satu. Berkemungkinan bakalan panjang, dan pake logika.*plak* pdahal aku sama sekali nggak pernah bisa pelajaran logika matematika*timpuksandal*

Jadi klo kebingungan sama konflik nya, ntar tanya2 aja ama aku yak… hahaha

Oke deh sekian dan terima kasih.. see you 😀

Ps :maaaff telat publishnya, soalnya inet akuu ngelet baaangeeett…*bowwwww*

Iklan

12 thoughts on “FF Always Be Mine ‘Step 07’

  1. qoyah cassie berkata:

    eonnie!!!!seru!!!!
    duda??
    pria single??
    hhaha,lgu buat uchun yg mrasa duda..”masak masak sendiri”hhaha,dangdutan..
    lagu buat minsu pria single..”ibu2 bpk2 yg pna ank tolong aq,..”g hapal lnjtanx..hhaha
    kyaaa!!!jeje aq minta PJ jg..hha,klo bsa sich sama dgn mimin..hhaha,
    lanjut eonn!!!!!!!!!!!!!!!!
    hhaha,,oya jgn tebar bunga 7rupa..mending tebar bunga bank!!!hhaha

    • Vii2junshu_kim berkata:

      hahaha…
      enak ajj aku nebarin bunga bank, bisa bangkruutt doong XD
      nyahahaha…
      ia juga ya, tapi miminya uda di booking temen aku tuh, dia suka bangeett sama mimin, apalagi ekspresinya pas lagi makan*kentara orang kelaparan.. hahaha

      siip2… tunggu aja wangsit dari suami y*plak*

  2. noonacomplicated berkata:

    kyaaaaa akhir.a update uga °\(^▿^)/° *cipopchunnie*
    eh semalat buat suami gue yang habis menang penghargaan dan tetep semangat buat adik ipar *pelukyoohwan*
    bagus nich cerita.a ,, iia walaupun alur.a lambat tapi masih bisa diubah / di skip jja 🙂
    JANGAN SAMPAI INI CERITA BERHENTI DI TENGAH JALAN !!! KALAU BERHENTI SIKSA JUNSU !!!! *asah samurai*

    • Vii2junshu_kim berkata:

      kyaaaaaaa…
      ia eon.. maaf ya baru sempet uplod, sebenarnya uda dari minggu kemarin pingin uplod, tapi inet nggak memungkinkan..
      siip2..
      ntar aku coba skip eon.. gumawo ya eon 🙂

      ey.. jangan siksaa adekk ipar sendirii eon..*selundupinjunsu* haha

  3. shinhyunrin berkata:

    oohhh akhirnya nongol juga ini part
    aku nunggu ckp lama nih wkwk dri sblm ujian ampe ujian selesai #curcol . .

    seru thor makin bagus cerita’a makin penasaran juga sma jalan crta’a lanjutkan thor:)

    oh ya koreksi masih ada beberapa kata yg kurang lengkap penulisan’a 🙂

    • Vii2junshu_kim berkata:

      hahaha…
      mian mian*bungkuk breng suami*lirik chunie*plak
      sebenernya uda lama mau publis cuma jaringan inet aku lagi ngelet banget. jadinya nggak bisa publis

      ia, makasih koreksinya.
      kemarin uda aku betulin, eh karena inet nya ngadat jadi problen loading page trus.. :((
      jadi males mau ngedit lagi.. hahaha

      gumawo uda mampiir ya 🙂

  4. rinrin berkata:

    anyeong chingu, aku juga habis un dan mempersiapkan SNMPTN. semoga kita berhasil ya… Krn bosen aku berkelana dan nemuin ni blog, rame bgt!! jangan berhenti ditengah jalan please. chingu Hwaiting!!

  5. Shamusuki berkata:

    Akhirnya baikan juga. ..
    Ampun Changmin, segitu terobsesinya kah dengan makanan?? Curiga changmin nikah sama orang yang jago masak xp

  6. hiru berkata:

    wahhh seru banget ya part kali ini..
    aku mau tanya lagu yang tadi dinyanyiin sama yuchun judulnya apa?

  7. yani berkata:

    wawww serasa masuk ke alur cerita authornya
    aku suka banget part yang terakhir pas yoochun nyanyiin buat istrinya..so sweet

Your Comment become spirit for me ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s